Ditulis oleh: Abdalrahim Abuwarda*
Gaza, SPNA – Saya berusia sekitar sepuluh tahun ketika pertama kali melihat kematian diarak melewati jalan.
Saat itu saya berada di luar rumah kami di Gaza, bermain di jalan sebagaimana anak-anak bermain ketika mereka tidak memiliki taman. Saya menendang kaleng soda yang sudah penyok seolah-olah itu bola sepak. Udara terasa lembut, jenis sore ketika matahari tidak menyengat dan Anda bisa lupa, sejenak, bahwa Anda hidup di bawah pendudukan. Lalu saya mendengarnya. Awalnya hanya suara samar, seperti tabuhan drum dari kejauhan. Langkah kaki, banyak sekali, bergerak serentak.
Debu mulai terangkat di ujung jalan.
Saya ingat mendengar suara-suara sebelum melihat wajah. Gelombang lantunan datang mendekat, kata-kata yang tidak saya pahami, terpotong oleh irama langkah kaki yang berbaris. Selama beberapa detik, saya mengira itu mungkin sebuah pesta pernikahan. Di Gaza, lantunan dan pengeras suara bisa berarti kegembiraan atau duka, dan sebagai anak kecil Anda tidak selalu tahu mana yang mana.
Kerumunan itu semakin dekat. Para lelaki memenuhi jalan, berhimpitan bahu ke bahu, bergerak dengan tujuan yang berat. Di tengah mereka, tinggi di atas kepala-kepala, saya melihat sebuah tubuh terbungkus kain putih.
Mereka tidak berjalan seperti orang-orang yang pergi ke pasar. Mereka berbaris. Tubuh itu bergerak bersama mereka, diangkat oleh tangan-tangan, bergoyang pelan di setiap langkah. Saya terpaku di tengah jalan. Debu menempel di kaki saya. Udara berbau pasir dan keringat. Seseorang di dekat saya berbisik kata “syahid”.

Syahid
Saya tidak tahu apa artinya. Saya hanya tahu bahwa seorang manusia sedang diusung melewati saya dan tak seorang pun tampak terkejut. Sebagian orang ikut berbaris. Yang lain menonton dari jendela. Lantunan semakin keras. Saya ingat merasa sangat kecil, seolah-olah kerumunan itu akan menelan saya. Lalu, tiba-tiba, saya berlari.
Saya berlari pulang, jantung berdegup kencang, sandal saya menampar tanah. Saya menerobos masuk dan bertanya kepada ayah apa yang baru saja saya lihat. Ia mengatakan itu adalah iring-iringan pemakaman seorang yang baru saja syahid, seorang pemuda yang ditembak tentara Israel karena melempar batu, karena berunjuk rasa, karena menginginkan kebebasan dan kehidupan yang layak.
Ayah saya mengatakannya dengan sederhana, seperti laporan cuaca.
Kata “syahid” menetap di pikiran saya jauh sebelum saya memahami politik atau hukum internasional. Arak-arakan pemakaman seperti itu menjadi latar masa kecil saya. Mereka cukup sering melewati jalan kami hingga tak lagi terasa aneh. Anda bisa sedang mengerjakan PR, membeli roti, atau mengunjungi kerabat, dan di suatu tempat di kejauhan Anda akan mendengar lantunan itu dimulai dan tahu bahwa satu tubuh lagi sedang diusung melintasi kota.
Pada suatu titik, kematian berhenti menjadi peristiwa dan berubah menjadi pola.
Bertahun-tahun kemudian, adegan lain terpatri kuat dalam diri saya. Saat itu saya sudah di sekolah menengah. Akhir Desember 2008, awal dari salah satu serangan besar ke Gaza. Hari itu saya pulang sekolah dan berjalan, bukan ke rumah orang tua, melainkan ke apartemen kakak perempuan saya yang baru menikah. Saya pergi seperti adik laki-laki pada umumnya: untuk melihat bagaimana ia menyesuaikan diri di rumah barunya dan, jujur saja, untuk makan baklava.
Di Gaza, pernikahan berarti manisan. Bahkan dalam kemiskinan, orang-orang meminjam uang untuk membeli cokelat dan kue bagi tamu. Itu adalah cara untuk bersikeras bahwa kegembiraan masih ada.
Saya tiba di gedungnya, menaiki tangga, dan duduk di sofa di ruang tamu baru. Rumah itu masih berbau cat segar dan perabot baru. Kakak saya tersenyum. Ada nampan berisi manisan. Saya masih ingat rasa baklava itu, sirup dan pistachio, masih tertinggal di mulut saya.
Lalu bom pertama menghantam.
Suaranya tidak seperti apa pun yang pernah saya dengar. Bukan sekadar keras. Ia punya bobot. Ia mencengkeram seluruh rumah dan mengguncangnya. Pintu-pintu terhempas terbuka. Jendela-jendela pecah. Kaca meledak masuk dan berserakan di lantai. Kami semua spontan menjatuhkan diri ke tanah. Telinga saya berdenging. Udara terasa berdebu dan berbau logam.
Selama beberapa detik dunia terasa seperti sedang runtuh, dan saya tidak tahu apakah bom berikutnya akan jatuh menimpa kami.
Kakak saya menjerit. Suaminya berusaha menenangkannya, tetapi wajahnya pucat. Saya ingat tubuh saya sendiri gemetar. Di luar, ledakan-ledakan lain terdengar. Rumah yang “baru” beberapa menit sebelumnya kini tampak terluka, jendelanya hancur, lantainya yang bersih tertutup pecahan dan debu.
Ada satu momen dalam setiap perang ketika pikiran Anda bergeser dari “ini mungkin terjadi” menjadi “ini sedang terjadi sekarang”. Itulah momen saya.
Saya ingin berlari kembali ke rumah orang tua. Kakak saya tidak ingin saya pergi, karena kami tidak tahu di mana bom akan jatuh. Selama satu jam saya tinggal di sana, jantung saya berlari di dalam dada, mendengarkan suara serangan dari kejauhan, bertanya-tanya apakah keluarga saya tahu di mana saya berada. Ia menelepon ayah saya untuk memberi tahu bahwa saya aman bersamanya. Akhirnya, ketika ada jeda dalam pengeboman, saya berlari pulang melalui jalan-jalan yang terasa berbeda dari yang saya lalui pagi itu.

Butuh bertahun-tahun bagi saya untuk memahami bahwa adegan-adegan ini bukan sekadar “kenangan perang” atau “hidup yang keras”. Ini adalah ritual harian dari sebuah tempat yang dirancang untuk menahan orang-orang di dalam dan mengendalikan mereka. Saya tidak mengenal bahasa “penjara terbuka” atau “kamp konsentrasi”. Saya hanya tahu dunia saya penuh dengan tubuh di jalan, kaca di lantai, dan kesunyian di mata ayah saya yang belum bisa saya baca.
Belakangan, jauh belakangan, saya menemukan kata-kata itu. Human Rights Watch menerbitkan laporan yang menandai lima belas tahun blokade dan menyatakan dengan jelas bahwa penutupan tersebut “menjebak” lebih dari dua juta penduduk Palestina di sebidang pantai kecil, mengubah Gaza menjadi penjara terbuka. Norwegian Refugee Council menggambarkan Gaza dengan istilah yang sama, demikian pula War Child, yang membagikan kesaksian anak-anak Palestina yang mengatakan mereka merasa tumbuh di penjara tanpa atap. Para pakar PBB melangkah lebih jauh dan menggambarkan seluruh wilayah pendudukan sebagai sistem pemenjaraan terbuka, serta menyebut Gaza sebagai “penjara terbuka zaman kita”.
Ketika saya membaca kata-kata itu, kamp itu sudah ada, mengelilingi saya. Saya hanyalah seorang anak yang tumbuh di dalamnya.
Blokade tidak hadir dalam hidup saya sebagai tajuk berita. Ia hadir dalam napas ayah saya.
Saya duduk di sekolah menengah ketika blokade dimulai. Orang-orang berbicara tentang “al hisar,” pengepungan, seolah itu hanya satu kata lagi dalam kamus panjang penderitaan Palestina. Awalnya saya tidak benar-benar mengerti apa artinya. Saya hanya mengerti bahwa dunia ayah saya mulai runtuh.
Sebelum blokade, ia bekerja di bidang konstruksi. Ia membawa bahan bangunan ke Gaza, terutama semen. Ia berurusan dengan pemasok, truk, dan perlintasan. Pekerjaannya tidak mudah, tetapi itu adalah kehidupan. Ia bisa menafkahi delapan anak, istrinya, dan ibunya. Ia bangga akan hal itu.
Lalu perbatasan diperketat.
Semen berhenti masuk. Satu pembatasan demi pembatasan, satu izin demi izin ditolak, hingga seluruh usahanya mati begitu saja. Tidak ada pengumuman besar. Tidak ada perwakilan pemerintah mana pun yang datang ke rumah kami dan berkata, “Mulai sekarang, ayahmu tidak akan bekerja, keluargamu tidak akan memiliki penghasilan yang stabil, masa depanmu akan menyempit selebar wilayah ini”.
Semuanya berakhir begitu saja.
Jauh kemudian, ketika saya mulai membaca ekonom seperti Sara Roy, saya melihat kisah ayah saya berubah menjadi data. Ia menyebutnya “de-development,” sebuah kebijakan yang disengaja untuk membuat kehidupan ekonomi normal menjadi mustahil, yang mengubah sebuah masyarakat dari produktif menjadi bergantung. Dalam buku-bukunya tentang Gaza, ia menunjukkan bagaimana penutupan dan pembatasan bukanlah efek samping. Itu adalah rancangan. Ketika saya membaca karyanya, saya melihat bahu ayah saya dalam setiap grafik tentang pengangguran dan setiap paragraf tentang industri yang dihancurkan.
Rumah kami kecil. Tiga kamar tidur sempit dan sebuah ruang tamu yang bahkan tidak layak disebut ruang tamu. Awalnya saya berbagi kamar dengan kakak laki-laki saya, yang lima tahun lebih tua. Ketika ia tumbuh dewasa, ia membutuhkan ruang sendiri. Saya memahaminya. Tidak ada tempat lain, jadi saya memindahkan kasur saya ke ruang tamu. Di situlah tempat tidur saya.
Komputer ayah saya juga berada di ruang tamu.
Sejak hari blokade dimulai, rutinitas baru memasuki rumah kami. Setiap pagi, setelah salat subuh, ia akan duduk di depan komputer dan membuka berita. Itu adalah tahun-tahun sebelum media sosial menjadi pusat. Ia berpindah-pindah antara situs lokal dan berita berbahasa Ibrani, mencoba membaca keputusan-keputusan yang mengendalikan hidup kami.
Saya akan terbangun begitu ia menyalakan komputer. Cahaya layar membelah ruangan yang gelap. Saya tidak memberi tahu bahwa saya sudah bangun. Saya berbaring di kasur, membelakangi dia, dan mendengarkan.
Ia jarang berbicara, tetapi saya bisa mendengar napasnya. Hembusan panjang. Tarikan pendek. Kadang suara kecil, bahkan bukan kata, hanya seperti “ah” yang terlepas sebelum ia menahannya kembali. Saya menunggu sebuah kalimat yang tak pernah datang. Ia tidak berkata, “Perlintasan dibuka”. Ia tidak berkata, “Semen diizinkan masuk lagi”. Ia tidak berkata, “Segalanya akan kembali seperti dulu”.
Hari demi hari, ia mencari jawaban yang berbeda. Hari demi hari, jawabannya tetap sama.
Saya belum memiliki bahasa tentang “hukuman kolektif” atau “pencekikan ekonomi”. Saya hanya memiliki gambaran bahu ayah saya yang semakin berat dari waktu ke waktu. Saya tidak ingat pernah melihatnya benar-benar rileks atau aman secara finansial setelah blokade dimulai. Wajahnya menjadi lebih serius, kesabarannya lebih pendek, senyumnya lebih jarang. Ia tidak sakit. Ia tidak lemah. Ia adalah seorang lelaki yang tak lagi bisa menjalankan perannya di sebuah tempat di mana peran-peran sengaja dirusak.
Kami delapan bersaudara. Pada satu titik, empat dari kami kuliah bersamaan. Uang kuliah, buku, transportasi, biaya sehari-hari, semuanya bertumpu pada seorang lelaki yang usahanya dilenyapkan bukan oleh kegagalan pasar, melainkan oleh kebijakan.
Ia mencoba berbagai hal. Proyek-proyek kecil. Ide-ide baru. Setiap kali ia berharap yang ini akan berhasil. Setiap kali pula, tembok yang sama muncul. Penutupan. Kelangkaan. Ekonomi yang hancur di dalam tempat yang sudah hancur. Kegagalan bukan berarti ia kurang berusaha. Itu berarti sang kurungan melakukan apa yang memang dirancang untuk dilakukannya. Para peneliti seperti Sara Roy menyebut ini sebagai membuat Gaza “tidak layak hidup”. Laporan-laporan lembaga pemikir berbicara tentang kebijakan yang “membuat Gaza tak dapat dihuni”. Saya tidak memerlukan kata-kata itu untuk tahu bahwa ruang tamu kami, dengan layar komputer yang menyala dan seorang lelaki yang terdiam dalam gelap, adalah bagian dari rancangan yang sama.
Saya rasa ia tidak pernah berhenti mencari berita tentang perlintasan. Ia hanya berhenti membicarakan apa yang ingin ia bangun kembali.
Bukan hanya ayah saya yang berubah. Atmosfer di sekitar kami ikut bergeser. Sebelum blokade, hidup di Gaza tidak pernah “normal,” tetapi orang-orang masih membayangkan masa depan. Mereka berbicara tentang bekerja di Israel, atau mencari cara untuk belajar di luar negeri, atau menabung untuk membangun rumah. Setelah blokade, mimpi-mimpi itu terdengar semakin seperti fiksi.
Orang-orang berhenti membuat rencana jangka panjang. Anda tidak bisa merencanakan sepuluh tahun ke depan ketika Anda tidak tahu apakah besok akan ada listrik. Anda tidak bisa merencanakan kehidupan yang bergerak ketika semua pintu keluar terkunci. Human Rights Watch dan B’Tselem menggambarkan kenyataan ini dalam bahasa hukum. Mereka berbicara tentang rezim “penutupan” yang mengendalikan siapa dan apa yang masuk atau keluar, bagaimana bahan-bahan dirasionalisasi, bagaimana bahkan pasien medis dan mahasiswa dihalangi untuk bepergian. Ketika saya membaca laporan-laporan mereka, saya mengenali percakapan-percakapan kecil yang menghilang dari rumah kami, cara orang-orang berhenti mengatakan “suatu hari nanti saya akan” dan mulai mengatakan “insyaallah” dengan keyakinan yang semakin menipis.
Bahkan ibadah pun terdampak. Ibu saya, seperti banyak perempuan tua di Gaza, selalu bermimpi pergi ke Mekah untuk berhaji. Itu adalah salah satu rukun imannya, salah satu keinginan terdalam hidupnya. Hingga kini ia belum pernah pergi. Bukan karena ia tidak menabung. Bukan karena ia tidak mau. Semata-mata karena perbatasan bersikeras bahwa seorang perempuan di Gaza, yang tak pernah melakukan apa pun selain membesarkan keluarga di sebidang wilayah pengungsian, tidak boleh bergerak.
Dalam kesaksian yang dikumpulkan kelompok-kelompok hak asasi manusia, Anda bisa membaca kisah orang-orang yang dihalangi keluar dari Gaza untuk mendapatkan perawatan yang menyelamatkan nyawa, untuk belajar, untuk bekerja, untuk berkumpul kembali dengan keluarga. Mereka berbicara tentang “pemisahan,” tentang keluarga-keluarga yang tercerai-berai oleh larangan perjalanan dan perlintasan yang ditutup. Setiap kesaksian terdengar seperti ditulis di ruang tamu orang tua saya, di bawah cahaya redup yang sama.
Ini bukan jenis penjara yang Anda lihat di film, dengan jeruji dan penjaga berseragam. Ini jenis kurungan yang berbeda, dibangun dari izin, perlintasan, dan keputusan-keputusan tak kasatmata yang dibuat di kantor-kantor jauh. Sebuah kurungan yang membuat Anda berjuang melawan kemiskinan Anda sendiri lalu menyalahkan Anda karena kalah. Para akademisi geografi karseral kini mempelajari Gaza sebagai contoh bagaimana ruang itu sendiri dapat diubah menjadi hukuman, sebuah tempat di mana seluruh populasi dikurung dan diawasi tanpa tembok penjara tradisional. Namun sebelum teori itu, ada ayah saya di depan komputer, membaca tembok-tembok tak terlihat dalam berita pagi.

Sementara semua ini terjadi, infrastruktur hari-hari kami perlahan dilucuti.
Listrik menjadi jadwal, bukan lagi sesuatu yang konstan. Pada awalnya, kami mungkin memiliki empat belas jam listrik, lalu semakin sedikit. Setelah setiap perang, setelah setiap serangan besar, pembangkit listrik kembali diserang. Mula-mula Anda mendengar beritanya, lalu Anda merasakannya ketika lampu padam lebih lama. Sepuluh jam tanpa listrik. Dua belas. Enam belas. Pada tahun-tahun terakhir sebelum saya pergi, kami hanya memiliki sekitar empat jam listrik sehari.
Para pakar kesehatan kini menulis tentang bagaimana sistem kesehatan Gaza runtuh di dalam penjara terbuka ini. Mereka berbicara tentang rumah sakit yang tidak bisa menjalankan peralatan karena kekurangan bahan bakar, air yang tidak aman untuk diminum, limbah yang tidak bisa diolah. Laporan-laporan kebijakan menjelaskan bahwa ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari blokade yang membatasi bahan bakar, material, bahkan hitungan kalori. Bagi kami, itu hadir sebagai makanan basi di lemari es, ruang kelas yang gelap, dan malam-malam ketika satu-satunya cahaya berasal dari ponsel dan lilin.
Waktu itu sendiri melengkung mengikuti jadwal jaringan listrik. Anda belajar menghitung hidup Anda berdasarkan jam-jam itu. Kapan memasak. Kapan mencuci pakaian. Kapan belajar. Kapan mengisi daya ponsel dan baterai darurat. Sisa hari menjadi milik kegelapan.
Mengisi daya ponsel seharusnya menjadi tindakan tanpa pikir. Anda mencolokkannya, lalu melupakannya. Di bawah blokade, itu menjadi tugas, sebuah perjalanan kecil. Beberapa orang di setiap lingkungan memiliki bahan bakar dan generator. Mereka menjadi stasiun pengisian daya tidak resmi. Anda akan melihat orang-orang berjalan membawa ponsel, pengisi daya, dan stopkontak tambahan, menuju ke sana ketika listrik padam di rumah mereka.
Bayangkan harus meninggalkan rumah dan berjalan ke jalan lain hanya untuk memberi sedikit kehidupan pada ponsel Anda. Bayangkan melakukan ini berulang-ulang, minggu demi minggu, tahun demi tahun, bukan karena bencana alam, melainkan karena seseorang memutuskan bahwa beginilah seharusnya Anda hidup.
Ketika saya menjadi mahasiswa, ini mengambil bentuk kekejaman yang khas. Para dosen mulai memberi tugas dan kuis daring, mencoba mengikuti dunia modern. Kami duduk di depan layar, mata tertuju pada pertanyaan, pikiran tertambat pada jam yang berdetak di sudut layar dan jam tak terlihat dari pemadaman listrik.
Anda memulai kuis daring dengan tahu bahwa kapan saja listrik bisa padam. Layar bisa menjadi hitam di tengah kalimat, dan semua jawaban Anda lenyap bersamanya. Kadang itu berarti nilai hilang. Kadang Anda tidak bisa mengulang kuis. Lalu datanglah penjelasan: pesan kepada dosen, memohon agar mereka mengerti bahwa Anda bukan malas, Anda hanya terhubung ke jaringan rapuh yang dikendalikan oleh orang-orang yang tidak tahu nama Anda dan tidak peduli pada IPK Anda.
Bahkan ketika para dosen percaya, rasa takut itu tetap tinggal. Setiap tugas menjadi ujian kecil, bukan hanya pengetahuan, tetapi apakah dewa-dewa listrik akan berbaik hati selama satu jam.
Penyusutan Gaza bukan hanya politis. Ia bersifat personal. Penyusutan itu hidup di dalam dada saya jauh sebelum saya menamainya. Saya merasakannya ketika saya ragu untuk bermimpi tentang hal-hal sederhana, seperti memilih karier karena saya mencintainya atau membayangkan rumah masa depan yang belum retak. Saya merasakannya ketika kerabat menyuruh saya “bersikap realistis,” bukan karena nilai saya buruk, tetapi karena perbatasanlah yang buruk. Bahkan harapan saya harus muat di dalam peta Gaza, di dalam jam-jam listrik, di dalam pekerjaan apa pun yang masih bisa ditemukan ayah saya. Sedikit demi sedikit, saya berhenti bertanya, “Apa yang ingin saya lakukan dengan hidup saya?” dan mulai bertanya, “Apa yang bahkan mungkin dilakukan di sini?”
Ia menampakkan diri dalam perbandingan-perbandingan kecil yang hampir memalukan dengan orang-orang seusia saya yang hidup normal.
Saya ingat satu momen dengan jelas. Saya punya seorang teman bernama Steve, seorang pria Afrika-Amerika dari Miami. Kami bertemu daring karena saya ingin meningkatkan bahasa Inggris saya. Sebagian besar percakapan kami sederhana. Apa yang kami makan untuk sarapan, kelas apa yang kami ambil, bagaimana hari berjalan. Tidak ada yang dalam. Tidak politis. Hanya kehidupan sehari-hari.
Lalu suatu hari Steve memberi tahu saya bahwa ia pindah ke Polandia.
Bukan selamanya. Bukan karena bahaya. Bukan karena ia melarikan diri dari apa pun. Hanya karena ia ingin belajar di sana. Ia memutuskan, memesan penerbangan, pindah, mulai kuliah, lalu pulang untuk liburan musim dingin seperti perjalanan akhir pekan.

Ia menceritakannya dengan santai, seperti orang bercerita mengganti paket ponsel. Tetapi bagi saya, sesuatu retak. Saya menyadari bahwa ia memiliki kemampuan untuk keluar masuk negara seperti orang membuka dan menutup pintu di rumahnya sendiri. Saya menyadari bahwa jika ia bangun suatu pagi dan ingin belajar di tempat lain, ia bisa langsung pergi. Ada bandara. Visa. Konsulat. Perbatasan yang terbuka.
Pikiran itu terasa tidak nyata, seperti mendengar bahwa seseorang bisa bernapas di bawah air.
Lalu ada panggilan video.
Kami berbincang, tertawa, berdebat tentang hal-hal sepele. Dan kemudian, tiba-tiba, di tengah kalimat, listrik padam. Layar membeku, berkedip, lalu menghilang. Ruangan menjadi gelap. Delapan jam. Sepuluh jam. Kadang lebih. Tanpa penjelasan. Tanpa permintaan maaf. Hanya keheningan.
Ketika saya kembali daring, Steve akan bertanya:
“Apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja?”
Saya harus menjelaskan setiap kali.
Listrik padam.
Jadwal listrik.
Kelangkaan generator.
Pengepungan yang bisa Anda dengar di dinding.
Bagi dia, pemadaman listrik adalah sesuatu yang diumumkan sebelumnya atau disebabkan oleh badai. Bagi saya, itu adalah kenyataan konstan. Sesuatu yang bisa memotong momen apa pun dalam hidup.
Bertahun-tahun kemudian, setelah tiba di Amerika Serikat, saya menerima pesan teks dari perusahaan listrik yang berbunyi:
“Listrik akan padam selama lima menit antara waktu ini dan waktu ini”.
Sebuah peringatan.
Sebuah kesopanan.
Sebuah kemewahan yang begitu sederhana hingga terasa menyakitkan.
Saya menatap pesan itu seolah-olah ditulis dalam bahasa lain. Selama dua puluh tahun hidup saya, listrik tidak pernah mengumumkan ketidakhadirannya. Ia menghilang seperti hukuman.
Saat itulah saya menyadari bahwa dunia di luar Gaza bukan sekadar berbeda. Ia lebih besar. Lebih lembut. Dibangun untuk manusia. Dibangun untuk merencanakan, bermimpi, pergi, kembali. Dibangun untuk orang-orang yang diizinkan ada tanpa merasionalisasi cahaya.
Gaza, sebaliknya, telah menjadi dunia di mana bahkan baterai ponsel terasa seperti waktu pinjaman.
Rincian-rincian ini mungkin terdengar seperti kesulitan sederhana, seperti cara orang berbicara tentang “hidup itu sulit di negara miskin”. Tetapi Gaza bukan sekadar “tempat miskin”. Tempat miskin biasanya membiarkan Anda pergi. Di Gaza, kemiskinan dilebur dengan pengurungan. Blokade tidak hanya membuat hidup sulit. Ia mengatur kesulitan sedemikian rupa sehingga energi Anda habis untuk bertahan hidup dasar, bukan untuk membangun masa depan.
Para penulis dan aktivis telah bertahun-tahun mencoba menamai kombinasi ini. Ada yang menyebut Gaza ghetto, bantustan, zona karseral. Sejak 1980-an, para analis sudah membandingkan Gaza dengan kawasan apartheid di Afrika Selatan.
Belakangan, seorang sosiolog Israel menyebutnya kamp konsentrasi terbesar di dunia, dan komentator lain berargumen bahwa pergeseran dari “spasiocide” yang lambat menuju pembantaian terbuka telah mengubah bagian-bagian Gaza menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan kamp pemusnahan. Para pakar PBB kini memperingatkan bahwa apa yang terjadi di Gaza bukan hanya penjara terbuka, melainkan ujian bagi seluruh tatanan internasional.
Arak-arakan pemakaman yang saya lihat sebagai anak dan bom-bom yang mengguncang rumah baru kakak saya adalah tindakan kekerasan yang terbuka. Blokade lebih sunyi. Ia hadir sebagai ritual pagi di depan komputer, sebagai seorang ibu yang tidak bisa pergi haji, sebagai seorang anak laki-laki yang tidur di ruang tamu mendengarkan napas ayahnya, sebagai seorang mahasiswa yang berpacu dengan pemadaman listrik, sebagai ponsel di tangan Anda yang selalu nyaris mati.
Jika sebuah kota bisa diubah menjadi semacam sel, beginilah awalnya. Bukan dengan satu peristiwa tunggal. Melainkan dengan penyusutan yang panjang dan lambat atas apa yang mungkin, sampai suatu hari Anda terbangun dan menyadari bahwa hampir tidak ada seorang pun yang Anda cintai masih percaya bahwa “keadaan akan segera membaik”.
Pada 4 Agustus 2025, kakak perempuan saya, Elham, dihancurkan oleh sebuah tindakan yang tak bisa digambarkan. Pasukan Israel merenggut nyawa suaminya, kakak ipar saya, Haitham. Ia adalah seorang ayah yang hanya berusaha memenuhi kewajiban paling dasar: menyediakan makanan bagi istrinya dan lima anak mereka yang masih kecil. Ia tewas dengan cara yang paling kejam dan tak masuk akal, terjebak dalam perangkap kematian di sekitar truk-truk bantuan kemanusiaan di dekat perbatasan.
Laporan demi laporan kini mendokumentasikan bagaimana keluarga-keluarga di Gaza terbunuh saat mencoba menjangkau makanan atau air, bagaimana seluruh keluarga dilenyapkan dalam serangan yang oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia disebut sebagai kemungkinan kejahatan perang.
Amnesty International menggambarkan keluarga-keluarga utuh yang terhapus dalam sekejap. Gideon Levy mengumpulkan laporan-laporan tentang “pembunuhan Gaza”. Bagi dunia luar, ini adalah studi kasus dan bukti. Bagi kakak saya, ini adalah sisi ranjang yang kosong dan lima anak yang bertanya ke mana ayah mereka pergi.
___
*Abdalrahim Abuwarda adalah cendekiawan Palestina dan kandidat doktor (PhD) di bidang Bahasa Inggris (Public Humanities) di University of Wyoming. Penelitian dan pengajarannya menelaah representasi media, retorika, serta politik penceritaan di Palestina dan wilayah lain.
(T.FJ/S: Mondoweiss)