Gencatan Senjata Tapi Genosida Berlanjut di Gaza: “Tidak Ada Tempat Berlindung dari Kematian”

Penduduk Palestina memeriksa barang-barang mereka di tengah reruntuhan setelah serangan udara Israel yang menghantam blok perumahan di al-Zawayda, bagian tengah Jalur Gaza, pada 11 Oktober 2026. (Foto: Moiz Salhi/APAimages via Reuters)

Gaza, SPNA – Setelah dua tahun menghadapi gempuran dan pengungsian paksa selama genosida Israel di Gaza, Suhaila al-Mabhouh hanya memiliki satu keinginan: pulang ke rumah.

Perempuan Palestina berusia 60 tahun itu begitu merindukan rumah keluarganya di Gaza bagian utara hingga menolak tawaran evakuasi ke Italia yang diajukan putrinya, yang kini tinggal di negara tersebut.

Ketika gencatan senjata yang disebut-sebut sebagai upaya perdamaian mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, Suhaila dan suaminya bergegas kembali ke rumah mereka di Kamp Pengungsi Jabalia.

Ia mulai memperbaiki bagian-bagian rumah yang rusak parah, berharap dapat merajut kembali kehidupannya setelah dua tahun dihantam serangan. Namun, harapan untuk membangun kembali kehidupan itu tak bertahan lama. Israel tetap memberlakukan blokade dan melanjutkan serangan setiap hari.

Dalam waktu delapan bulan, Suhaila jatuh sakit, didiagnosis menderita kanker, lalu meninggal dunia. Ia tak sempat mendapatkan pengobatan di Gaza ataupun berangkat ke luar negeri untuk menjalani perawatan karena pembatasan yang ketat.

Suhaila termasuk di antara ribuan penduduk Palestina yang terus meninggal akibat penyakit atau kondisi yang sebenarnya dapat dicegah. Genosida dan blokade Israel yang berlanjut membuat penduduk Gaza kehilangan berbagai kebutuhan mendasar untuk bertahan hidup.

Gencatan senjata yang kini memasuki tahun kedua hanya sedikit mengubah kondisi yang membuat kehidupan di Gaza terus terancam. Material bangunan, barang kebutuhan pokok, dan bantuan untuk membangun kembali rumah, rumah sakit, serta infrastruktur sipil masih dipersulit dan bahkan ditahan Israel untuk masuk ke wilayah Gaza.

“Sekitar empat bulan setelah kami kembali ke rumah, kondisi kesehatannya mulai memburuk dengan cepat. Kami sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padanya,” kata suaminya, Sami al-Mabhouh (62 tahun), kepada Middle East Eye.

Sami membawa istrinya dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain di Kota Gaza. Namun, fasilitas kesehatan yang kewalahan menangani pasien tidak mampu melakukan pemeriksaan yang dibutuhkan Suhaila.

Pasangan itu akhirnya pergi ke Deir al-Balah, Gaza bagian tengah, dengan harapan mendapatkan pengobatan di sebuah rumah sakit swasta.

“Perjalanan itu sangat sulit. Kendaraan untuk transportasi sangat terbatas sehingga ketika kami tiba, kami sudah kelelahan dan tidak sanggup langsung pergi ke rumah sakit,” kenang Sami.

Mereka bermalam di rumah kerabat di Kamp Pengungsi Bureij sebelum mendatangi rumah sakit keesokan harinya.

“Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan panjang yang menghabiskan banyak uang hanya untuk mengetahui diagnosisnya, dokter memberi tahu kami bahwa ia menderita kanker hati. Saat itu, kondisinya sudah sangat parah hingga ia tidak mampu lagi duduk tegak ataupun berjalan.”

 

Menanti Pengobatan di Tengah Ancaman Kematian

Dalam waktu dua pekan, Suhaila memperoleh surat rujukan medis untuk menjalani pengobatan di luar negeri. Namun, ia terpaksa mengantre bersama lebih dari 20 ribu pasien lain yang juga telah mendapatkan rujukan dan masih menunggu izin Israel untuk meninggalkan Gaza.

Dari 36 rumah sakit di Gaza, tidak satu pun beroperasi dengan kapasitas penuh. Hanya sekitar 20 rumah sakit yang masih berfungsi sebagian. Akibatnya, puluhan ribu pasien tidak dapat mengakses pemeriksaan dan pengobatan yang sangat mereka butuhkan.

Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, otoritas Israel seharusnya mengizinkan masuknya pasokan medis, obat-obatan, serta material untuk membangun kembali rumah sakit yang rusak atau hancur selama genosida.

Namun, kesepakatan itu hanya memberikan sedikit kelegaan bagi sektor kesehatan yang telah porak-poranda. Menurut organisasi Physicians for Human Rights Israel, jumlah tempat tidur di unit perawatan intensif hanya bertambah satu, dari 103 menjadi 104, selama periode Oktober 2025 hingga Juli 2026.

Ketersediaan layanan unit dialisis justru semakin memburuk dalam periode yang sama, turun dari 17 persen menjadi 12 persen.

“Sambil menunggu giliran untuk berangkat, kami menghubungi dokter di Italia dan Mesir serta mengirimkan rekam medisnya. Mereka mengatakan kanker yang dideritanya bisa diobati, tetapi tidak di Gaza,” kata Sami.

“Kami menunggu selama tiga bulan. Ia tidak bertahan hidup cukup lama untuk mendapatkan pengobatan. Penyakitnya terus berkembang dan pada 18 Juni, ia meninggal dunia.

“Ia selamat dari bom, tetapi tidak dari blokade.”

Suhaila merupakan satu dari sedikitnya 1.570 pasien yang meninggal di Gaza ketika menunggu evakuasi medis selama periode Oktober 2023 hingga Juli 2026. Di antara mereka terdapat 505 pasien kanker dan 264 anak-anak. Sementara itu, jumlah pasien yang dievakuasi masih jauh di bawah tingkat sebelum perang.

Menurut Physicians for Human Rights Israel, sekitar 3.423 pasien dievakuasi ke luar negeri untuk mendapatkan pengobatan dalam periode 10 Oktober 2025 hingga pertengahan September 2026. Angka itu setara dengan rata-rata sekitar 10 pasien per hari.

Sebelum Oktober 2023, sebanyak 50 hingga 100 pasien dapat dievakuasi setiap hari.

Orang-orang berkumpul saat petugas Pertahanan Sipil berupaya menyelamatkan kotrban yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan tempat tinggal yang rusak akibat serangan Israel sebelumnya selama perang dan runtuh pada hari Rabu, di Kota Gaza, 16 September 2026. (Foto: Reuters/Mahmoud Issa)

“Tidak Ada Tempat Berlindung dari Kematian”

Penyakit hanyalah satu dari sekian banyak dampak genosida Israel yang terus merenggut nyawa penduduk Palestina.

Bagi mereka yang berhasil bertahan dari penyakit dan serangan udara, upaya mencari tempat berlindung menghadirkan ancaman mematikan lainnya. Sekitar 92 persen rumah di Gaza telah hancur atau rusak akibat serangan militer Israel.

Sebagian besar dari 2,2 juta penduduk wilayah itu masih tinggal di tenda-tenda darurat atau bangunan yang rusak parah. Mereka terpapar cuaca ekstrem dan terus dihantui risiko bangunan runtuh.

Pada musim dingin lalu, sedikitnya delapan anak, sebagian besar bayi yang berlindung di tenda darurat, meninggal akibat hipotermia ketika suhu udara turun tajam.

Menjelang musim dingin berikutnya, keluarga-keluarga Palestina kembali dihadapkan pada pilihan yang nyaris mustahil: bertahan dalam dinginnya malam di tenda yang tidak memberikan perlindungan memadai atau menghadapi risiko tertimbun reruntuhan bangunan yang rusak.

“Saya tidur setiap hari dengan keraguan apakah masih akan terbangun dalam keadaan hidup keesokan harinya. Setiap hari saya merasa bangunan ini bisa runtuh menimpa kami,” kata Muhammed Abujarad, yang tinggal di sebuah bangunan rusak parah di kawasan Tal al-Hawa, Gaza bagian barat daya, kepada Middle East Eye.

“Saya tidak membayangkan sesuatu yang mustahil terjadi. Peristiwa seperti itu sudah beberapa kali terjadi. Saya mengenal orang-orang yang meninggal setelah rumah mereka runtuh menimpa kepala mereka bulan lalu.”

Abujarad merujuk pada peristiwa runtuhnya sebuah bangunan pada September yang membunuh dan melukai penduduk Palestina yang mengungsi di dalamnya setelah rumah mereka hancur akibat perang.

Bangunan yang sebelumnya rusak akibat serangan Israel itu runtuh sesaat sebelum fajar pada 21 September. Sebanyak 21 penduduk Palestina, termasuk 12 anak-anak, meninggal dunia dalam peristiwa tersebut, sementara 14 orang lainnya berhasil ditarik keluar dari reruntuhan dalam keadaan terluka.

Mereka termasuk di antara 61 penduduk Palestina yang meninggal akibat bangunan runtuh sejak Oktober 2023.

“Kami tahu tinggal di sini bisa merenggut nyawa, tetapi kami tidak punya pilihan lain. Rumah kami di Gaza utara hancur, begitu pula rumah kerabat kami di Kota Gaza. Kami sudah tidak punya tempat lain untuk dituju,” kata Abujarad, 44 tahun.

“Kami tidak bisa kembali tinggal di tenda. Selama perang, kami mengalami hari-hari paling mengerikan ketika tinggal di tenda. Sekarang, selama masih ada atap di atas kepala kami, itu lebih baik daripada mati kepanasan atau kedinginan di tenda yang tidak melindungi kami dari apa pun.”

Menurut Pusat Satelit Perserikatan Bangsa-Bangsa (Unosat), jumlah bangunan yang hancur di Gaza hingga Agustus meningkat sembilan persen dibandingkan dengan kondisi ketika gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025.

Meski kesepakatan gencatan senjata telah diberlakukan, Israel masih membatasi masuknya tenda, hunian bongkar pasang, dan alat berat. Akibatnya, penduduk Palestina tidak memiliki tempat berlindung yang layak, sementara bangunan-bangunan rusak tetap menjadi ancaman keselamatan.

Pembatasan tersebut juga menghambat perbaikan infrastruktur air bersih dan pengolahan air limbah di Gaza. Sekitar 90 persen infrastruktur tersebut telah rusak atau hancur. Dengan sistem vital yang porak-poranda, penduduk Palestina semakin terpapar air tercemar dan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.

“Jika Anda tinggal di rumah yang rusak tanpa dinding atau di tenda yang berdiri di tengah lumpur dan air limbah, bagaimana Anda bisa melindungi anak-anak Anda?” kata Abujarad.

“Ke mana pun kami pergi untuk menghindari kematian, kami justru menemukan kematian yang lain. Tidak ada tempat berlindung dari kematian.”

Meskipun gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025, korban jiwa dan luka di Gaza terus bertambah akibat serangan yang dilakukan Israel. Menurut laporan terbaru Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), hingga 23 September 2026 Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 1.402 penduduk Palestina meninggal dunia dan 4.881 lainnya terluka sejak pengumuman gencatan senjata.

Gencatan senjata belum mengakhiri dampak kemanusiaan dan material perang di Gaza, karena Israel masih terus melakukan serangan. Selain korban jiwa yang terus bertambah, jutaan warga masih menghadapi kehilangan tempat tinggal, kerusakan infrastruktur, keterbatasan layanan kesehatan, serta kebutuhan rekonstruksi yang nilainya mencapai puluhan miliar dolar.

(T.FJ/S: MEE)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya