Hidup di Gaza adalah Pertempuran Tiada Akhir

Keseharian anak-anak Palestina di KOta Gaza, 12 Oktober 2026. (Gambar: Bilal Osama / APA)

 

Ditulis oleh: Hanin A. Elholy

 

Apakah perang melawan Gaza sudah berakhir?

Banyak orang di luar Gaza tampaknya berpikir demikian. Mereka tidak lagi banyak mendengar kabar tentang kami.

Namun warga Gaza terus berperang, meskipun dalam jenis konflik yang berbeda. Kami melawan dengan jiwa-jiwa kami yang lelah demi perjuangan untuk bisa hidup layaknya manusia.

Saya adalah salah satu dari manusia-manusia tersebut, dan cerita ini tentang bagaimana hidup saya di Gaza adalah pertempuran tanpa akhir.

Ketika saya bertunangan pada tahun 2021, suami saya Ahmad bekerja sebagai guru bahasa Inggris di UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina. Ia memperoleh gaji yang relatif stabil sebesar $900 per bulan.

Saya juga pernah menjadi guru.

Saya mengajar siswa kelas tujuh dan delapandi sekolah pemerintah di Jalan al-Jalaa, Kota Gaza. Saya mendapat gaji bulanan sebesar $400.

Gabungan gaji kami memungkinkan kami hidup dengan tingkat keamanan finansial yang cukup layak.

Suami saya masih membayar utang dari pernikahan kami: sewa perabot, sewa gedung resepsi, mas kawin saya. (Menikah di Gaza itu mahal, dan tanggung jawab mempelai pria adalah melunasi utangnya.)

Saya membayar sewa apartemen kami di Beit Lahiya, di utara Gaza, serta kebutuhan hidup sehari-hari kami.

Segalanya berubah pada 7 Oktober 2023.

Penghasilan kami menyusut drastis. Pemerintah Gaza hanya bisa membayar $260 setiap 50 hari sekali, dan UNRWA memberhentikan para pegawai kontraknya.

Suami saya, bersama banyak guru lainnya, kehilangan pekerjaannya.

Jaring pengaman finansial yang kami bangun pada dasarnya lenyap dalam semalam.

Sepanjang sisa tahun 2023 dan 2024, kami mengandalkan tabungan, pekerjaan daring, dan bantuan kemanusiaan. Saya menjual perhiasan emas saya, termasuk cincin emas pemberian suami saat pernikahan kami.

Kami berusaha beradaptasi dengan kondisi kehidupan yang baru di Gaza. Ahmad melamar berbagai pekerjaan: guru, entri data, dan petugas keamanan.

Hidup menjadi jauh lebih mahal setelah 2023.

 

Apartemen Sewa atau Tenda Gratis

Pada Februari 2025, setelah masa pengungsian yang panjang di Khan Younis, Gaza selatan, saya kembali ke rumah keluarga saya di Tel al-Hawa selatan Kota Gaza.

Kami tidak bisa kembali ke Beit Lahiya, karena rumah kami telah hancur pada Desember 2023.

Rumah keluarga saya di Tel al-Hawa rusak parah, bahkan setengahnya hampir runtuh.

Lingkungan lain pun tidak lebih baik. Setiap struktur hancur, hampir tidak bertahan.

Saya tinggal di lantai satu bersama mertua dan anak saya, sementara suami saya tetap tinggal di utara.

Di sini kami menjalani kelaparan bersama, sejak Maret hingga Oktober 2025.

Kami tinggal berdesakan: sebuah aula besar, dapur, dan kamar mandi. Saya ingin privasi dan tinggal bersama keluarga kecil saya sendirian.

Melalui kehendak Tuhanlah kami selamat dari kelaparan.

Selama berbulan-bukan kami hanya makan kacang lentil, pasta, dan nasi. Sayuran dan satu kaleng tuna adalah kemewahan.

Hampir semua uang yang kami kumpulkan – sedikit saja yang ada – digunakan untuk makanan. Sebagian besar makanan untuk anak-anak.

Sepanjang hari kami merasakan lapar dan dan makan hanya untuk bertahan hidup. Saya tidak pernah merasa kenyang.

Kondisi ini tentu saja sangat sulit bagi saya yang sedang hamil.

Pada Juni 2025, suami saya mulai mengajar lagi. Dia bekerja berjam-jam dengan uang sedikit.

Pada waktu yang sama, saya melahirkan bayi kedua kami.

Suami saya merasa tidak ada gunanya bekerja, apalagi selama dua bulan upahnya tidak dibayarkan. Ini terjadi selama krisis uang tunai Gaza, yang masih berlangsung hingga hari ini.

Perbankan konvensional berhenti karena genosida, memaksa banyak orang untuk memanfaatkan “layanan” yang ditawarkan oleh broker tunai. Kadang-kadang broker menuntut transfer $100 sebelum Anda bisa mendapatkan $50 tunai.

Suami saya memilih untuk tinggal di rumah guna merawat bayi kami yang baru lahir dan membantu saya.

 

Tidak Ada Lagi Pilihan Mudah

Selama tiga tahun terakhir, saya telah mengungsi dari satu tempat ke tempat lain karena kekerasan Israel.

Sekarang saya berada di Kota Gaza, di sebuah apartemen dekat bundaran Abu Mazen. Berdiri di bundaran, Anda dapat melihat beberapa pohon, pasar, dan laut.

November ini akan menandai satu tahun tinggal di sini, berbagi kamar tunggal dengan suami dan dua anak saya.

Sebelas orang dari tiga cabang keluarga suami saya, termasuk keluarga kami yang berjumlah empat orang, tinggal di bawah satu atap, dengan setiap unit keluarga berbagi kamar. Saya memakai hijab sepanjang hari karena hampir tidak ada privasi, dan kebisingan berlanjut sampai jam 11 malam.

Kami berbagi dapur dan kamar mandi serta semua pengeluaran. Untuk semua keluarga digabungkan, pengeluaran rumah tangga kami sekitar $750 per bulan, termasuk sewa, air, listrik, dan makanan.

Bahkan pembagian ini terasa sulit bagi kami, mengingat peluang kerja hampir tidak ada.

Keluarga kami yang berjumlah empat orang berharap bisa kembali ke rumah kami yang hancur di Tel al-Hawa. Namun, rumah ini masih jauh dari kata siap.

Kami harus membangun tembok berukuran enam kali empat meter dan memperbaiki sistem listrik serta air. Semua yang kami butuhkan harus dibeli baru: kompor gas, furnitur, bahkan peralatan makan.

Semua ini bisa menghabiskan biaya lebih dari $2.000.

Tapi ada pertanyaan yang tidak bisa saya hindari: Bagaimana jika semuanya hancur lagi?

Bisakah saya menghabiskan penghasilan terbatas saya untuk memperbaiki tempat yang hancur, hanya untuk kehilangan semuanya lagi? Bisakah saya terus memulai dari awal setiap kali hidup kami hancur?

Tidak ada kepastian bahwa apa yang kami bangun kembali hari ini akan berdiri besok.

Namun saya mulai menyadari bahwa hidup dalam ketidakpastian, terus-menerus menunggu perpindahan berikutnya, bukanlah cara hidup yang tepat. Setiap upaya membangun kembali dan memulai kembali adalah cara untuk mendapatkan kembali rasa stabilitas.

Jika sesuatu berjalan salah, dan semoga saja tidak, saya akan pertimbangkan untuk meninggalkan Gaza.

Prospek hidup di luar negeri, dengan gaji dan rumah yang sederhana, asuransi kesehatan, serta keselamatan fisik sangat menggiurkan.

Tidak ada pilihan mudah lagi.

(SPNA/S: Electronic Intifada)

Hanin A. Elholy adalah peneliti, penulis, dan penerjemah yang tinggal di Gaza.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!