Netanyahu Pulang dengan Tangan Hampa, Aliansi AS-Israel Mulai Retak?

Foto Ilustrasi: Annelise Capossela. Getty Images

Tel Aviv, SPNA – Kunjungan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, ke Gedung Putih untuk bertemu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang awalnya diharapkan menjadi momen penting memperkuat aliansi kedua negara, dilaporkan berakhir dengan kegagalan diplomatik. 

Media Israel sendiri menggambarkan pertemuan ini paling memalukan dalam sejarah hubungan AS-Israel, bahkan menyebut Netanyahu “pulang dengan tangan kosong.” 

Dilansir Al-Jazeera, Rabu (09/04/2025), dalam konferensi pers bersama, tampak jelas bahwa Netanyahu tidak mendapatkan ruang bicara yang proporsional. Ia hanya berbicara singkat selama dua menit di awal, lalu menghabiskan sisa waktu berdiri dalam diam, tanpa satu pun pertanyaan ditujukan kepadanya secara langsung. 

Presiden Donald Trump (kanan) bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, Washington, D.C., pada hari Senin (07/04/2025) Foto oleh Yuri Gripas/UPI.
Presiden Donald Trump (kanan) bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, Washington, D.C., pada hari Senin (07/04/2025) Foto oleh Yuri Gripas/UPI.

Hal ini menciptakan kesan bahwa Netanyahu hadir bukan sebagai mitra strategis, melainkan hanya sebagai alat pencitraan politik bagi Trump.

Substansi pembicaraan pun memperlihatkan betapa timpangnya posisi tawar Israel dalam pertemuan tersebut. Trump secara blak-blakan mengkritik bantuan militer senilai 4 miliar dolar AS yang diberikan kepada Israel setiap tahunnya, menyebutnya sebagai “jumlah besar” sekaligus mempertanyakan manfaatnya. 

Ketika isu tarif dagang dibahas, Netanyahu menjanjikan bahwa Israel akan menghapus seluruh hambatan tarif terhadap produk AS, sebuah langkah sepihak yang tidak diimbangi oleh konsesi dari pihak Washington. Bahkan ketika diminta Trump untuk menanggapi kebijakan perdagangan AS, Netanyahu tak mampu menyampaikan argumen kuat, dia hanya menunjukkan sikap patuh. 

Dalam pandangan para analis Israel, hal ini menjatuhkan martabat politik Israel yang selama ini membanggakan relasi khusus dengan AS.

Lebih jauh lagi, ketegangan paling signifikan muncul dalam pembahasan terkait Iran. Netanyahu, yang selama bertahun-tahun menjadikan “ancaman nuklir Iran” sebagai jantung kampanye diplomatiknya, dikejutkan oleh pendekatan baru AS. Trump menyatakan keinginannya untuk membuka jalur dialog langsung dengan Teheran, bahkan menyebutkan bahwa pertemuan akan segera digelar. Hal ini bertolak belakang dengan upaya bertahun-tahun Israel mendorong aksi militer terhadap Iran. 

Dalam ruang tertutup, menurut sumber diplomatik Israel, Netanyahu benar-benar terkejut dan kecewa, namun tidak mampu mengubah arah pembicaraan. Di mata publik dan media Israel, hal ini menandai bahwa AS tidak lagi menempatkan Israel sebagai faktor penentu utama dalam kebijakan luar negeri Timur Tengah-nya, melainkan sebagai mitra yang harus mengikuti alur, bukan memimpinnya.

Sementara itu, pada isu Gaza, Trump masih ingin tentang membangun “real estate” di Gaza yang secara implisit menghidupkan kembali wacana relokasi rakyat Palestina, meskipun gagasan ini bertentangan dengan hukum internasional dan realitas penderitaan warga Palestina. 

Tidak hanya itu, Trump menyinggung kemungkinan kehadiran pasukan perdamaian AS di Gaza, namun tanpa menyebutkan peran rakyat Palestina atau kondisi kemanusiaan yang memburuk akibat perang. 

Netanyahu sendiri tidak menanggapi hal ini secara substansial, dia hanya menyampaikan ungkapan-ungkapan umum soal keamanan dan penyanderaan, tanpa strategi jelas untuk menghentikan perang yang telah memakan ribuan korban jiwa.

Isu para sandera Israel di Gaza turut menjadi sorotan. Trump tampak lebih bersemangat dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan media mengenai janji pribadinya kepada keluarga para sandera, sementara Netanyahu terlihat defensif. 

Dalam upaya menutupi kekecewaan, Trump bahkan menyebut Netanyahu sebagai “orang yang bekerja keras”, sebuah pembelaan yang terasa lebih sebagai bentuk kompensasi politik ketimbang pujian tulus. 

Pada akhirnya, publik Israel melihat bahwa tidak ada terobosan nyata yang dibawa Netanyahu pulang. Tidak ada dukungan eksplisit untuk operasi militer Israel, tidak ada peningkatan bantuan, tidak ada tekanan berarti terhadap Iran, dan tidak ada strategi bersama menyangkut Gaza.

Yang tersisa hanyalah satu kesan besar: Netanyahu kalah dalam pertarungan narasi. Ia datang dengan ekspektasi tinggi, berharap mendapatkan restu untuk melanjutkan kampanye militer di Gaza, menekan Iran, dan memperkuat posisinya secara domestik. 

Namun ia justru kembali dengan wajah pucat, dihantam kenyataan bahwa Washington sedang menyusun ulang peta ke arah diplomasi dengan Teheran dan rekonsiliasi regional lalu mengabaikan keinginan Tel Aviv. 

Kunjungan ini, dalam pandangan banyak pengamat, bukan hanya kegagalan pribadi Netanyahu, tetapi juga cerminan mundurnya posisi strategis Israel dalam arsitektur kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah.

(T.RS/S:Al-Jazeera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya