Ditulis oleh: Maah Noor Ali*
Kashmir, SPNA – Ketika bom terus dijatuhkan di Gaza dan dunia memilih untuk tidak peduli, proyek kolonialisme pemukim lainnya diam-diam mencatat. Dari New Delhi hingga Tel Aviv, kesamaan ideologi antara Zionisme Israel dan gerakan Hindutva di India semakin terlihat nyata, terutama ketika India menyerang Pakistan.
Akibat genosida yang dilakukan Israel di Gaza tidak menghadapi pertanggungjawaban internasional yang berarti, Perdana Menteri India Narendra Modi punya alasan kuat untuk percaya bahwa ia juga bisa melanjutkan proyek nasionalisme etnisnya tanpa takut hukuman.
Saat Israel mengebom rumah sakit, dunia sibuk berdebat apakah Hamas bersembunyi di bawahnya. Tapi ketika India mengebom masjid, dunia hanya mengangkat bahu, bukankah itu mungkin markas “teroris”? Toleransi masyarakat internasional terhadap Israel yang menjatuhkan bom buatan AS ke kamp pengungsi menciptakan preseden berbahaya, memberi sinyal pada pemerintah lain bahwa mereka pun bisa melakukan kekejaman tanpa konsekuensi.
India Memperhatikan dengan Saksama dan Meniru
Dan minggu ini, keyakinan itu berubah menjadi kekerasan nyata. Pada 6 Mei, India meluncurkan serangan misil ke Pakistan dalam operasi yang disebut Operasi Sindoor, nama yang memiliki makna budaya Hindu yang kuat. Pemerintah India mengklaim bahwa serangan ini adalah serangan presisi terhadap “infrastruktur teroris”, sebagai balasan atas serangan 22 April di kota Pahalgam, Kashmir yang dikuasai India, yang menewaskan 26 turis Hindu. Namun, belum ada bukti konkret yang menghubungkan serangan itu dengan Pakistan. Tapi bagi pemerintah India, fakta bukanlah hal utama. Tujuannya adalah pertunjukan kekuatan.
Sembilan lokasi di Pakistan dan wilayah Kashmir yang dikelola Pakistan diserang. Di Bahawalpur, sebuah misil menghantam masjid. Seorang anak dan tujuh orang lainnya meninggal dunia. Tiga puluh satu pria dan wanita terluka. Banyak warga sipil meninggal, keluarga berduka, dan pemerintah India dengan cepat menyebut operasi itu “terukur”. Kata itu sudah sering kita dengar sebelumnya. Bahasa yang sama digunakan saat Israel menghancurkan sekolah di Rafah atau membom rumah sakit di Khan Younis. Kata-kata seperti “surgical”, “presisi”, “beralasan”, adalah bahasa perang kolonial, yang sudah dirancang sedemikian rupa.
Solidaritas antara Zionisme dan Hindutva bukan sekadar metafora. Ini nyata dan nyata secara material. India kini menjadi salah satu pembeli senjata terbesar dari Israel. Sistem pengawasan yang diuji di Tepi Barat kini digunakan untuk memantau lingkungan di Kashmir. Drone Israel yang menakuti langit Gaza kini digunakan India untuk mengawasi daerah mayoritas Muslim. Pertukarannya bukan hanya senjata, akan tetapi juga ideologi, strategi, dan rasa kebal hukum.
Pada 2019, ketika Modi mencabut Pasal 370 dan mencabut otonomi terbatas Jammu dan Kashmir, itu adalah deklarasi terbuka dari niat kolonisasi. Puluhan ribu pasukan tambahan dikerahkan. Komunikasi diputus. Wartawan dibungkam. Wilayah itu dikunci, sementara India mulai membangun fondasi hukum dan infrastruktur untuk perubahan demografi. Modelnya? Pendudukan Israel yang terus berlangsung di Tepi Barat.
Hari ini, ketika Gaza hancur menjadi abu, Kashmir menyaksikan. Begitu juga seluruh anak benua. Ini bukan hanya tentang Kashmir. Ini adalah bagian dari mandat yang lebih luas untuk supremasi Hindu di seluruh India—yang memandang umat Kristen, Dalit, Sikh, dan terutama Muslim, sebagai hambatan terhadap identitas nasional yang “murni”. Seperti Zionisme, Hindutva mengklaim dirinya sebagai sesuatu yang kuno, suci, dan damai, sehingga setiap perlawanan terhadapnya dapat diberi label sebagai ekstremisme.
Kita melihat pola ini lagi minggu ini. Serangan di Pahalgam, meskipun tragis, langsung dijadikan pembenaran untuk kekerasan lintas batas. Tidak ada penyelidikan menyeluruh. Tidak ada ruang untuk keraguan. Tidak ada pertanggungjawaban atas dampaknya. Inilah versi Modi dari taktik propaganda yang digunakan Israel: banjiri media dengan narasi kebenaran, biarkan bom yang bicara.
Para korban, baik di Gaza, Bahawalpur, atau Srinagar, selalu digambarkan sebagai ancaman bagi perdamaian yang dipaksakan atas mereka. Kesedihan mereka dianggap sebagai bentuk radikalisme. Keinginan mereka untuk bertahan hidup menjadi tidak nyaman. Kematian mereka sering kali dianggap wajar.
Di sini, bukan hanya pemerintah yang bersalah. Dunia pun ikut membiarkan ini terjadi. Hal yang membuat Netanyahu merasa kuat, juga membuat Modi merasa tak tersentuh: diamnya negara-negara demokrasi liberal, keprihatinan palsu dari PBB, dan keengganan AS, Inggris, serta Eropa untuk menjatuhkan sanksi atau menghentikan bantuan. Ini mengajarkan pemimpin otoriter lainnya pelajaran penting: jika kamu berguna, jika kamu mengatakan hal-hal yang “tepat” tentang terorisme, maka kamu bisa melakukan apa saja.
Modi sedang menyaksikan Gaza terbakar. Dan ia bukan sekadar menonton, ia sedang belajar, menguji, dan mempraktikkan.
Hari ini Bahawalpur. Besok mungkin Lahore. Atau kota lain mana pun. Namun, pesannya sudah jelas: dunia tidak akan campur tangan. Dunia akan membiarkan kejahatan seperti ini.
Jadi, ketika penduduk sipil Palestina melawan pengepungan genosida, dan warga Kashmir berjuang di bawah pendudukan militer, solidaritas kita harus tajam, lintas batas, dan tanpa kompromi. Kita harus berani menyebut ideologi ini dengan nama yang sebenarnya: kolonialisme pemukim, fasisme, dan apartheid. Kita harus berhenti berpura-pura bahwa ini adalah perjuangan yang terpisah.
Ini bukan perjuangan terpisah. Ini adalah bagian dari satu kisah global yang sama. Dan Modi sedang menulis bab berikutnya, dengan tinta dari Israel.
___
*Maah Noor Ali merupakan seorang penulis, aktivis, dan pengacara, yang mengkhususkan diri pada studi Asia Selatan dan Timur Tengah.
(T.FJ/S: Mondoweiss)