Gaza, SPNA – “Beginilah cara para pahlawan meninggal”. Demikianlah pesan singkat yang beredar di dunia maya mengomentari syahidnya Kepala Biro Politik Hamas, Yahya Sinwar, ketika menggambarkan detik-detik terakhir kehidupan pemimpin Hamas yang berusia 63 tahun tersebut di tangan tentara Israel.
Momen yang terjadi di medan perang tersebut terekam melalui video dari drone yang akan menyerang Yahya Sinwar. Sinwar yang terlihat duduk di sofa yang baru saja terkena serangan artileri tank dan terluka di tangan kanan, berusaha menghadang sebuah drone dengan melempar tongkat menggunakan tangan kirinya.
Bagi banyak orang, Sinwar telah menjadi teladan bagi generasi mendatang, meskipun beberapa merasa sedih atas biaya tinggi dari perang yang dilancarkan Israel terhadap Gaza setelah Sinwar memulai Operasi Badai Al-Aqsha pada 7 Oktober 2023.
Sinwar syahid pada hari Rabu lalu (16/10) dalam baku tembak dengan pasukan Israel setelah pengejaran yang berlangsung selama setahun. Hamas mengumumkan syahidnya Yahya Sinwar pada Jumat (18/10).
Dalam video detik-detik terakhir kehidupan Yahya Sinwar yang muncul dalam video yang direkam drone tersebut, ia memakai penutup wajah dan sedang terluka parah, di sebuah apartemen yang hancur akibat pemboman.
Militer Israel menyebut bahwa di saat-saat terakhirnya, Yahya Sinwar melemparkan dua bom ke arah tentara penjajah Israel, sebelum akhirnya tank menembak ke arah di mana ia berada.
Di detik-detik terakhir itulah, ia masih sempat melawan dengan penuh keberanian dengan melemparkan tongkat ke drone yang merekamnya. Ia meninggal dunia ditempak penembak jitu di kepalanya.
Rekaman momen-momen terakhir hidupnya memicu rasa kagum dan bangga di kalangan rakyat Palestina dan orang-orang yang merindukan kemerdekaan bangsa Palestina.
“Meninggal Sebagai Pahlawan”
Dalam pernyataan belasungkawa atas syahidnya Yahya Sinwar, Hamas menyatakan bahwa ia “meninggal sebagai pahlawan syahid, yang dengan berani, menggunakan senjatanya, terlibat dan menghadapi tentara penjajah (Israel) di garis depan, berpindah di antara semua lokasi perang, bertahan, dan tetap tegar di tanah Gaza yang terhormat. Ia membela tanah Palestina dan tempat-tempat sucinya, serta menginspirasi semangat ketabahan, kesabaran, dan perlawanan”.
Dalam pernyataan tersebut Hamas berjanji bahwa syahidnya Yahya Sinwar hanya akan menambah kembali semangat, kekuatan, dan ketahanan gerakan Hamas dan kelompok perlawanan Palestina. Hamas menekankan bahwa tidak akan mengubah syarat perjanjian gencatan senjata dengan Israel.
Aadel Rajab, seorang ayah dari dua anak di Gaza berusia 60 tahun, mengatakan, “Yahya Sinwar meninggal dunia mengenakan rompi militer dan berjuang dengan bom dan senapan. Ketika ia terluka dan sekarat, ia masih berjuang dengan tongkat. Begitulah cara pahlawan meninggal dunia”.
Ali, seorang sopir taksi berusia 30 tahun di Gaza, menambahkan “Saya sudah menonton video itu 30 kali. Tidak ada cara mati yang lebih baik daripada cara (berjuang sampai akhir) seperti ini.”
Ia juga menyatakan, “Saya akan menonton video itu sebagai kewajiban harian bagi saya dan anak-anak saya, dan Insya Allah, cucu saya juga akan menontonnya di masa depan”.
Perang Israel melawan penduduk Palestina Jalur Gaza telah menghancurkan wilayah tersebut, dengan lebih dari 42.000 penduduk Palestina syahid, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, serta 10.000 orang lainnya diperkirakan masih terjebak di bawah reruntuhan.
Baca juga: Mengenal Pemimpin Hamas Yahya Sinwar, Pejuang dan Penulis yang Ditakuti Israel
Kemenangan Moral Bagi Pejuang Palestina
Analis politik Timur Tengah yang punya pengalaman lebih dari 35 tahun meliput perang selama puluhan tahun di Timur Tengah dan Afrika Utara, Elijah J. Magnier, menyebut bahwa syahidnya Yahya Sinwar merupakan kemenangan moral bagi bangsa Palestina.
“Meski merupakan kehilangan besar bagi Hamas, Kematiannya menunjukkan kepada rakyat Palestina di Gaza bahwa komandan mereka memiliki komitmen yang sama seperti mereka dan juga siap menghadapi pengorbanan terbesar. Dengan syahid dalam pertempuran, Sinwar mungkin ingin menekankan bahwa Hamas, sebagai sebuah gerakan, akan bertahan bahkan jika para pemimpinnya terbunuh, karena ideologi dan tujuan perlawanan tetap ada di tangan rakyat. Dalam hal ini, kematian Sinwar dapat diartikan sebagai kemenangan moral atas Israel, karena hal itu memperkuat hubungannya dengan rakyat Gaza dan komitmennya terhadap perjuangan mereka,” kata Elijah J. Magnier.
Ia mengungkapkan bahwa pesan yang terbaca bahwa kepemimpinan Hamas turut berkorban dalam perjuangan melawan penjajahan tersebut. Hal ini akan memperkuat ikatan antara Hamas dan penduduk Palestina di Jalur Gaza, memastikan bahwa gerakan tersebut tetap tangguh meskipun kehilangan para pemimpinnya.
Syahidnya Yahya Sinwar juga membongkar propaganda Israel. Israel menuduhnya bersembunyi di terowongan, menjadikan sandera sebagai benteng hidup, dan hidup di antara penduduk sipil agar tidak dijadikan sasaran. Para pemimpin Hamas kerap dituduh hidup mewah, di saat Gaza porak poranda dan dijajah. Namun kenyataannya, Yahya Sinwar tidak pernah meninggalkan rakyatnya. Ia berada di garis depan pertahanan dan perlawanan. Ia ikut berjuang dan merasakan penderitaan. Berdiri dan melawan bersama Gaza hingga akhir hayat.
Aktivis dan penulis asal Inggris, Jackie Walker, menyebut bahwa Yahya Sinwar meninggal seperti pahlawan Hollywood dalam kisah nyata.
“Apa pun pendapat orang tentang Sinwar, ia meninggal sebagai pahlawan Hollywood. Orang terakhir yang bertahan, sendirian di antara rekan-rekannya yang telah meninggal, tertutup debu, nyaris tak bernyawa, melawan segala rintangan, menggunakan satu lengannya yang tersisa untuk melemparkan senjata terdekat yang dapat dijangkaunya ke arah pesawat tanpa awak yang dioperasikan oleh seorang pengecut yang bersembunyi di balik mesin. Mirip seperti ‘Terminator’ tetapi nyata. Orang Israel mengira mereka mempermalukan Sinwar dan kelompok perlawanan Palestina dengan mengumumkan hal ini ke publik. Ada sesuatu yang sangat salah dengan masyarakat Israel,” kata Jackie Walker.
Sementara itu, Aktivis media sosial pro-Palestina asal Amerika Serikat, Jackson Hinkle, berkomentar bahwa kebodohan Israel telah mempromosikan ketangguhan dan kehebatan pemimpin Hamas dalam berjuang melawan penjajah Israel.
“Tidak ada video promosi Hamas yang mampu membuat Yahya Sinwar tampak lebih Hebat, lebih berani, dan lebih legendaris daripada video drone yang dirilis Israel kemarin,” kata Jackson Hinkle.
Pidatonya yang Ingin Syahid di Jalan Allah
Di dunia maya, rakyat Palestina memperbincangkan kata-kata Yahya Sinwar dalam pidato-pidato sebelumnya, di mana ia menyatakan lebih memilih meninggal dunia di tangan Israel sebagai seorang yang syahid yang berjuang di jalan Allah daripada meninggal dunia karena serangan jantung atau kecelakaan.
Sinwar menyatakan dalam pidato tersebut, “Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh musuh dan penjajah (Israel) kepada saya adalah membunuh saya, sehingga saya dapat pergi menghadap Allah Yang Maha Esa sebagai seorang syahid di tangannya (penjajah)”.
Setelah keinginannya untuk meninggal dengan cara yang diinginkannya tercapai (meninggal dalam keadaan syahid), sejumlah rakyat Palestina saat ini mempertanyakan apakah Israel menyesali keputusan untuk merilis rekaman momen terakhir hidupnya tersebut, mengingat rekaman itu bisa menjadi alat yang dapat membakar semangat penduduk Palestina untuk semakin melawan penjajahan Israel.
Rasha (42 tahun), seorang pengungsi dan ibu dari empat anak, menyatakan, “Mereka mengatakan dia bersembunyi di terowongan, dikelilingi oleh tahanan Israel untuk menjaga hidupnya. Kemarin, kami melihat bagaimana dia memburu tentara Israel di Rafah, tempat yang telah dikuasai oleh penjajah sejak Mei lalu.”
Ia menambahkan, “Begitulah cara pemimpin meninggal, dengan senjata di tangan. Saya mendukung Sinwar sebagai pemimpin, dan hari ini saya bangga padanya sebagai seorang syahid.”
Rasha memuji cara Sinwar meninggal dan menganggapnya sebagai tindakan kepahlawanan. Ia mengungkapkan bahwa ia tidak mendukung serangan pada 7 Oktober lalu karena merasa bahwa rakyat Palestina belum siap untuk perang total melawan Israel, tetapi ia menyatakan bahwa cara kematian Sinwar “membuat saya bangga sebagai seorang Palestina.”
Suara dari Tepi Barat
Masyarakat di Gaza dan Tepi Barat, di mana Hamas juga mendapatkan dukungan yang besar, mempertanyakan apakah syahidnya Sinwar akan mempercepat akhir perang.
Pertempuran antara pasukan penjajah Israel dan pejuang Palestina di Tepi Barat telah meningkat selama tahun lalu.
Di Hebron, sebuah kota yang penuh ketegangan di Tepi Barat, Alaa al-Hashlamun menyatakan bahwa pembunuhan Yahya Sinwar tidak akan membawa Hamas dipimping oleh tokoh yang lebih lemah. Ia mencatat bahwa setiap kali seorang pemimpin Hamas syahid, pemimpin yang menggantinya biasanya lebih tangguh.
“Sinwar adalah sosok yang keras kepala dan ini tentu saja demi kebaikan. Saya berharap pemimpin berikutnya akan seperti dia dan bahkan lebih baik, Insya Allah. Tidak ada satu pun yang pergi tanpa digantikan oleh yang lebih baik,” kata Alaa al-Hashlamun.
Di Ramallah, Murad Omar (54 tahun) menyatakan bahwa situasi di lapangan tidak akan banyak berubah. Ia menambahkan, “Perang terus berlanjut dan tampaknya belum akan berakhir”.
(T.FJ/S: Aljazeera)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!