Jalur Gaza, SPNA – Jurnalis Al Jazeera, Tamer Al-Mishal, melaporkan bahwa Hamas terpaksa menolak proposal terbaru Israel yang diajukan pada 28 Maret, karena isinya menghancurkan semua prinsip yang sebelumnya telah disepakati.
Hamas menyampaikan kepada para mediator bahwa permintaan Israel bertentangan dengan perjanjian dasar yang dicapai pada Januari lalu. Sumber-sumber mengungkap bahwa perdebatan bukan sekadar soal jumlah tahanan yang akan dibebaskan, melainkan prinsip-prinsip mendasar yang tiba-tiba diubah secara sepihak oleh Israel.
Perubahan drastis ini terjadi setelah eskalasi militer besar-besaran pada 12 Maret, yang disebut “Fajar Selasa Berdarah”, ketika Israel kembali melancarkan serangan brutal di Gaza. Ratusan warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan, menjadi korban.
Serangan itu tidak hanya ditujukan kepada Hamas sebagai kelompok politik dan militer, tetapi juga menghancurkan infrastruktur sipil dan lembaga kemanusiaan di Gaza.
Pasca serangan tersebut, Hamas menerima pesan dari mediator Mesir yang saat itu berada di Washington, mengusulkan penghentian perang dengan imbalan pembebasan seorang tentara Israel berkewarganegaraan AS, Aidan Alexander, tanpa syarat.
Hamas menolak tawaran ini karena Alexander adalah seorang tentara aktif yang ditangkap dari dalam tank Israel, bukan warga sipil yang diculik.
Selama periode kebuntuan dari 18 hingga 27 Maret, Gaza mengalami serangan yang semakin intensif, sementara media Israel menyebarkan narasi yang menekan Hamas agar menerima kesepakatan yang merugikan tersebut.
Pada 27 Maret, mediator mengajukan proposal baru yang disetujui oleh Hamas. Proposal ini mencakup pembebasan lima tentara Israel, termasuk Aidan Alexander, dalam kurun 50 hari, dengan skema satu tentara setiap 10 hari. Sebagai imbalannya, Israel harus membebaskan 150 tahanan Palestina dengan hukuman seumur hidup dan 100 tahanan dengan hukuman tinggi, yang 50% nya ditentukan oleh Hamas.
Selain itu, 2.000 warga Gaza yang ditangkap setelah 7 Oktober juga akan dibebaskan. Kesepakatan ini juga mencakup penarikan Israel dari wilayah yang baru didudukinya sejak 2 Maret dan pembukaan perbatasan untuk bantuan kemanusiaan. Hamas juga setuju untuk bertukar informasi mengenai tahanan hidup dan yang telah meninggal.
Namun, pada 28 Maret, Israel merespons dengan proposal yang sepenuhnya menghancurkan kesepakatan tersebut. Israel tetap mempertahankan sembilan poin utama tetapi mengubah isinya secara sepihak demi menguntungkan Israel.
Mereka menuntut agar Hamas membebaskan Aidan Alexander sebagai “awal niat baik” sebelum kesepakatan dimulai. Lebih jauh, dalam hari pertama implementasi, Hamas harus membebaskan 10 tentara Israel sekaligus, bukan satu per-satu seperti yang telah disepakati.
Sebagai imbalannya, Israel hanya akan membebaskan 120 tahanan Palestina yang dihukum seumur hidup dan 111 tahanan dari Gaza, jauh lebih sedikit dibandingkan proposal awal.
Selain itu, Israel juga menuntut agar pada hari ke-10, Hamas menyerahkan 16 jasad tentara Israel dengan imbalan 160 jasad warga Palestina, menutup kemungkinan pertukaran jasad dengan tahanan yang masih hidup.
Yang paling mencolok, Israel menghapus dua prinsip utama dalam negosiasi sebelumnya: mereka menolak mundur dari Gaza dan menuntut perlucutan senjata perlawanan Palestina. Ini merupakan perubahan besar yang tidak pernah ada dalam negosiasi sebelumnya, bahkan dalam proposal yang diajukan Israel sendiri.
Mediator dilaporkan terkejut dengan perubahan drastis ini. Mereka menyampaikan kepada Hamas bahwa respons Israel menghancurkan terhadap seluruh upaya gencatan senjata. Hamas pun menegaskan bahwa mereka tidak akan menanggapi atau mengakomodasi proposal yang telah menghancurkan kesepakatan sebelumnya.
Dengan kondisi ini, jelas bahwa Israel tidak tertarik pada gencatan senjata, melainkan menggunakan negosiasi sebagai alat untuk menekan Hamas dan mengulur waktu untuk melanjutkan agresinya.
Tujuan utama Israel tampaknya bukan hanya menundukkan Hamas, tetapi juga menciptakan kekacauan internal Palestina, mengadu domba rakyat Gaza dengan pejuang, serta mengamankan pendudukan jangka panjang di Gaza.
Strategi ini bukanlah hal baru dalam sejarah konflik Israel-Palestina, tetapi kini semakin terang-terangan dilakukan dengan dukungan diam-diam dari sekutu-sekutunya.