Ditulis oleh: Tareq S. Hajjaj*
Gaza, SPNA – Tahrir Zidan (41 tahun), berulang kali membawa putrinya, Tala, yang berusia lima tahun, ke klinik gizi buruk di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis. Ia berharap mendapatkan suplemen nutrisi atau perawatan yang dapat membantu anak-anaknya tumbuh.
Menurut Zidan, tinggi badan Tala hanya 94 sentimeter. Padahal, rata-rata tinggi anak seusianya sekitar 109–110 sentimeter. Ia mengatakan tinggi dan berat badan putrinya nyaris tidak berubah dalam dua tahun terakhir. Bahkan, pada beberapa kesempatan, berat badannya justru turun.
“Dia didiagnosis mengalami malnutrisi dan perawakan pendek,” ujar Zidan.
Kini Zidan mengungsi di kawasan Mawasi, Khan Younis, setelah dipaksa meninggalkan rumahnya di Khuza’a, sebelah timur Khan Younis. Ia mengatakan tidak mampu menyediakan makanan bergizi seimbang bagi ketiga anaknya. Dua di antaranya, termasuk Tala, mengalami malnutrisi.
Sejak perang dimulai, ia mengatakan tidak mampu membeli buah-buahan atau menyediakan makanan lengkap yang kaya protein untuk keluarganya. Sebagai gantinya, mereka sangat bergantung pada makanan yang dibagikan dapur-dapur amal kepada para pengungsi.
“Saya bahkan tidak mampu membeli satu kilogram daging, seekor ayam, atau satu kilogram buah. Kami hidup dalam kondisi yang lebih buruk daripada yang bisa digambarkan dengan kata-kata. Akibatnya, anak-anak saya kini mengalami masalah yang sulit ditangani,” kata Zidan kepada Mondoweiss.
Zidan mengatakan keluarganya terkadang hanya mendapatkan satu kali makan, dan makanan itu pun tidak cukup untuk seluruh anggota keluarga.
“Makanan yang saya dapatkan dari dapur amal biasanya sudah habis ketika sebagian besar dari kami masih merasa lapar,” ujarnya.
Anak-anak Zidan bukan satu-satunya yang mengalami kondisi tersebut. Bagi anak-anak yang tumbuh di Gaza setelah 7 Oktober, kelaparan mulai meninggalkan dampak yang mungkin jauh melampaui efek langsung dari kekurangan pangan.
Di klinik gizi buruk Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, dokter semakin sering menangani anak-anak yang bukan hanya kekurangan berat badan, tetapi juga gagal tumbuh secara normal. Sebagian lahir dari ibu yang menjalani kehamilan dalam kondisi kekurangan pangan parah. Sebagian lainnya telah bertahun-tahun tidak memperoleh cukup protein, lemak sehat, karbohidrat, vitamin, dan nutrisi lain yang penting bagi pertumbuhan.
Dokter di Rumah Sakit Nasser mengatakan mereka mulai melihat apa yang dikhawatirkan dapat menjadi salah satu dampak paling bertahan lama dari krisis kelaparan di Gaza: satu generasi yang pertumbuhan fisik dan perkembangannya berubah secara permanen atau mengalami gangguan akibat malnutrisi berkepanjangan.’

Satu Generasi Terdampak Gangguan Pertumbuhan
Dr. Ahmad al-Farra, kepala Departemen Anak Rumah Sakit Nasser, menangani puluhan kasus setiap hari. Di luar persoalan langsung berupa anak-anak yang kelaparan, ia menggambarkan kondisi mengkhawatirkan yang dapat dihadapi satu generasi di masa depan akibat krisis pangan dan kelaparan yang, menurutnya, direkayasa Israel di Gaza.
Persoalan utama yang kini mulai ia lihat di Gaza adalah anak-anak dengan pertumbuhan terhambat.
“Kami menghadapi sebuah fenomena yang baru-baru ini mulai muncul: kasus perawakan pendek,” kata al-Farra. “Kami sekarang mulai melihat dampak malnutrisi yang sangat buruk.”
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting atau gangguan pertumbuhan merupakan akibat kekurangan nutrisi dalam jangka panjang dan sering kali menyebabkan keterlambatan perkembangan mental, buruknya prestasi di sekolah, serta berkurangnya kapasitas intelektual.
Al-Farra mengatakan dampak krisis nutrisi berkepanjangan mulai terlihat setelah periode kelaparan parah yang meningkat sejak Maret 2025 dan berlanjut hingga September 2025.
Isra al-Najjar, kepala Departemen Gizi Klinis di Kompleks Medis Nasser, mengatakan fasilitas tersebut belakangan mencatat peningkatan kasus gangguan pertumbuhan. Stunting dinilai dengan mengukur tinggi badan anak, kemudian membandingkannya dengan usia kronologis berdasarkan standar pertumbuhan internasional dan deviasi standar.
“Ukuran tinggi badan menurut usia yang berada dua hingga tiga deviasi standar di bawah tingkat yang diharapkan dikategorikan sebagai stunting. Sementara itu, ukuran yang mencapai tiga deviasi standar di bawah nilai normal dikategorikan sebagai stunting berat,” ujarnya.
Di Gaza, kata Najjar, “banyak kasus stunting berasal dari faktor gizi, akibat kekurangan nutrisi penting selama periode pertumbuhan yang krusial.”
Masalah tersebut menjadi semakin nyata selama kelaparan pada 2025, ketika banyak anak tidak mampu memperoleh protein, lemak sehat, dan karbohidrat kompleks dalam jumlah yang memadai. Menurut Najjar, kekurangan tersebut memengaruhi berat badan, pertumbuhan secara keseluruhan, dan tinggi badan mereka.
“Jumlah kasusnya meningkat dari bulan ke bulan,” kata Najjar. “Saat ini, tiga hingga 10 kasus gangguan pertumbuhan teridentifikasi setiap hari dalam setiap kunjungan ke klinik gizi di Kompleks Medis Nasser.” Menurut dia, angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.
Pada 26 Agustus, sebanyak 66 kasus malnutrisi ditangani di klinik tersebut, termasuk satu anak dengan perawakan pendek, menurut al-Farra. Pada 15 Agustus, tercatat 82 kasus malnutrisi, termasuk dua kasus perawakan pendek. Pada 22 Agustus, terdapat 73 kasus malnutrisi, termasuk satu kasus perawakan pendek. Sementara pada 24 Agustus, tercatat 79 kasus, termasuk empat anak dengan perawakan pendek.
Menurut al-Farra, angka-angka tersebut menunjukkan pola yang terus berulang: puluhan anak datang setiap hari ke klinik karena malnutrisi, dan semakin banyak di antara mereka yang juga mengalami gangguan pertumbuhan tinggi badan.
Di Tal al-Hawa, sebelah barat Kota Gaza, Jana Hajjaj (10 tahun), adalah satu dari enam bersaudara dan telah didiagnosis mengalami malnutrisi. Ayahnya, Osama Hajjaj (44 tahun), menyadari bahwa pertumbuhan Jana tidak sesuai dengan yang seharusnya untuk anak seusianya.
Ketika membawanya ke klinik malnutrisi di Rumah Sakit al-Shifa, dokter menemukan bahwa perkembangan tulangnya setara dengan anak berusia tujuh tahun. Temuan itu menunjukkan adanya keterlambatan pertumbuhan yang signifikan.
Menurut ayahnya, Jana diresepkan hormon pertumbuhan selama satu bulan. Namun, ia harus melanjutkan pengobatan tersebut selama enam bulan berturut-turut. Kementerian Kesehatan Gaza, meski memiliki sumber daya yang terbatas, mampu menyediakan obat untuk bulan pertama, tetapi tidak dapat memperoleh pasokan untuk bulan-bulan berikutnya. Hajjaj mengatakan ia juga tidak mampu membeli atau mendapatkan obat tersebut sendiri.
“Saya memiliki enam anak,” kata Hajjaj. Selama kelaparan, kami beberapa kali tidak makan selama berhari-hari. Terkadang kami hanya makan sekali setiap satu atau dua hari. Ada kalanya saya tidak makan agar anak-anak saya bisa makan.”
Meski mengalami kekurangan pangan, Hajjaj menderita diabetes selama periode kelaparan. Sementara itu, Jana mengalami malnutrisi dan pertumbuhannya terhambat.
“Saya tidak tahu apakah ini sesuatu yang patut disyukuri atau justru sesuatu yang harus ditakuti,” kata Hajjaj. “Dari enam anak saya, hanya satu yang mengalami malnutrisi cukup parah hingga memengaruhi pertumbuhannya.”
“Syukurlah, anak-anak lainnya tidak mengalami masalah pertumbuhan yang sama, meskipun beberapa di antara mereka juga menderita malnutrisi. Dampaknya mungkin baru terlihat di kemudian hari, dan kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada masa depan kami di Gaza.”

Dampak Sejak dalam Kandungan hingga Masa Kanak-kanak
Dr. al-Farra mengatakan krisis di Gaza bermula sejak seorang anak masih dalam kandungan. Ia menggambarkan kondisi yang kerap ditemuinya: seorang perempuan hamil yang menjalani masa kelaparan di Gaza sambil berulang kali mengungsi, terpapar ketakutan dan serangan, memakai air yang tercemar, serta mendapat layanan medis yang tidak memadai. Mereka juga memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki akses terhadap pemeriksaan kehamilan rutin maupun suplemen nutrisi seperti asam folat.
Menurut al-Farra, kondisi tersebut dapat menimbulkan sejumlah dampak, termasuk kelainan bawaan, keguguran, atau kematian janin. Namun, ada dampak lain yang juga mengkhawatirkannya: anak yang lahir dengan berat badan rendah, lahir prematur, atau mengalami gangguan pertumbuhan.
“Jika seorang anak lahir dengan berat badan rendah atau prematur, dan anak itu perempuan, dampaknya dapat berlanjut hingga masa pubertas,” katanya. “Bisa terjadi gangguan hormonal, pubertas yang terlambat, dan pada akhirnya perawakan pendek.”
Al-Farra menyebut kondisi tersebut sebagai “siklus antargenerasi”. Menurut dia, kekurangan gizi selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan biologis janin dan berpotensi berdampak pada generasi berikutnya.
Sejumlah penelitian ilmiah mendukung sebagian dari kekhawatiran tersebut. Sebuah tinjauan medis pada 2024 menemukan bukti yang konsisten mengenai kaitan antara kekurangan gizi pada ibu dengan hambatan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, serta ukuran tubuh bayi yang lebih kecil dibandingkan usia kehamilannya. Sebuah tinjauan sistematis berskala besar yang melibatkan lebih dari satu juta perempuan juga menemukan bahwa berat badan ibu yang rendah berkaitan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.
Para peneliti yang mengkaji asal-usul perkembangan kesehatan dan penyakit juga menemukan bukti bahwa kekurangan gizi pada ibu dapat memengaruhi perkembangan janin melalui perubahan pada plasenta, ekspresi gen, dan pemrograman metabolisme.
Namun, hal itu bukan berarti setiap anak yang terpapar malnutrisi sejak dalam kandungan akan mengalami stunting atau penyakit kronis. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kekurangan gizi selama kehamilan dapat mengubah kondisi yang menjadi dasar bagi pertumbuhan janin.
Dampak Sepanjang Hayat
Al-Farra mengatakan ketika seorang anak mengalami malnutrisi berkepanjangan, terutama selama lebih dari empat pekan, dampaknya tidak hanya berupa gangguan pertumbuhan. Kondisi itu berpotensi memengaruhi anak hingga dewasa.
Menurut dia, sistem hormonal tubuh dapat terganggu, termasuk hormon seks dan hormon tiroid. Pertumbuhan dapat melambat atau bahkan terhenti, sementara masalah perkembangan dan kognitif dapat muncul.
“Jika kondisi tersebut diperbaiki dan anak mendapatkan nutrisi serta perawatan yang memadai, tinggi badan dan fungsi hormonal dapat kembali pulih,” katanya. “Namun, dampak terhadap fungsi neurologis dan kognitif belum tentu dapat dipulihkan sepenuhnya.”
Penelitian mengenai malnutrisi pada anak mendukung kekhawatiran yang lebih luas tentang dampaknya terhadap perkembangan. Sebuah tinjauan sistematis terhadap 30 penelitian menemukan bukti kuat yang mengaitkan malnutrisi pada masa kanak-kanak dengan gangguan perkembangan saraf dan prestasi akademik. Tinjauan tersebut juga menemukan bukti yang cukup kuat mengenai kaitannya dengan gangguan kognitif dan masalah perilaku.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat bahwa dampak stunting tidak terbatas pada ukuran fisik tubuh. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan berbahasa, proses belajar, perkembangan psikososial, dan kapasitas seseorang untuk bekerja di kemudian hari.
Al-Farra juga merujuk pada apa yang disebut para peneliti sebagai “thrifty phenotype”, sebuah teori yang menjelaskan bagaimana paparan kekurangan nutrisi selama perkembangan janin dapat memicu adaptasi metabolisme. Adaptasi ini membantu tubuh bertahan dalam kondisi kekurangan pangan, tetapi dapat menjadi merugikan ketika makanan kembali tersedia dalam jumlah melimpah.
Sejumlah penelitian mengaitkan kekurangan nutrisi pada janin dan bentuk pemrograman perkembangan tersebut dengan meningkatnya risiko obesitas, resistensi insulin, diabetes tipe 2, dan sindrom metabolik di kemudian hari.
Al-Farra berpendapat kondisi tersebut mungkin membantu menjelaskan sejumlah perubahan pola nutrisi yang kini ia lihat pada anak-anak di Gaza.
Ia menunjuk anak-anak yang mengonsumsi makanan tinggi gula dan kalori, tetapi kekurangan protein serta nutrisi lainnya. Selama perang, menurut dia, berbagai produk seperti Nutella, mi instan, keripik, dan Coca-Cola masuk ke Gaza pada sejumlah periode, membentuk pola makan yang menyediakan kalori tanpa memenuhi kebutuhan nutrisi anak untuk tumbuh dan berkembang secara sehat.
Menurut dia, kondisi tersebut menghasilkan perpaduan antara kelebihan lemak tubuh dan kekurangan protein yang dapat meningkatkan risiko penyakit kronis di kemudian hari.
“Yang kami khawatirkan adalah kami sedang menghadapi upaya menargetkan satu generasi secara keseluruhan,” kata al-Farra. “Satu generasi yang di masa depan akan menderita masalah kognisi, pemahaman, dan interaksi, serta gangguan neurologis kronis dan pertumbuhan yang terhambat.”
___
*Tareq S. Hajjaj adalah jurnalis dan penulis Palestina yang dikenal terutama karena meliput kondisi di Jalur Gaza. Saat ini ia tercatat sebagai Gaza Correspondent (Koresponden Gaza) untuk Mondoweiss, sebuah media yang banyak memberitakan isu Palestina dan konflik Israel-Palestina. Ia juga merupakan anggota Palestinian Writers Union (Persatuan Penulis Palestina).
(T.FJ/S: Mondoweiss)