Gaza, SPNA – Uni Eropa yang merupakan mitra dagang terbesar Israel, kini menghadapi tekanan yang semakin meningkat untuk membekukan Perjanjian Asosiasi UE-Israel, yang mencakup kerja sama perdagangan dan hubungan politik. Perdana Menteri Swedia, Ulf Kristersson, pada hari Kamis (31/07/2025), mengatakan bahwa situasi di Gaza sudah menjadi sangat buruk dan Israel gagal memenuhi kewajibannya dalam memberikan akses bantuan kemanusiaan.
“Karena itu, Swedia menuntut agar Uni Eropa segera membekukan bagian perdagangan dari perjanjian asosiasi. Tekanan ekonomi terhadap Israel harus ditingkatkan. Pemerintah Israel harus mengizinkan bantuan kemanusiaan tanpa hambatan di Gaza,” tulis Kristersson di platform X.
Pernyataan tersebut muncul dua hari setelah Belanda menyampaikan sikap serupa. Menteri Luar Negeri Belanda, Caspar Veldkamp, juga mendorong agar bagian perdagangan dari perjanjian Uni Eropa-Israel ditangguhkan jika bantuan ke Gaza tidak segera ditingkatkan.
Dunia Semakin Mendesak Pengakuan terhadap Palestina
Desakan untuk membekukan perjanjian dagang ini terjadi di tengah langkah sejumlah negara yang menyatakan akan mengakui Negara Palestina, sebagai reaksi atas agresi Israel yang terus berlanjut di Gaza.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, mengatakan pada hari Kamis bahwa negaranya berencana secara resmi mengakui negara Palestina saat Sidang Umum PBB bulan September mendatang. Sebelumnya, Prancis dan Inggris juga menyampaikan niat serupa.

Kelaparan dan Krisis Kemanusiaan Meningkat di Gaza
Awal pekan ini, sebuah badan pangan global yang didukung PBB menyatakan bahwa kelaparan telah menyebar luas di Jalur Gaza, terutama di Gaza City, di mana 1 dari 3 anak mengalami malnutrisi akut.
Dalam laporan terbarunya, Integrated Food Security Phase Classification (IPC) menyebutkan bahwa data terbaru menunjukkan bahwa ambang tinggi tingkat kelaparan telah tercapai, baik dalam hal konsumsi makanan di sebagian besar wilayah Gaza, maupun tingkat malnutrisi akut di kota Gaza.
Laporan itu juga menyoroti kondisi kemanusiaan yang memburuk akibat konflik yang terus berlanjut, pengungsian massal, akses bantuan yang sangat terbatas, serta runtuhnya layanan penting, termasuk sistem kesehatan.
Sementara itu, dua organisasi hak asasi manusia terkemuka dari Israel, B’Tselem dan Physicians for Human Rights Israel (PHRI), menyatakan bahwa pemerintah Israel sedang melakukan genosida di Gaza. Mereka bergabung dengan sejumlah pakar dan organisasi internasional lain yang sebelumnya sudah menyampaikan tuduhan serupa.
(T.FJ/S: MEE)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!