Centang Satu dan Buah ‘Anti-Semit’: Kutukan Menjadi Orang Palestina

Latar belakang Teams penulis—sebuah gambar benda mati yang menampilkan buah ara, zaitun, anggur, jeruk, semangka, dan beberapa botol kaca—yang dianggap “berpotensi anti-Semit.” [Courtesy of Ahmad Baker]

Oleh: Ahmad Baker, Perawat Senior, Barts Health NHS Trust

Seperti biasa, rapat Teams seperti digelar di penghujung pekan yang sibuk. Rekan kerja sedang mendiskusikan rencana akhir pekan di rumah sakit. Saya juga ada di sana, mengangguk, setengah sadar. Pikiran saya melayang ke tempat lain – pada pesan yang saya kirim pagi itu kepada seorang teman di Gaza.

Melirik ponsel.

Centang satu.

Pengguna WhatsApp tahu tandanya: centang satu berarti pesan terkirim. Centang dua berarti diterima. Dua centang biru, pesan terbaca.

Bagi kebanyakan orang, ini hanya penundaan kecil. Namun, ketika Anda mengirim pesan kepada teman Palestina di Gaza saat perang, satu centang membawa rasa takut.

Mungkin ponselnya kehabisan daya – hal yang wajar di tempat yang listriknya padam sejak 20 bulan lalu. Mungkin tidak ada sinyal – Israel sering memutus komunikasi selama serangan. Namun, ada kemungkinan ketiga yang tidak saya pikirkan, meskipun itu adalah kemungkinan terbesar jika Anda hidup di tengah genosida.

Masih satu centang.

Kembali ke rapat. Kami selesai. Rencana sudah disusun dan orang-orang mulai memikirkan rencana akhir pekan mereka masing-masing.

Saya melirik lagi. Masih satu centang.

Inilah kutukan menjadi orang Palestina. Memikul beban tanah air, penderitaannya, rakyatnya – di sisi lain, semua diharapkan berjalan normal, sopan, dan profesional.

Lalu, saya diberi tahu bahwa latar belakang virtual yang saya gunakan di Teams “berpotensi anti-Semit.”

Itu adalah gambar benda mati: buah ara, zaitun, anggur, jeruk, semangka, dan beberapa botol kaca. Sebuah penghormatan diam-diam terhadap budaya dan asal-usul saya. Namun dalam iklim saat ini, bahkan buah pun bersifat politis. Setiap simbol identitas Palestina kini dapat diartikan sebagai ancaman.

Tiba-tiba, saya diinterogasi, dituduh, dan mungkin menghadapi tindakan disipliner. Sebagai latar belakang. Karena menjadi orang Palestina.

Masih centang satu .

Saya merasa dibungkam, dipermalukan, dan terekspos. Bagaimana mungkin kecintaan saya pada budaya, seni, dan bangsa saya dipelintir menjadi sesuatu yang penuh kebencian? Mengapa pilihan latar belakang virtual saya lebih kontroversial daripada kekerasan dahsyat yang terjadi secara langsung?

Ini bukan hal yang terisolasi. Banyak dari kami– warga Palestina, atau siapa pun yang peduli dengan Palestina – sedang diuji kemanusiaannya di berbagai organisasi, semuanya didorong oleh tekanan eksternal.

Dan kemudian itu terjadi. Dua centang biru.

Teman saya masih hidup. Dia mengirim pesan: mereka meninggalkan rumah dini hari. Dia menggendong anak-anaknya, berjalan selama berjam-jam, meninggalkan segalanya. Tanpa makanan, tanpa tempat berlindung. Tapi masih hidup.

Bagaimana saya bisa menjelaskan kepadanya apa yang terjadi pada saya hari itu? Bahwa saat dia berlari menyelamatkan diri, saya diancam dengan tindakan disipliner tentang lukisan buah? Bahwa saya dituduh rasis karena sebuah gambar, sementara dia menyaksikan kehancuran seluruh keluarga?

Beginilah artinya menjadi orang Palestina saat ini. Terus-menerus mengarungi dunia yang menghapus kemanusiaanmu, membungkam suaramu, mendistorsi identitasmu. Diberi tahu bahwa penderitaanmu bersifat politis. Kegembiraanmu adalah provokasi. Simbol-simbolmu bersifat ofensif.

Saya telah bekerja di NHS selama 25 tahun. Ini lebih dari sekadar pekerjaan – ini bagian dari diri saya. Dan sekarang, bersama dua rekan, saya mengambil tindakan hukum. Bukan untuk diri kami sendiri, tetapi untuk melindungi NHS dari lobi politik eksternal. Untuk menyatakan, dengan tegas dan jelas, bahwa Layanan Kesehatan Nasional kita seharusnya menjadi milik pasien dan stafnya – bukan milik mereka yang berusaha membungkam, mengintimidasi, atau memutarbalikkannya untuk melayani agenda beracun.

Apa yang terjadi pada saya bukan hanya tidak adil – ini melanggar hukum. Menentang genosida bukan hanya tanggung jawab moral saya sebagai manusia, tetapi juga hak saya sebagai warga negara Inggris dalam masyarakat demokratis.

Saya menulis ini bukan untuk membandingkan pengalaman saya dengan penderitaan teman saya. Saya menulisnya untuk mengungkap absurditas, kekejaman, tentang bagaimana orang Palestina diperlakukan di seluruh dunia. Entah di bawah bom atau dicurigai, kami dipaksa untuk membenarkan keberadaan kami.

Seharusnya tidak seperti ini.

Menjadi orang Palestina bukanlah kejahatan. Namun, rasanya terlalu sering dunia memperlakukannya seperti kejahatan.

(T.HN/S: Aljazeera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya