Israel Runtuh dari Dalam: Kepemimpinan Picik Netanyahu Hancurkan Stabilitas Dalam Negeri

Artikel oleh Ramzi Baroud di posting di situs Palestine Chronicle

Ramzy Baroud adalah jurnalis, penulis, dan cendekiawan Palestina yang dikenal karena konsistensinya mengangkat narasi rakyat Palestina melalui tulisan tajam dan berbasis pengalaman. Ia menjabat sebagai Editor The Palestine Chronicle, media independen yang fokus pada isu Palestina dan Timur Tengah.

Ramzi Baroud
Ramzi Baroud


Baroud telah menulis enam buku, termasuk Our Vision for Liberation yang ia sunting bersama sejarawan Ilan Pappé, menampilkan pandangan pemimpin dan intelektual Palestina tentang visi pembebasan. Selain jurnalisme, Baroud juga aktif di dunia akademik sebagai Peneliti Senior Non-Residen di Center for Islam and Global Affairs (CIGA), dan sering tampil dalam forum internasional membahas kolonialisme serta hak asasi manusia. Lahir di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza, latar belakang ini memberi warna kuat pada karya-karyanya yang humanis dan analitis. Melalui situs pribadinya, ia terus menyuarakan perjuangan Palestina dengan integritas tinggi.

Jalur Gaza, SPNA – Hanya dalam waktu 24 jam, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mencalonkan Eli Sharvit sebagai kepala baru Shin Bet, badan intelijen dalam negeri Israel, lalu dengan cepat mencabut pencalonan tersebut.

Episode ini menyoroti tidak adanya koherensi dalam kepemimpinan Netanyahu, sekaligus memperkuat persepsi bahwa keputusan di tingkat tertinggi pemerintahan diambil secara impulsif dan tanpa rencana yang jelas.

Ini juga menjadi bukti lebih lanjut bahwa Netanyahu mudah dipengaruhi, bukan hanya oleh sekutu-sekutu ekstremis kanan dalam koalisinya, tetapi juga oleh kekuatan asing, pemerintah luar negeri, dan bahkan, seperti dilaporkan media Israel, oleh istrinya sendiri; Sara.

Proses pengambilan keputusan yang kacau ini turut menjelaskan betapa rendahnya tingkat kepercayaan rakyat Israel terhadap kepemimpinannya. 

Survei opini publik terbaru menunjukkan bahwa persentase signifikan warga Israel kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah mereka dan menyerukan pemilu baru atau pengunduran diri Netanyahu.

Ketidakpercayaan ini sering dikaitkan dengan kegagalan Netanyahu dalam mencegah serangan 7 Oktober dan ketidakmampuannya untuk memenangkan perang yang kini berubah menjadi genosida di Gaza.

Namun, masalahnya melampaui kegagalan-kegagalan tersebut. Warga Israel telah kehilangan keyakinan karena tidak melihat Netanyahu sebagai pemimpin yang bertindak demi kepentingan nasional. Ia telah begitu lekat dengan kekuasaan hingga rela menghasut perpecahan sipil di dalam negeri hanya demi mempertahankan jabatannya.

Akibatnya, tidak mengherankan jika Netanyahu juga bersedia mengorbankan nyawa lebih dari 15.000 anak-anak di Gaza, bersama puluhan ribu warga sipil tak berdosa, hanya demi memperpanjang kekuasaan politiknya.

Politik Israel terkenal tidak stabil, dan koalisi pemerintahan jarang bertahan lama. Dalam konteks tersebut, pemerintahan retak Netanyahu bisa dianggap sebagai cerminan dari sejarah ketidakstabilan politik Israel itu sendiri.

Konflik yang sedang berlangsung antara pemerintah dan militer, meski tidak biasa, juga bisa dipahami sebagai bagian dari tren yang berkembang di mana kelompok kanan Israel berupaya mengendalikan semua institusi, termasuk militer.

Peristiwa 7 Oktober, dan perang yang gagal setelahnya, keduanya kini menjadi objek penyelidikan kritis, telah menghancurkan keseimbangan rapuh yang selama ini memungkinkan Netanyahu dan koalisi kanan-kanannya mempertahankan kekuasaan tanpa memicu pemberontakan massal.

Tekanan publik Israel telah menjadi faktor kunci dalam menjaga keseimbangan itu. Misalnya, gelombang kemarahan publik memaksa Netanyahu mengembalikan mantan Menteri Pertahanan Yoav Galant ke jabatannya pada April 2023.

Namun, 18 bulan perang di Gaza, Lebanon, dan kini Suriah telah memberi Netanyahu ruang untuk menggunakan status darurat negara sebagai alat untuk menindas oposisi, membungkam suara kritis, dan mengabaikan tuntutan untuk menghentikan perang serta merundingkan kesepakatan akhir.

Kini ia telah menjadikan perang sebagai panggung untuk menjalankan agenda politik internal yang sebelumnya gagal ia wujudkan sebelum 7 Oktober. 

Pilar Keamanan Dalam Negeri yang Kini Dirusak

Didirikan oleh Perdana Menteri pertama Israel, David Ben-Gurion, pada 1949, Shin Bet telah lama menjadi pilar utama keamanan dalam negeri Israel.

Meskipun misi utamanya adalah kontra-terorisme, pengumpulan intelijen, dan perlindungan bagi pejabat Israel, perannya memiliki makna yang jauh lebih besar bagi stabilitas negara.

Salah satu tujuan utama Shin Bet adalah mencegah spionase dan subversi internal. Mengingat kegagalan intelijen yang terungkap dalam peristiwa 7 Oktober, setiap restrukturisasi besar-besaran terhadap lembaga sepenting ini bisa berakibat bencana bagi Israel.

Meski kepala Shin Bet melapor langsung kepada perdana menteri, telah menjadi kesepakatan tidak tertulis bahwa jabatan ini harus tetap berada di atas pertarungan politik. Maka keputusan Netanyahu untuk memecat Ronen Bar pada 2 Maret lalu mengejutkan masyarakat Israel, bahkan lebih dari pemecatan mantan kepala staf Herzi Halevi atau Yoav Galant. 

Tindakan Netanyahu ini melanggar aturan besar dalam politik Israel, dan semakin memperparah krisis internal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Mantan kepala Shin Bet, Nadav Argaman, bahkan mengancam akan mengungkap informasi rahasia, mengisyaratkan bahwa lembaga ini siap ikut masuk ke dalam pusaran konflik kekuasaan internal, sesuatu yang dikhawatirkan bisa berujung pada perang saudara.

Namun pembatalan pencalonan Eli Sharvit, yang semula disiapkan untuk menggantikan Bar, mungkin adalah aspek paling mencolok dari krisis ini. Keputusan itu mempertegas betapa tidak stabil dan tak terarahnya langkah Netanyahu, sekaligus memperkuat posisi lawan-lawannya yang semakin bertekad menjatuhkannya. Seperti dikatakan pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, Netanyahu kini telah menjadi “ancaman eksistensial bagi Israel.”

Beberapa analis berpendapat bahwa pembatalan pencalonan Sharvit disebabkan oleh tekanan dari Amerika Serikat, terutama karena Sharvit pernah menulis artikel yang mengkritik mantan Presiden AS Donald Trump.

Sementara sebagian orang melihat hal ini sebagai bukti bahwa agenda Netanyahu sangat ditentukan oleh AS, kesimpulan semacam itu dianggap terlalu menyederhanakan. Meski AS memang punya pengaruh besar, keputusan Netanyahu dibentuk oleh berbagai faktor kompleks.

Netanyahu tampaknya berusaha menampilkan pencabutan pencalonan Sharvit bukan sebagai tanda kepatuhan politik, melainkan sebagai langkah strategis atau isyarat kepada Trump. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kembali dukungan penuh dari Washington atas agenda perangnya di Gaza dan di seluruh kawasan Timur Tengah.

(T.RS/S:MEMO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya