Gaza, SPNA – Ummu Siraj al-Muzeini sedang menyiapkan sup untuk anaknya yang sakit ketika mendengar keributan di luar tenda tempatnya tinggal di Gaza bagian barat, Kota Gaza.
Orang-orang berlarian sambil saling memanggil. Mereka berulang kali bertanya, “Berapa lama waktu yang kita punya?”
Suara itu terasa akrab baginya. Dalam hati, ia berdoa agar firasatnya keliru.
“Perintah evakuasi untuk seluruh blok,” kata seorang tetangga yang juga mengungsi. Muzeini segera mengumpulkan barang-barangnya dan bersiap melarikan diri bersama anak-anaknya.
Dalam ketakutan dan tanpa waktu untuk memilah barang yang perlu dibawa, janda itu menggendong anak laki-lakinya lalu bergegas keluar dari tenda.
“Saya berlari sambil membawa anak saya, tetapi tidak tahu harus pergi ke mana. Saya tidak siap menghadapi ini, terlebih karena perintah evakuasi terakhir di daerah saya dikeluarkan sebelum gencatan senjata,” kata Muzeini kepada Middle East Eye. Ia berasal dari kawasan Syujaiya, Gaza bagian timur, Kota Gaza.
“Seluruh warga di daerah itu melarikan diri, termasuk penduduk setempat dan orang-orang yang mengungsi di tenda-tenda. Sebagian pergi ke rumah kerabat. Saya menunggu bersama anak saya di lingkungan lain sampai kawasan yang terancam itu dibom.”
Tak lama setelah perintah evakuasi dikeluarkan, sebuah pesawat tempur Israel membombardir sebuah bangunan di lingkungan tersebut.
Pengusiran paksa penduduk Palestina dari Blok Al-Abbas di Gaza bagian barat, Kota Gaza, pada 8 September merupakan satu dari serangkaian perintah pengusiran yang dikeluarkan militer Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza yang hancur akibat perang dalam beberapa pekan terakhir.
Perintah serupa juga dikeluarkan di sejumlah lokasi lain pada hari yang sama.
Perintah-perintah semacam itu seharusnya berakhir pada Oktober tahun 2025 lalu, ketika kesepakatan gencatan senjata dicapai untuk mengakhiri genosida Israel di Gaza, menghentikan serangan harian, dan membuka jalan bagi masuknya bantuan kemanusiaan.
Meskipun demikian, Israel berulang kali melanggar kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat tersebut dengan melancarkan serangan hampir setiap hari serta membatasi masuknya bantuan yang sangat dibutuhkan penduduk Palestina.
Hampir setahun berlalu, warga mengatakan genosida masih berlangsung, meski perhatian media terhadap Gaza jauh berkurang.
“Seperti Mengalami Perang Lagi”
Salah satu wujud perang yang terus berlangsung adalah penerbitan perintah pengusiran. Kebijakan ini memperpanjang krisis pengungsian dan tempat tinggal yang diperparah oleh kehancuran besar-besaran rumah-rumah penduduk Palestina akibat serangan Israel selama perang.
Perintah tersebut biasanya tidak memberikan batas waktu yang jelas bagi warga untuk meninggalkan tempat tinggal atau kembali ke rumah mereka. Penduduk Palestina terkadang hanya memiliki waktu beberapa menit atau jam untuk menyelamatkan diri, tanpa kepastian kapan mereka bisa pulang dengan aman. Bahkan, kawasan yang tidak menerima peringatan sebelumnya pun kerap dibombardir. Serangan semacam itu dapat menewaskan dan melukai banyak warga sipil sekaligus.
“Perintah evakuasi itu pada dasarnya hanya bertujuan mengacaukan kehidupan kami dan membuat kami terus berada dalam ketidakamanan, bahkan selama gencatan senjata,” kata Muzeini.
“Saudara perempuan saya meninggal dunia akibat serangan Israel di dekat tendanya di Deir al-Balah bagian timur, ketika gencatan senjata sedang berlangsung.
“Jadi, sebenarnya tidak ada tujuan lain dari perintah evakuasi ini selain mempertahankan keadaan perang. Sejujurnya, saya merasa seperti harus mengalami perang itu sekali lagi.”
Pada 3 September, Rumah Sakit Kamal Adwan dan kawasan di sekitarnya di Gaza bagian utara juga diperintahkan untuk dikosongkan setelah pasukan Israel tiba-tiba bergerak melampaui apa yang disebut sebagai “Garis Kuning”. Peristiwa itu berlangsung di tengah gencarnya tembakan senjata.
Sedikitnya dua penduduk Palestina, termasuk seorang anak, tewas dalam serangan tersebut. Banyak orang lainnya terluka.
Sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan, hampir 1.500 penduduk Palestina meninggal dunia akibat serangan Israel yang terus berlanjut—rata-rata sekitar empat orang setiap hari.
Selain itu, 4.757 penduduk Palestina terluka, menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza.
Ancaman Pengungsian yang Tak Pernah Berakhir
Meskipun demikian, pemboman hanyalah satu dari “tiga sisi terburuk genosida yang kami alami”, kata Ahmed Jendiya, warga Gaza bagian timur, kepada Middle East Eye.
“Dua sisi lainnya masih terus berlangsung: serbuan militer dan pengungsian paksa yang tak kunjung berhenti, serta kelaparan yang terus menghantui kami setiap hari.”
Jendiya, 31 tahun, kehilangan rumahnya di Gaza bagian timur pada tahun pertama genosida. Sejak itu, ia tinggal bersama keluarganya di sebuah tenda yang didirikan di samping reruntuhan rumah mereka.
Sekitar dua bulan lalu, ia menyiapkan tas berisi barang-barang darurat untuk mengantisipasi kemungkinan blok-blok kuning yang digunakan militer Israel sebagai penanda Garis Kuning tiba-tiba dipasang di lingkungan tempat tinggalnya.
“Ketika kami kembali dari wilayah selatan setelah kesepakatan gencatan senjata, Garis Kuning berjarak sekitar satu kilometer dari tempat kami. Sekarang, jaraknya hanya sekitar 200 meter,” ujarnya.
“Setiap malam, rasanya seperti perang telah kembali. Pasukan pendudukan Israel melepaskan tembakan gencar ke arah kawasan kami, dan kami nyaris tidak selamat dari terjangan peluru.
“Seluruh kawasan berubah menjadi medan pertempuran. Yang bisa kami lakukan hanya merebahkan diri di tanah dan melindungi kepala anak-anak kami.”
Jendiya mengatakan, percakapan penduduk Palestina di daerahnya pada malam hari kini berpusat pada satu persoalan: ke mana mereka harus pergi jika Garis Kuning mencapai kawasan tempat tinggal mereka.
“Setiap sore, para lelaki di lingkungan kami berkumpul untuk mengobrol dan membahas berbagai persoalan sehari-hari. Pada pekan-pekan pertama gencatan senjata, kami membicarakan apakah rumah-rumah kami akan dibangun kembali dan apakah kami akan membangunnya sendiri,” katanya.
“Namun, selama enam bulan terakhir, pembicaraan kami berubah. Kami saling bertanya apakah masing-masing punya tempat untuk dituju dan kapan harus memutuskan untuk pergi.
“Pembicaraan ini sama persis dengan yang kami lakukan selama genosida sebelum gencatan senjata. Tidak ada bedanya sama sekali.”

Bayang-bayang Kelaparan
Garis Kuning merupakan batas militer yang ditetapkan secara sepihak dan ditandai pasukan Israel di dalam wilayah Gaza setelah gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada Oktober.
Dalam praktiknya, garis tersebut menjadi zona terlarang yang membatasi akses penduduk Palestina ke wilayah luas di Gaza bagian utara, selatan, dan timur. Warga yang melintasi batas itu menghadapi ancaman penggunaan kekuatan mematikan.
Sejak gencatan senjata berlaku, Garis Kuning terus bergeser ke arah barat, memasuki kawasan permukiman sipil dan kini membentang di sekitar 70 persen wilayah Jalur Gaza.
Setiap kali memperluas wilayah kendalinya, pasukan Israel menandai batas baru dengan menempatkan blok-blok beton berwarna kuning di kawasan yang dihuni warga sipil. Namun, bagi Jendiya, ancaman terbesar bukanlah pengungsian, melainkan kemungkinan tidak mampu memberi makan anak-anaknya lagi.
Meski otoritas Israel membuka kembali sebagian pintu perlintasan bagi barang-barang dan bantuan internasional setelah gencatan senjata, sekitar 1,4 juta orang—64 persen dari total penduduk Gaza—masih menghadapi kerawanan pangan akut pada tingkat krisis atau lebih buruk. Kondisi tersebut masuk kategori Fase 3 atau lebih tinggi dalam sistem Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (Integrated Food Security Phase Classification/IPC).
Sebelum kesepakatan gencatan senjata tercapai, sedikitnya 453 penduduk Palestina, termasuk 150 anak-anak, meninggal akibat malnutrisi parah di Gaza, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Ratusan penduduk Palestina lainnya masih mengalami gangguan kesehatan akibat kekurangan gizi setelah gencatan senjata diberlakukan.
“Banyak jenis bahan pangan beberapa kali dilarang masuk, kemudian diizinkan lagi dalam beberapa bulan terakhir. Situasi ini membuat kami terus diliputi ketidakpastian. Setiap kali memakan sesuatu hari ini, kami khawatir belum tentu bisa mendapatkannya lagi besok,” kata Jendiya.
“Sebagian besar lahan pertanian sudah hancur dan tidak ada lagi ternak yang tersisa. Kami sepenuhnya bergantung pada bantuan dan barang-barang yang diizinkan masuk oleh pihak pendudukan.
“Kami tahu, jika perbatasan kembali ditutup, kami akan mengalami kelaparan lebih cepat daripada sebelumnya.”
(T.FJ/S: MEE)