Yahudi Radikal Coba Laksanakan Ritual Kurban Paskah di Al-Aqsa, Namun Berhasil Digagalkan

Al-Quds, SPNA – Upaya kelompok ekstremis Yahudi untuk menyelundupkan dan menyembelih hewan kurban di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa berhasil digagalkan pada Senin pagi oleh para penjaga dan jamaah yang siaga. Insiden ini terjadi saat seorang pemukim berhasil menyelundupkan seekor anak kambing melalui Gerbang al-Ghawanima, dalam rangka perayaan ‘’Paskah Kedua’’ yang dihidupkan kembali oleh kelompok Yahudi radikal sejak 2021. 

Aksi ini menuai kecaman luas dari para ulama, lembaga keagamaan Palestina, hingga pemerintah Yordania, dan dinilai sebagai bagian dari proyek sistematis Yahudisasi Al-Quds yang mengancam status quo Masjid Al-Aqsa.

Dalam rekaman video yang beredar, empat pemukim Israel terlihat mendekati gerbang sisi barat kompleks masjid. Salah satu dari mereka membawa anak kambing dalam kantong plastik lalu menerobos ke area masjid sebelum dicegah oleh penjaga dan diserahkan ke polisi. 

Tiga lainnya ditahan oleh aparat, meskipun belum ada kejelasan apakah mereka akan benar-benar dikenai tindakan hukum. Keberadaan aparat kepolisian Israel yang berjaga namun membiarkan penyusupan tersebut berlangsung, mengindikasikan keterlibatan pemerintah Israel dalam upaya sistematis mengubah realitas di Al-Aqsa.

Majelis Ulama Palestina mengecam keras insiden ini sebagai pelanggaran berat terhadap kesucian Masjid Al-Aqsa dan memperingatkan bahwa penyusupan hewan kurban ke dalam kompleks masjid adalah perkembangan yang sangat berbahaya. “Ini bukan kejadian biasa. Ini adalah bagian dari proyek jangka panjang kelompok radikal Yahudi untuk memberlakukan pembagian temporal dan spasial di Al-Aqsa,” tegas pernyataan resmi mereka. Majelis juga menuntut komunitas internasional untuk segera bertindak dan mengingatkan bahwa jika pelanggaran ini dibiarkan, konsekuensinya akan sangat serius dan tidak terkendali.

Pakar urusan Al-Quds, Ziyad Ibhis, menyebut insiden ini sebagai puncak  dari kampanye 12 tahun kelompok Yahudi radikal “Temple Mount” yang sebelumnya hanya mampu mengadakan parade simbolik kurban di sekitar kawasan Al-Aqsa. Ia menjelaskan bahwa ideologi Zionisme religius mendorong praktik kurban darah sebagai syarat menyambut Mesias, dan momentum “Paskah Kedua” dimanfaatkan untuk memaksakan ritual Talmud di dalam masjid suci umat Islam tersebut.

Sementara itu, Dr. Abdullah Ma’ruf, pakar studi Baitul Maqdis, mengungkapkan bahwa aksi ini dilakukan secara terorganisir. Lima orang terlibat: satu membawa kambing, satu mendokumentasikan, dan sisanya berperan sebagai pengalih perhatian. Mereka memanfaatkan celah pengawasan di salah satu sudut kompleks Al-Aqsa yang relatif sepi untuk mengeksekusi rencana tersebut. “Ini adalah rencana sistematis yang berhasil digagalkan berkat kewaspadaan warga Yerusalem dan penjaga masjid,” ujarnya.

Gerakan Hamas menyatakan bahwa upaya ini adalah bentuk eskalasi berbahaya yang harus dibalas dengan mobilisasi umat Islam secara besar-besaran untuk melindungi Al-Aqsa dari rencana penjajahan Israel. Hamas menilai penyusupan kurban ke dalam masjid bukan sekadar provokasi, melainkan bagian dari strategi Yahudisasi yang sedang berjalan secara agresif di bawah perlindungan militer Israel.

Kecaman serupa datang dari Yordania. Kementerian Luar Negeri Yordania menyebut aksi penyusupan kurban sebagai “preseden berbahaya” dan menegaskan bahwa tindakan ini mengancam status historis dan hukum Masjid Al-Aqsa sebagai situs suci eksklusif umat Islam. 

Sejak 2003, Israel secara sepihak mengizinkan kelompok pemukim Yahudi memasuki masjid melalui Gerbang al-Magharibah. Dalam beberapa tahun terakhir, pelanggaran mereka meningkat dengan melaksanakan doa dan ritual Talmud di dalam area masjid hampir setiap hari, kecuali Jumat dan Sabtu.

Syaikh Ikrimah Shabri, khatib Masjid Al-Aqsa, memperingatkan bahwa peristiwa ini telah melanggar seluruh “garis merah”. Ia menegaskan bahwa Masjid Al-Aqsa adalah hak penuh umat Islam, dan setiap upaya untuk menciptakan realitas baru oleh kelompok Yahudi akan dilawan habis-habisan. “Ini bukan hanya tindakan provokatif, ini adalah deklarasi perang terhadap identitas Islam kota Yerusalem,” katanya.

Insiden ini memperlihatkan bagaimana proyek ideologis Zionis tidak hanya berniat menodai kesucian Al-Aqsa, tetapi secara sistematis berusaha menciptakan realitas baru melalui langkah-langkah kecil namun terencana. Dari parade simbolik, penyusupan, hingga target jangka panjang untuk membangun “kuil imajinatif” di atas reruntuhan Al-Aqsa. Dunia Islam dihadapkan pada kenyataan bahwa jika mereka terus diam, mereka ikut bersalah atas kehancuran situs paling suci ketiga umat Islam, tukasnya. 

(T.RS/S:Palinfo)

#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya