Tel Aviv, SPNA – Pada 11 September 2001, ketika asap masih mengepul dari Menara Kembar WTC dan Pentagon, dua pertemuan berlangsung—satu di Tel Aviv dan satu lagi di Washington—untuk menjadikan Irak sebagai target. Perdana Menteri Israel saat itu, Ariel Sharon, mengadakan pertemuan darurat dengan kabinet Keamanan Nasionalnya dan memutuskan untuk memanfaatkan serangan tersebut guna mendorong perang melawan Irak yang dipimpin Saddam Hussein.
Agen-agen Israel yang tertanam dalam pemerintahan Bush yang berpandangan keras (hawkish) diberi tugas untuk menjalankan agenda ini. Sementara itu, Menteri Pertahanan AS saat itu, Donald Rumsfeld, dan wakilnya, Paul Wolfowitz, memulai diskusi internal untuk menjadikan Irak sebagai target.
Menurut kesaksian Menteri Luar Negeri Colin Powell di hadapan Komisi 9/11, “Wolfowitz (bukan Rumsfeld) yang berpendapat bahwa Irak adalah sumber utama masalah terorisme dan karena itu harus diserang.” Ia meyakini bahwa Irak adalah akar dari persoalan terorisme. Di dalam Pentagon, “Wolfowitz terus mendesak agar Irak segera ditangani.”
Pada 11 September itu juga—meskipun AS telah mengidentifikasi Al-Qaeda yang berbasis di Afghanistan sebagai pelaku serangan—Direktur CIA George Tenet menyetujui pembentukan Kelompok Operasi Irak (Iraq Operations Group/IOG), yang dipimpin oleh dua veteran operasi rahasia, Luis Rueda dan John Maguire.
Dalam waktu 24 jam, keduanya mulai menyusun rencana destabilisasi Irak. Operasi tersebut diberi sandi DB/ANABASIS (“DB” adalah sandi CIA untuk Irak), dan diluncurkan jauh sebelum ada deklarasi perang resmi, serta sebelum publik Amerika disiapkan untuk mendukung tuduhan palsu soal senjata pemusnah massal (WMD) di Irak.
Rueda dan Maguire memiliki pengalaman panjang dalam operasi rahasia di Amerika Latin dan Afghanistan. Mereka pernah gagal menjatuhkan Saddam sebelumnya—terutama dalam operasi DB/ACHILLES pada 1995. Namun kali ini, panggung telah disiapkan, dana tersedia, dan iklim politik mendukung.
Inti dari semuanya, saat dunia masih fokus pada Al-Qaeda dan Afghanistan, Irak sudah lebih dulu dipilih sebagai target utama.
Operasi DB/ANABASIS
Disetujui oleh Presiden AS George W. Bush pada Februari 2002 dan didukung oleh dana sebesar $400 juta atau sekitar 6,4 triliun rupiah, DB/ANABASIS adalah panduan sabotase, disinformasi, perang psikologis, pemberontakan bersenjata, dan pembunuhan terhadap pejabat Irak. Meskipun CIA secara hukum dilarang melakukan pembunuhan, istilah-istilah seperti “operasi aksi langsung” digunakan untuk menyamarkan niat sebenarnya.
Tujuan pertama adalah memperdalam paranoia Saddam Hussein. Dengan menciptakan kekacauan melalui tipu daya, CIA berharap Saddam akan bertindak secara brutal dengan menangkap, menyiksa, dan mengeksekusi orang-orangnya sendiri dalam upaya panik untuk menemukan pengkhianat.
Tim Maguire masuk ke wilayah Kurdistan Irak pada April 2002 dan berhasil mendapatkan dukungan dari para pemimpin Kurdi seperti Masoud Barzani dan Jalal Talabani dengan imbalan jaminan dari AS. Pada musim gugur, DB/ANABASIS mulai dijalankan secara penuh.
Irak, yang sudah lemah karena perang, sanksi, dan larangan terbang selama satu dekade, secara sistematis “dilunakkan” sebelum invasi militer. Tujuan dari operasi ini bukan untuk menggantikan perang, melainkan untuk memastikan bahwa Irak tidak mampu menolak saat perang benar-benar dimulai.
Peralihan Target: Dari Irak ke Iran
Pada Januari 2002, Presiden Bush menyampaikan pidato “Poros Kejahatan” yang terkenal, menyamakan Iran dan Irak. Pidato itu ditulis oleh neokonservatif David Frum, yang seperti Oded Yinon (penulis Rencana Yinon) adalah pengikut Ariel Sharon.
Pidato ini mengikuti logika strategis dari laporan “A Clean Break” yang ditulis oleh tokoh-tokoh neokonservatif seperti Richard Perle, Doug Feith, dan David Wurmser untuk Benjamin Netanyahu pada 1996. Target aslinya adalah Irak, Iran, dan Suriah. Untuk mengaburkan jejak keterlibatan Israel, Korea Utara dimasukkan sebagai pengalih perhatian.
Strateginya sederhana: Tumbangkan Irak dulu, lalu Iran. Setelah itu, Suriah dan Hizbullah akan mudah dikalahkan.
Irak jatuh pada 2003. Suriah telah hancur. Kini, Iran menjadi domino terakhir yang ingin dijatuhkan. Dan alat-alat yang dulu digunakan terhadap Irak kini dihidupkan kembali untuk digunakan terhadap Iran.
Membangun Ulang ANABASIS untuk Iran
Prinsip-prinsip dari DB/ANABASIS kini diterapkan di Iran: sanksi untuk melemahkan ekonomi, sabotase dan pembunuhan untuk menciptakan kekacauan dan ketakutan, serta operasi psikologis untuk merusak kepercayaan publik.
Kelompok oposisi Iran menjadi kunci dalam operasi ini. Pada 2012, Presiden AS Barack Obama menghapus Mujahidin-e-Khalq (MEK) dari daftar organisasi teroris Departemen Luar Negeri AS. MEK kemudian dipindahkan ke Albania dan kini beroperasi dari Kamp Ashraf, melancarkan serangan dunia maya dan teror terhadap Republik Islam Iran.
CIA juga memanfaatkan kelompok separatis Kurdi dan Baluch dalam operasinya. Mossad, sering bekerja sama dengan CIA, diduga berada di balik pembunuhan ilmuwan seperti Mohsen Fakhrizadeh, serta serangan teroris di Tehran (2017), Ahvaz (2018), Chabahar (2019), dan Shah Cheragh (2022 dan 2023). Serangan terbaru di Kerman (2024) diduga memiliki pola yang sama.
Protes setelah kematian Mahsa Amini juga diduga dibajak oleh agen-agen yang berafiliasi dengan CIA atau Mossad, yang dipersenjatai dengan bom molotov dan senjata api, berbeda dari demonstrasi damai sebelumnya.
Kebakaran di Bandar Abbas, Karaj, dan Mashhad pun diduga termasuk dalam bagian operasi ANABASIS, bukan kecelakaan, melainkan sabotase ekonomi dan psikologis.
Perang Tersembunyi: Dampak Psikologis dan Strategis
“Mr. Bond, orang-orang punya pepatah di Chicago: Sekali adalah kebetulan. Dua kali adalah kebetulan. Namun, tiga kali adalah aksi musuh,” – Goldfinger (1959)
Seorang analis Iran menyebut sabotase di Bandar Abbas, Karaj, dan Mashhad sebagai serangan “kasar” yang menargetkan infrastruktur sipil. Penilaian ini meremehkan dampak militer dan psikologisnya: seperti di Lebanon, aksi-aksi ini merusak infrastruktur, menewaskan warga sipil, dan menimbulkan kepanikan.
Sabotase paling efektif ketika tampak acak, akan tetapi terjadi bertepatan dengan momen politik penting. Ketika mantan Ketua Parlemen Ali Larijani muncul di televisi saat pemadaman listrik di Karaj, pesan yang ingin disampaikan jelas: “Pemimpin kalian tidak mampu melindungi kalian.”
Operasi semacam ini memicu kecurigaan internal. Badan-badan keamanan Iran harus menyelidiki kolega, anggota keluarga, bahkan teman sendiri. Saat mereka mengejar “hantu”, kepercayaan pun runtuh. Kontraintelijen akan menargetkan staf keamanan di lokasi-lokasi terdampak, menimbulkan paranoia. Teheran menjadi terobsesi dengan penyusup dan mata-mata asing.
Selama Perang Dingin, KGB (Badan Intelijen Uni Soviet) sangat ahli dalam membuat CIA mencurigai stafnya sendiri. Hasilnya adalah “perburuan mata-mata” yang menghancurkan moral internal. Kini, dinamika serupa tengah terjadi di Iran.
Tujuan Akhir: Runtuh dari Dalam
Strategi CIA bertujuan menghancurkan persatuan dan semangat bangsa sebelum perang terbuka. Washington dan Tel Aviv berharap Iran, seperti Irak sebelumnya, runtuh dari dalam akibat tekanan dan kekecewaan rakyatnya sendiri.
John Maguire pernah berkata bahwa DB/ANABASIS adalah tentang “membalas dendam” terhadap Saddam. Pendekatan yang mengubah kebijakan luar negeri menjadi ajang balas dendam ini masih mendominasi strategi AS. Di Pentagon dan CIA, banyak tokoh melihat Iran melalui lensa krisis sandera 1979 serta dukungan Teheran terhadap pemberontakan di Irak dan Taliban.
Pasukan Amerika, terutama yang menjadi korban bom jalanan (IED) di Irak, memiliki kebencian mendalam terhadap Garda Revolusi Iran (IRGC). Salah satu varian IED paling mematikan, yaitu explosively formed penetrator (EFP), dikaitkan dengan rancangan Iran, dengan intelijen Israel yang membantu menuding hal tersebut.
Kebencian ini, ditambah sentimen pro-Israel dan pandangan dunia hitam-putih, membuat banyak tokoh dalam pemerintahan Trump mendukung tindakan keras terhadap Iran, termasuk Mike Waltz, salah satu pendukung utama konfrontasi. Menurut Foreign Policy:
“Kita sedang menyaksikan perjuangan ideologis antara para pendukung kebijakan luar negeri ‘realistis’ ala America First, khususnya terkait Iran dan faksi neokonservatif yang telah lama mengakar dan mendorong perubahan rezim di satu lagi negara Timur Tengah.”
Trump kerap mengeluhkan soal “Negara Dalam” (Deep State), akan tetapi ia gagal memahami hakikat sebenarnya sebuah jaringan yang bukan ingin memenjarakannya, melainkan melewati otoritas kepresidenan demi menjalankan agenda-agenda tertentu jangka panjang. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan jaringan tersembunyi kekuasaan di dalam pemerintahan yang bekerja di luar kontrol resmi presiden atau pemimpin negara, biasanya terdiri dari pejabat intelijen, militer, birokrasi senior, pengusaha, dan elit politik tertentu. Bagi Deep State dan juga Israel, Iran telah lama menjadi target utama selama beberapa dekade terakhir.
(T.FJ/S: The Cradle)