Perang Iran–Israel Memukul Gaza: Harga Melonjak, Penduduk Palestina Tak Mampu Membeli Makanan

Keluarga Palestina berbuka puasa Ramadan di kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah, 26 Februari 2026. (Foto: AFP/Eyad Baba)

Gaza, SPNA – Kekurangan pangan dan lonjakan harga melanda Gaza setelah Israel menutup seluruh perlintasan masuk wilayah tersebut. Ketika perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai pekan lalu dan akses perbatasan Gaza ditutup, kepanikan segera menyebar di wilayah kantong berpenduduk padat itu. Banyak warga khawatir bencana kelaparan akan kembali terjadi.

Penduduk Palestina bergegas ke pasar untuk menimbun kebutuhan pokok. Harga berbagai barang melonjak tajam dan sejumlah komoditas penting, terutama sayuran, mulai langka, menandai dampak langsung dari penutupan perlintasan.

Gaza hampir sepenuhnya bergantung pada perlintasan perbatasan untuk masuknya makanan dan barang kebutuhan pokok. Karena itu, setiap penutupan mendadak segera tercermin dalam harga pasar dan beban pengeluaran rumah tangga.

Bagi Ibrahim Madoukh, ayah delapan anak yang tinggal di kawasan Al-Sahaba, Kota Gaza, lonjakan harga sudah mulai mengguncang kehidupan keluarganya yang rapuh.

Sejak gencatan senjata pada Oktober lalu, Madoukh berjualan falafel di sebuah lapak kecil untuk menghidupi keluarganya. Permintaan sempat stabil, katanya, terutama karena ia menjaga harga tetap murah.

Kenaikan harga bahan baku memaksanya menaikkan harga jual. Di sisi lain, pelanggan—yang sebagian besar juga tengah kesulitan ekonomi—membeli lebih sedikit.

“Kondisi ekonomi di Gaza terus memburuk sejak perang,” kata Madoukh. “Banyak orang tidak lagi mampu membeli apa yang tersedia di pasar.”

Setelah mendengar kabar penutupan perlintasan, Madoukh bergegas membeli bahan sebelum habis. Namun ia mendapati pasar dipadati warga yang melakukan hal serupa.

Kenaikan harga terjadi seketika dan sangat drastis. Harga bawang yang sebelumnya tiga syikal (sekitar 17 ribu rupiah) per kilogram kini melonjak menjadi 15 syikal. Minyak goreng naik dari lima syikal menjadi 13 syikal, sementara harga peterseli melonjak hingga delapan kali lipat.

“Para pedagang mengatakan harga naik karena perlintasan ditutup dan pasokan mulai menipis,” ujarnya.

Madoukh pun terpaksa menaikkan harga falafelnya: dari dua potong seharga satu syikal menjadi satu potong seharga dua syikal. Meski demikian, banyak keluarga tetap tidak mampu membelinya.

“Sebelum perlintasan ditutup, anak-anak pengungsi sering datang ke lapak saya meminta falafel karena lapar dan tidak punya uang. Dulu saya memberikannya, tapi sekarang tidak bisa lagi. Saya sendiri sudah merugi,” katanya.

Madoukh khawatir akan segera menutup usahanya jika harga terus naik atau bahan baku benar-benar hilang dari pasar.

“Saya hanya punya persediaan untuk satu minggu,” katanya. “Jika situasi seperti ini berlanjut, kami bisa menghadapi kelaparan yang sama seperti sebelumnya.”

“Hidup Kami Sudah Seperti Neraka”

Israel menutup seluruh perlintasan menuju Gaza pada Sabtu (28/02/2026) lalu, menghentikan pergerakan orang, bantuan, dan barang, tak lama setelah perang dengan Iran pecah.

Perlintasan Karem Abu Salem dengan Israel sebagian dibuka kembali pada Selasa (03/03), memungkinkan masuknya bahan bakar dan bantuan kemanusiaan dalam jumlah terbatas. Namun perlintasan lain, seperti Rafah di perbatasan Mesir, masih tetap ditutup.

Perserikatan Bangsa-Bangsa mendesak agar lebih banyak perlintasan dibuka kembali guna memperluas dukungan kemanusiaan, terutama karena banyak organisasi kemanusiaan di Gaza menghadapi berbagai pembatasan.

Tak jauh dari lapak falafel Madoukh, Ahmed al-Shoubaki (39) terlihat menimbun bahan makanan untuk keluarganya. Ia membawa kantong besar berisi makanan kaleng, tahini, ghee, rempah-rempah, dan minyak zaitun, sambil menanyakan harga gula kepada seorang pedagang.

“Sejak perlintasan ditutup pada Sabtu, saya datang ke pasar setiap hari untuk membeli apa pun yang bisa saya simpan di rumah,” kata Shoubaki kepada Middle East Eye.

“Saya dan istri sepakat menyimpan bahan pokok seperti tepung, minyak goreng, dan makanan kaleng. Kami hanya membeli kebutuhan harian selama masih tersedia.”

Sebelum perang Israel di Gaza, Shoubaki bekerja sebagai tukang cat. Namun kelangkaan bahan membuatnya harus berganti pekerjaan. Ia membuka lapak makanan kecil yang menjual kebab dan ayam panggang, tetapi terpaksa menutupnya bulan lalu karena penjualan terus menurun.

Kisahnya mencerminkan pengalaman ribuan penduduk Palestina di Gaza yang kehilangan mata pencaharian setelah berbagai sektor ekonomi berhenti beroperasi.

“Kondisi ekonomi di Gaza sudah runtuh. Tidak ada pekerjaan, jadi orang tidak mampu menghadapi kenaikan harga,” ujarnya.

“Ketika saya mendengar tentang perang dengan Iran, saya menghabiskan lebih dari 17 juta rupiah, hampir seluruh tabungan saya, untuk membeli persediaan makanan selama sebulan. Saya tidak tahu bagaimana nanti, tapi saya harus melakukannya. Anak-anak saya menangis kelaparan Ramadan lalu; saya tidak ingin itu terulang.”

Shoubaki mengecam penderitaan yang dialami Gaza, yang menurutnya tidak terlibat dalam konflik Iran–Israel.

“Mengapa Gaza harus membayar harga dari perang yang tidak kami ikuti? Hidup kami sudah seperti neraka akibat blokade, kehancuran, dan kelaparan.”

“Bahkan kematian mungkin lebih berbelas kasih daripada terus hidup dalam penderitaan ini. Saya khawatir perlintasan akan tetap ditutup lama, dan penderitaan kami hanya akan berlanjut.”

Keluarga Rentan Paling Terdampak

Meski banyak penduduk bergegas menimbun makanan, sebagian besar penduduk Palestina di Gaza hanya mampu membeli kebutuhan untuk satu hari saja karena harga terus melonjak dan daya beli merosot tajam.

Rana Rajab (38), ibu enam anak, khawatir penutupan perlintasan akan memicu kembali bencana kelaparan. Namun keluarganya tidak mampu membeli lebih dari kebutuhan harian.

Suaminya bekerja sebagai mekanik dengan upah harian, sehingga penghasilan dan kemampuan membeli makanan berubah dari hari ke hari.

“Sejak gencatan senjata dimulai, kami hidup dalam kemiskinan dan kelaparan,” kata Rajab kepada Middle East Eye.

“Jika suami saya bekerja, kami membeli makanan. Jika tidak, kami bergantung pada dapur amal atau bantuan apa pun yang bisa kami temukan.”

Kenaikan harga semakin memperburuk keadaan. Banyak barang, terutama sayuran, harganya sudah dua kali lipat.

“Saya punya enam anak perempuan. Tahun lalu saat terjadi kelaparan, anak bungsu saya, Haya, yang berusia lima tahun, terkena hepatitis dan harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.”

Rajab kini mulai mengurangi jumlah dan porsi makan keluarganya untuk mengantisipasi kemungkinan kekurangan pangan yang lebih parah.

“Sebelum perang di Gaza, selama Ramadan kami makan ayam, ikan, atau daging setiap hari. Saya memasak berbagai hidangan, kadang dua jenis dalam sehari, dan berbagi makanan dengan kerabat serta tetangga,” katanya.

“Sekarang kami bahkan hampir tidak mampu menyediakan makanan (pokok) untuk diri kami sendiri.”

Ia mengaku terkejut dengan harga pasar saat ini.

“Kemarin harga ayam mencapai 46 syikal (sekitar Rp240 ribu) per kilogram, lebih dari dua kali lipat harga biasanya yang sekitar 20 syikal (sekitar Rp105 ribu). Saya tidak mampu membelinya, jadi kami makan lentil yang saya simpan, meski anak-anak tidak menyukainya karena mengingatkan mereka pada kelaparan tahun lalu.”

Rajab khawatir setiap krisis selalu lebih berat daripada sebelumnya.

“Setiap kali kami mengalami kelaparan, keadaannya selalu lebih buruk. Kami berharap Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kekuatan internasional menekan Israel agar mengizinkan barang dagangan dan bantuan masuk ke Gaza. Kami tidak bertanggung jawab atas perang antara Israel dan siapa pun, tetapi kamilah yang menanggung akibatnya,” ujarnya.

(T.FJ/S: MEE)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya