Jika Gaza Masih Lapar dan Mati, Apa yang Sebenarnya Dirayakan dari Gencatan Senjata?

Anak gadis Palestina yang telah menjadi pengungsi menangis setelah menerima makanan di Nuseirat, Gaza, pada 2 November 2025. (Foto: Eyad Baba/AFP)

Ditulis oleh: Ruth James*

Gaza, SPNA – Gencatan senjata di Gaza tidak menghentikan hukuman kolektif Israel terhadap penduduk Palestina wilayah tersebut. Penduduk Palestina masih dibunuh, dan masyarakat tetap berada dalam kondisi rentan, ketakutan, serta sengaja dibiarkan kekurangan, di tengah kehancuran yang nyaris tak terbayangkan.

Saya telah kembali ke Inggris sejak beberapa hari sebelum gencatan senjata diumumkan, akan tetapi pikiran saya masih tertinggal di Gaza. Ada rasa lega karena pengeboman sebagian besar telah berhenti, tetapi bagaimana saya bisa merayakannya ketika begitu banyak orang telah tiada?

Dengan temuan para pakar hukum independen yang menyatakan adanya bukti masuk akal bahwa Israel telah melakukan genosida, keadaan darurat hukum dan moral ini bukan saatnya untuk merayakan, melainkan bertindak.

Saya telah tiga kali masuk Gaza sejak Oktober 2023. Saat berada di sana pada September lalu, Israel mengeluarkan perintah pengungsian paksa yang melanggar hukum internasional untuk seluruh Kota Gaza (wilayah yang tengah dilanda kelaparan) dengan memerintahkan satu juta orang meninggalkan rumah dan tempat perlindungan mereka.

Saya menyaksikan rekan-rekan saya kembali harus mengemasi hidup mereka, kehilangan sisa-sisa harapan terakhir. Selama dua tahun terakhir, saya mengikuti mereka melalui pengungsian demi pengungsian, melalui kebahagiaan ketika bisa pulang, upaya membangun kembali, masa berkabung, hingga bertahan dari kelaparan, hanya untuk diusir lagi oleh Israel.

Mereka menangis. Saya menangis. Banyak yang menggambarkan saat itu sebagai “akhir segalanya”.

Meski pengeboman terus-menerus dari darat, laut, dan udara; meski kelaparan melanda dan harga pangan lebih dari tiga kali lipat harga yang saya bayarkan di supermarket, banyak yang memilih tidak pergi. Sebagian tidak mampu. Banyak yang terlalu lelah. Ada pula yang memilih bertahan.

“Lebih baik saya mati di rumah,” kalimat itu terus saya dengar berulang kali, “meski sekarang rumah itu hanyalah tenda di atas puing tempat rumah saya dulu berdiri.”

Keterlibatan Internasional

Selama hari-hari itu, Israel mengeluarkan berkali-kali perintah pengungsian paksa “berlaku seketika”, dengan membagikan koordinat GPS melalui media sosial atau selebaran yang dijatuhkan dari udara. Saya melihat rekan saya dengan panik memetakan zona-zona tersebut dengan lokasi para staf kami, yang sebagian besar tidak memiliki akses internet.

Ia menelepon mereka satu per satu, memberi tahu bahwa mereka harus segera pindah. Itu adalah pekerjaan paling memilukan yang pernah saya saksikan.

Bagi mereka yang mengungsi ke selatan Jalur Gaza, perjalanan berlangsung kacau. Anak-anak membakar plastik untuk membuat bahan bakar rakitan, memenuhi udara dan paru-paru mereka dengan asap hitam pekat yang beracun.

Di kamp-kamp tanpa fasilitas toilet, keluarga menggali lubang di dalam tenda untuk menjaga sedikit martabat yang tersisa. Di rumah-rumah yang instalasi sanitasinya masih berfungsi, orang asing mengantre untuk menggunakan toilet.

Krisis ini terjadi dengan keterlibatan kekuatan politik, termasuk pemerintah negara saya sendiri di Inggris, yang terus memasok senjata kepada Israel, melanggar kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional.

Penduduk Palestina di Gaza telah kehilangan anak, orang tua, rumah, pekerjaan, dan komunitas. Salah satu sahabat dekat saya kehilangan dua saudara perempuan serta 12 anak mereka dalam satu serangan.

Meski ada janji untuk membuka seluruh perlintasan Gaza guna memperlancar aliran bantuan dan barang, Oxfam terus mendapati permintaan kami untuk membawa masuk kebutuhan dasar ditolak berulang kali. Barang-barang seperti beras, madu, biskuit, sabun, pembalut, dan unit desalinasi untuk air minum aman tetap tertahan di gudang yang jaraknya sangat dekat, namun tetap tak terjangkau oleh mereka yang paling membutuhkannya.

Ada sedikit peningkatan arus barang dagangan, dan Oxfam bersama mitra berhasil memperluas program bantuan tunai digital dan voucher untuk membantu warga membeli kebutuhan pokok; meskipun demikian, harga yang hanya sedikit turun tetap terlalu tinggi bagi banyak orang.

Kekal dalam Ingatan

Ada hal-hal yang tak akan pernah saya lupakan. Salah satunya adalah bahwa Oxfam memiliki persediaan makanan yang tertahan tepat di luar Gaza, sementara para ibu duduk di samping anak-anak mereka yang sekarat karena kelaparan. Saya tidak akan merayakan apa pun selama mereka yang menghalangi masuknya makanan itu tidak dimintai pertanggungjawaban atas kematian akibat kelaparan yang mengerikan ini.

Saya tidak akan pernah lupa rekan saya yang bercerita tentang putranya yang berusia empat tahun; bagaimana anak itu berkata ingin ditembak saja agar bisa pergi ke surga, karena di sana Tuhan akan memberinya sebuah pisang. Ia sudah berbulan-bulan meminta pisang, karena makanan dilarang masuk.

Saya tidak akan lupa melihat seorang kolega meninggalkan kantor setelah mendengar kabar keponakannya dibunuh, lalu kembali bekerja keesokan harinya. Atau kisah Tasneem, pekerja dukungan psikososial di mitra kami, Juzoor, yang dibunuh bersama tiga anaknya dalam serangan udara. Ia sedang hamil.

Bagaimana saya atau siapa pun dapat merayakan gencatan senjata yang datang dua tahun terlambat, dalam perang di mana tak ada satu keluarga pun yang selamat utuh dan kompas moral dunia diuji dan gagal?

Gencatan senjata tidak dapat memperbaiki dampak seumur hidup kelaparan pada seorang anak, atau duka keluarga yang bahkan tidak memiliki tubuh orang yang mereka cintai untuk dimakamkan, atau trauma yang akan diwariskan dari generasi ke generasi.

Gencatan senjata tanpa keterwakilan semua pihak di meja perundingan sangat membatasi keberhasilannya. Sejarah telah mengajarkan hal itu. Ketika saya melihat pihak-pihak yang ingin membangun kembali Gaza, semuanya laki-laki, dan tak satu pun tampak berasal dari Palestina. Penduduk Palestina, terutama perempuan Palestina, harus memimpin pengambilan keputusan tentang masa depan mereka, serta masa depan keluarga dan komunitas mereka.

Gencatan senjata tanpa akuntabilitas berdasarkan hukum internasional terasa hampa. Tidak ada perdamaian bermakna yang tercapai hanya dengan menghentikan genosida yang seharusnya tidak pernah terjadi. Selama gencatan senjata ini belum disertai keadilan yang nyata bagi rakyat Palestina dan pertanggungjawaban atas pelanggaran yang mereka alami, merayakannya justru berarti mengkhianati semua hal yang telah hilang dari diri mereka.

___

*Ruth James adalah Koordinator Kemanusiaan Regional Oxfam untuk Timur Tengah dan Afrika Utara. Sebelumnya ia bekerja dalam berbagai program kemanusiaan di sejumlah negara, termasuk Nigeria, Afghanistan, Irak, dan Nepal. Ia secara rutin ditugaskan ke negara-negara di kawasan tempat Oxfam menjalankan program, serta untuk merespons keadaan darurat yang baru muncul.

(T.FJ/S: MEE)

 

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya