Herzogenaurach, SPNA – Adidas menghadapi gelombang seruan boikot global menyusul keputusan perusahaan menampilkan Shalev Biton—mantan tentara Israel yang kehilangan kaki dalam pertempuran di dekat Gaza pada Mei 2021—dalam kampanye promosi Single Shoe Service.
Kampanye yang menyoroti layanan bagi konsumen dengan kebutuhan satu sepatu sebelah ini menuai kritik tajam dari para aktivis hak asasi manusia, pengguna media sosial, hingga pesohor seperti aktor Spanyol Javier Bardem. Publik mempertanyakan sensitivitas Adidas yang memilih mantan militer Israel untuk inisiatif aksesibilitas disabilitas, di tengah krisis kemanusiaan parah dan ribuan kasus amputasi di Gaza akibat perang.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis pada Mei 2026 mencatat lebih dari 5.000 kasus amputasi anggota tubuh traumatis dan lebih dari 22.000 cedera ekstremitas utama di Gaza sejak konflik memuncak pada Oktober 2023. Laporan UNICEF dan Save the Children turut menyoroti dampak mengerikan terhadap anak-anak, di mana ribuan anak kehilangan satu atau kedua kaki mereka. Para kritikus menilai penunjukan Biton mengabaikan kontras tajam dengan penderitaan warga sipil Palestina yang mengalami disabilitas akibat perang.
Menanggapi tekanan publik yang masif, manajemen Adidas menyampaikan permohonan maaf terbuka pada Senin (07/09/2026). Perusahaan asal Jerman itu berdalih bahwa materi promosi tersebut merupakan inisiatif lokal tim di lapangan dan bukan bagian dari kampanye global.
“Kami menyadari bahwa gambar yang digunakan dalam aktivasi lokal baru-baru ini telah menimbulkan kekhawatiran dan reaksi keras. Kami tidak pernah berniat menyinggung dan kami mohon maaf bagi siapa pun yang terdampak,” demikian pernyataan resmi Adidas.
Single Shoe Service sendiri merupakan program inklusi yang diluncurkan Adidas di 23 negara Eropa pada Januari 2026, yang memungkinkan konsumen membeli sebelah sepatu dengan setengah harga. Perusahaan menyatakan proyek ini dikembangkan bersama kelompok disabilitas seperti ParalympicsGB dan berencana memperluas layanannya ke berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah dan Palestina.
Kontroversi ini menambah daftar panjang tekanan reputasi yang dihadapi Adidas terkait isu geopolitik. Dua tahun sebelumnya, merek pakaian olahraga tersebut sempat dihujam kritik dan seruan boikot setelah mendepak model Amerika-Palestina, Bella Hadid, dari kampanye sepatu retro Olimpiade Munich 1972 akibat tekanan dari pihak Israel—sebuah keputusan yang belakangan berujung pada permintaan maaf resmi perusahaan kepada Hadid dan mitra lainnya.
Sejumlah pengamat memperingatkan bahwa langkah keliru dalam merespons isu sensitif ini dapat berdampak signifikan pada performa pasar Adidas, menyusul tren boikot konsumen terhadap jenama global yang dinilai abadi dalam pusaran konflik Timur Tengah.
(T.RA/S: MEMO, Anadolu Agency)