Tahun Ajaran Baru di Gaza, Pendidikan Bertahan di Ruang Darurat

Jalur Gaza, SPNA – Selama bertahun-tahun, awal tahun ajaran baru di Jalur Gaza selalu ditandai oleh kesibukan siswa dan orang tua dalam mempersiapkan berbagai kebutuhan sekolah. Namun, pemandangan tersebut kini hampir tidak lagi terlihat. Agresi yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah mengubah wajah pendidikan di Gaza secara drastis, dari sistem pendidikan formal menjadi pendidikan darurat yang berjuang untuk tetap bertahan.

Kehancuran sistem pendidikan yang terjadi saat ini bukan sekadar persoalan keterbatasan fasilitas belajar, namun akibat agresi yang telah mengganggu seluruh ekosistem pendidikan di Gaza, mulai dari kerusakan bangunan sekolah dan terganggunya proses belajar mengajar hingga terbatasnya akses anak-anak terhadap pendidikan yang layak.

Menurut data UNICEF yang dikutip dalam laporan Pusat Informasi Palestina, sekitar 700 ribu siswa terdampak gangguan pendidikan akibat agresi. Sementara itu, sekitar 60 persen anak usia sekolah masih belum dapat mengakses pembelajaran tatap muka secara normal.

Kerusakan infrastruktur menjadi salah satu faktor utama yang melumpuhkan sistem pendidikan. Banyak sekolah mengalami kerusakan berat akibat serangan sehingga tidak lagi dapat digunakan sebagai tempat belajar. Sebagian sekolah yang masih berdiri juga dimanfaatkan sebagai tempat pengungsian bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.

Akibatnya, proses belajar mengajar harus dipindahkan ke ruang-ruang sementara yang dibangun oleh lembaga kemanusiaan dan organisasi internasional. Dalam laporan terbaru OCHA, berbagai mitra pendidikan berupaya menyediakan ruang belajar darurat di sejumlah wilayah Gaza untuk memastikan anak-anak tetap memperoleh akses pendidikan, meskipun dalam kondisi yang sangat terbatas.

Namun, ruang belajar sementara tersebut belum mampu menggantikan fungsi sekolah secara menyeluruh. Keterbatasan fasilitas, minimnya perlengkapan pendidikan, serta kondisi keamanan yang tidak stabil menjadi tantangan besar dalam penyelenggaraan pendidikan.

Dampak agresi juga dirasakan oleh anak-anak yang memasuki usia sekolah selama agresi berlangsung. UNICEF mencatat bahwa sekitar 56 ribu anak memasuki usia kelas satu sejak agresi dimulai. Sebagian besar dari mereka belum pernah merasakan pengalaman belajar dalam lingkungan sekolah yang normal sebagaimana anak-anak pada umumnya.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya kesempatan belajar bagi satu generasi anak Gaza. Semakin lama proses pendidikan terganggu, semakin besar pula risiko ketertinggalan akademik, meningkatnya angka putus sekolah, serta munculnya berbagai dampak psikologis akibat hilangnya lingkungan belajar yang aman dan stabil.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak agresi Israel terhadap Gaza tidak hanya terlihat dari kerusakan fisik dan korban jiwa, namun juga dari kehancuran sektor pendidikan yang menjadi fondasi pembangunan masyarakat di masa depan. Ketika sekolah rusak, ruang belajar hilang, dan anak-anak kehilangan akses pendidikan, yang dipertaruhkan bukan hanya proses pembelajaran saat ini, melainkan juga masa depan generasi Palestina dalam jangka panjang.

Di tengah berbagai keterbatasan, lembaga pendidikan, guru, dan organisasi kemanusiaan terus berupaya mempertahankan proses pembelajaran agar tidak terhenti sepenuhnya. Namun, tanpa pemulihan infrastruktur pendidikan dan jaminan keamanan yang memadai, pendidikan di Gaza akan tetap berada dalam kondisi darurat dan jauh dari situasi yang memungkinkan anak-anak belajar secara normal.

(T.RS/S:Palinfo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya