Gaza, SPNA – Seorang tentara cadangan Israel mengatakan para perwira militer memperlakukan seluruh penduduk Gaza yang berjumlah sekitar dua juta penduduk Palestina sebagai target. Ia juga menggambarkan maraknya pembunuhan serta runtuhnya aturan pelibatan dalam apa yang disebutnya sebagai genosida di Gaza.
Operator drone tersebut berbicara kepada Haaretz dengan syarat identitasnya dirahasiakan dalam artikel yang diterbitkan pada Kamis (10/09/2026). Ia memaparkan sejumlah dugaan kejahatan terhadap penduduk sipil Palestina.
Ia mengatakan bergabung dengan militer pada 2008 dan telah membunuh sedikitnya 54 penduduk Palestina hingga Oktober 2023, termasuk penduduk sipil yang tidak bersenjata.
Selama serangan Israel di Gaza, ia bertugas di sebuah unit serangan drone hingga meninggalkan dinas militer pada Juli lalu.
“Pada hari-hari pertama, tidak ada aturan,” katanya, menggambarkan kondisi militer tanpa aturan pelibatan yang jelas ketika berhadapan dengan penduduk Palestina.
Tentara cadangan itu juga menyaksikan serangan militer Israel terhadap ambulans yang ditandai dengan jelas di kawasan Tel al-Sultan, Rafah, pada Maret 2025. Serangan tersebut menewaskan 15 pekerja bantuan dan tenaga medis Palestina.
Militer Israel awalnya membantah melakukan kesalahan. Namun, setelah makam massal yang berisi jasad para korban ditemukan, militer berjanji melakukan penyelidikan. Hingga kini, tidak ada tentara Israel yang diadili atas pembunuhan tersebut.
“Jelas terlihat bahwa kendaraan-kendaraan itu adalah kendaraan darurat, bahkan ketika pasukan darat mulai menembakinya,” ujar tentara cadangan itu kepada Haaretz, menggambarkan malam ketika serangan terjadi.
“Tanpa alasan yang jelas, pasukan darat menyerbu konvoi tersebut. Mereka menembaki kendaraan pertama. Para tenaga medis keluar, berlindung di balik ambulans, dan memohon agar nyawa mereka diselamatkan. Para tentara kemudian menembak mereka satu per satu,” katanya.
“Setelah kejadian itu, saya menyadari bahwa siapa pun bisa membunuh siapa saja yang mereka inginkan, sebanyak yang mereka mau, dan mereka tidak akan dimintai pertanggungjawaban.”
“Dua Juta Target di Gaza”
Meski menyaksikan pembunuhan di Rafah, tentara cadangan tersebut tetap bertugas di Gaza. Setelah mengambil cuti selama lima hari di Georgia tahun ini, ia kembali bertugas pada akhir April.
Saat kembali, katanya, “Semua orang sudah membicarakan pembunuhan. Saya meminta bertemu dengan perwira intelijen untuk memasukkan target ke komputer,” ujarnya.
Perwira tersebut kemudian berkata kepadanya: “Ada dua juta target di Gaza.”
Menurut tentara cadangan itu, perwira tersebut merujuk pada seluruh penduduk Gaza yang berjumlah sekitar dua juta orang.
Menurut otoritas Palestina, pasukan Israel telah membunuh sedikitnya 73.658 penduduk Palestina di Gaza sejak Oktober 2023. Lebih dari 1.300 orang dibunuh Israel sejak gencatan senjata disepakati pada Oktober tahun lalu.
“Mereka Menembak Siapa Saja yang Mereka Lihat”
Tentara cadangan itu juga mengungkap bagaimana para komandan senior militer Israel menggeser apa yang disebut “Garis Kuning” (Yellow Line) sesuka hati.
Garis Kuning merupakan garis demarkasi yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata untuk menandai batas pengerahan pasukan Israel di dalam wilayah Gaza.
“Komandan divisi memutuskan sendiri untuk menggesernya ke arah barat, terkadang hingga ratusan meter, sehingga menciptakan perbatasan baru,” kata tentara tersebut, merujuk pada penghalang beton yang menandai garis itu.
Menurut dia, penduduk Palestina di Gaza tidak memiliki cara untuk mengetahui di mana batas baru tersebut dimulai. Ia menambahkan, para komandan militer mendorong tentara membunuh siapa saja yang mendekati garis tersebut.
“Mereka berusaha menjerat orang dengan tuduhan tanpa intelijen dan tanpa bukti, secara retrospektif, sekadar untuk menciptakan pembenaran atas sebuah serangan,” katanya, menggambarkan tekanan yang diterimanya bersama rekan-rekannya untuk menembaki penduduk Palestina yang mendekati garis tersebut.
Menurut tentara cadangan itu, konsep “kerugian kolateral” (dampak sampingan) dengan cepat tidak lagi dipertimbangkan.
“Mereka menembak siapa saja yang mereka lihat,” katanya, menggambarkan suasana di dalam unit serangannya seperti berada di stadion sepak bola.
“Seperti ketika mereka meneriaki pemain, ‘Ayo, cetak gol,’ mereka meneriaki tentara, ‘Bunuh dia, serang dia.’”
Kepada Haaretz, tentara cadangan itu juga mengatakan dirinya menyaksikan pasukan Israel memantau tindakan kriminal yang dilakukan milisi yang didukung militer, tanpa melakukan intervensi.
“Mereka membakar deretan rumah dan kami menyaksikannya dari atas. Pembakaran, penjarahan, penembakan,” katanya.
Bulan lalu, Haaretz melaporkan bahwa militer Israel membiarkan tentara bayaran, kelompok kriminal, dan pengedar narkoba melakukan kejahatan perang di Gaza. Haaretz menggambarkan perilaku tersebut sebagai sesuatu yang “mengingatkan pada pembantaian Sabra dan Shatila”, yang terjadi di kamp pengungsi dan kawasan permukiman Lebanon pada 1982.
(T.FJ/S: MEE)