Tanah Gaza Diracuni: Bagaimana Israel Menghancurkan Pertanian untuk Generasi Mendatang

Jalur Gaza, SPNA – Kehancuran di Gaza tidak berhenti pada hancurnya bangunan dan runtuhnya ribuan rumah. Di balik ledakan dan puing yang berserakan, terdapat bencana jangka panjang yang jauh lebih senyap namun  mematikan: kerusakan ekologis total pada tanah dan air yang menjadi fondasi kehidupan dua juta jiwa. 

Apa yang terjadi bukan lagi sekadar dampak perang, tetapi sebuah proses sistematis yang menghancurkan kemampuan Gaza untuk hidup dari tanahnya sendiri. Ini adalah wajah lain dari genosida, lebih lambat, senyap, tetapi tidak kalah mematikan.

Satelit-satelit internasional pada 2025 mencatat skala kehancuran yang tak pernah terjadi sebelumnya. Sekitar 81% bangunan hancur. Namun pukulan terbesar justru menimpa sektor pertanian, tulang punggung kehidupan Gaza selama puluhan tahun. Laporan gabungan FAO dan UNOSAT menunjukkan lebih dari 80% lahan pertanian musnah, termasuk ladang gandum, kebun zaitun, rumah kaca, dan area tanaman sayur. 

Dari total 15.053 hektar lahan yang dulu memberi makan setengah juta warga, hanya 688 hektare yang tersisa, itu pun banyak yang tidak dapat diakses. Beberapa perkiraan terbaru bahkan menyebut angka tersisa tinggal sekitar 232 hektar, nyaris menghapus seluruh basis agraria Gaza.

Kerusakan fisik hanyalah permukaan. Yang lebih mengerikan adalah keruntuhan struktur tanah dan tercemarnya air tanah. Runtuhnya sistem sanitasi, hancurnya pipa air, dan menumpuknya sekitar 61 juta ton puing membuat limbah, air kotor, dan bahan kimia merembes ke lapisan tanah.

Tanah menjadi keras, padat, kehilangan pori untuk menahan air. Sisa-sisa bahan peledak, logam berat, dan abu bangunan yang terbakar menciptakan campuran beracun yang tidak akan hilang dalam waktu dekat. 

UNEP memperingatkan bahwa kontaminasi ini bisa bertahan puluhan tahun dan mengancam kesehatan serta ekosistem secara luas. Lebih dari 82 persen sumur pertanian rusak, sementara air tanah semakin asin dan tercemar nitrat.

Kerusakan ini meluas dari Beit Hanoun di utara hingga Rafah di selatan. Lahan-lahan subur yang dulu menjadi pusat produksi zaitun, stroberi, dan sayuran kini berubah menjadi ladang puing dan kawah ledakan. 

Banyak area yang secara visual tampak masih utuh ternyata secara ekologis sudah mati: tanahnya steril, airnya beracun, dan aksesnya tertutup sisa amunisi yang belum meledak. Di banyak distrik, para petani menemukan bahwa lahan keluarga mereka yang diwariskan turun-temurun tidak lagi bisa ditanami apa pun.

Padahal sebelum genosida terbaru ini, pertanian adalah penyambung hidup ratusan ribu warga Gaza. Sekitar 10% ekonomi Gaza digerakkan oleh sektor agraria, dan lebih dari 560.000 orang bergantung langsung atau tidak langsung pada hasil bumi. 

Dalam kondisi blokade bertahun-tahun, pertanian adalah satu-satunya ruang bernapas. Kini, ruang itu pun dihancurkan secara total, sehingga Gaza dipaksa bergantung sepenuhnya pada bantuan kemanusiaan, sebuah ketergantungan yang tampaknya sengaja diciptakan.

Upaya pemulihan tidak mungkin dilakukan dalam waktu dekat. Bahkan jika gencatan senjata bertahan, Gaza mewarisi tanah yang tercemar, air yang rusak, dan infrastruktur yang lenyap. Untuk menghidupkan kembali sektor pertanian, Gaza harus membersihkan puluhan juta ton puing, menyingkirkan ranjau dan sisa bahan peledak, memulihkan sumur, memperbaiki struktur tanah, dan menanam ulang vegetasi dasar. 

Proses ini membutuhkan teknologi, alat berat, ilmuwan lingkungan, dan akses terbuka, hal-hal ini mustahil dilakukan selama blokade dan ancaman serangan tetap ada. Pemulihan ini tidak bisa diukur dalam hitungan bulan atau tahun. Butuh satu generasi penuh, mungkin lebih.

Akibat dari semua ini jelas: Israel tidak hanya menghancurkan sebuah musim panen, tetapi meruntuhkan seluruh sistem ekologis dan ekonomi yang telah menopang Gaza selama puluhan tahun. 

Dengan meracuni tanah, menghancurkan sumur, dan melumpuhkan kemampuan masyarakat untuk menghasilkan makanan sendiri, Israel meninggalkan bekas luka yang akan menganga lama setelah perang berhenti, jika perang ini benar-benar berhenti. Inilah bentuk ekosida yang terjalin erat dengan genosida: penghancuran lambat terhadap kemampuan suatu bangsa untuk hidup dari tanahnya sendiri.

Jika keruntuhan ekologis ini tidak menjadi bagian utama dari agenda rekonstruksi dan politik internasional, maka setiap rencana masa depan untuk Gaza hanyalah fantasi yang menipu diri sendiri. Gaza tidak hanya membutuhkan bangunan baru, tetapi rehabilitasi ekologis total dalam skala yang jarang terjadi dalam sejarah konflik modern. 

Tanpa itu, masa depan Gaza akan tetap terperangkap dalam kelangkaan, ketergantungan, dan tanah yang tak lagi mampu menumbuhkan kehidupan. Ini adalah warisan paling suram dari perang, kerusakan yang akan bertahan lintas generasi.

(T.RS/S:MiddleEastMonitor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya