Serangan Israel Menewaskan Sedikitnya 25 Orang dari Keluarga yang Sama di Rumah-Rumah Kota Gaza

Para pelayat berkumpul untuk menghadiri pemakaman di sekitar kantong jenazah berisi jenazah keluarga Dugmosh, yang tewas dalam serangan Israel terhadap rumah-rumah di lingkungan Sabra, menurut petugas medis, di Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza, 21 September 2025. Foto: Reuters.

Gaza, SPNA – Militer Israel telah menewaskan setidaknya 25 anggota keluarga yang sama di lingkungan Sabra, Kota Gaza, saat mereka meningkatkan serangan di wilayah kantong yang terkepung tersebut, Minggu (21/09/2025).

Sejumlah rumah dibom pada Minggu dini hari oleh pesawat tempur Israel di lingkungan Sabra, tempat tank-tank Israel mulai bergerak maju pada akhir Agustus sebagai bagian dari rencana untuk menghancurkan dan merebut wilayah tersebut.

Setidaknya 17 orang telah diselamatkan pascaserangan tersebut, dan upaya penyelamatan masih berlangsung sementara warga dan petugas tanggap darurat menggali reruntuhan. Anggota keluarga di lokasi kejadian mengatakan mereka khawatir sebanyak 50 orang terjebak di bawah reruntuhan.

Keluarga Palestina tersebut mengajukan permohonan bantuan mendesak untuk mencoba membebaskan orang lain yang masih terjebak. Anggota keluarga di lokasi kejadian mengatakan mereka masih mendengar suara-suara dari reruntuhan.

“Saya memohon kepada seluruh dunia: Tolong bantu kami,” kata seorang anggota keluarga. “Keluarga kami terkubur hidup-hidup. Kami terus mendengar jeritan mereka dari bawah reruntuhan, tetapi kami tidak dapat menjangkau mereka.”

Ia mengatakan pesawat tanpa awak Israel menembaki petugas penyelamat yang bekerja di reruntuhan.

“Setiap kali kami mencoba menjangkau mereka, pesawat tanpa awak Israel menembaki kami. Setiap lima orang yang mencoba menjangkau mereka, empat orang tewas, dan hanya satu yang selamat.”

Rekaman yang beredar daring menunjukkan para korban dibawa pergi dengan sebuah kendaraan kecil yang dikelilingi orang-orang. Dalam sebuah video terlihat seorang ibu menangis tersedu-sedu karena kehilangan “semua anak saya” dalam serangan Israel di lingkungan Sabra, yang terletak di selatan Kota Gaza.

Serangan udara intensif Israel juga menargetkan kamp pengungsi Shati, di bagian barat Kota Gaza, dan lingkungan Tal al-Hawa, di barat daya Kota Gaza.

Penggerebekan juga dilaporkan terjadi di Menara Laval di distrik Nasr dan di sebuah rumah di sebelah menara.

Tujuh warga Palestina, termasuk empat anak-anak, tewas dalam serangan udara Israel lainnya di kamp pengungsi Bureij di Gaza tengah, ungkap seorang sumber darurat kepada Al Jazeera. Serangan tersebut dilaporkan terjadi di dekat sebuah klinik yang dikelola oleh Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).

Menurut sumber medis yang dikutip oleh kantor berita Wafa, serangan Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 68 orang sejak Minggu dini hari.

Kementerian Kesehatan di Gaza melaporkan pada Sabtu sore bahwa setidaknya 65.283 orang telah tewas dan 166.575 lainnya terluka oleh tentara Israel sejak dimulainya perang pada Oktober 2023.

Dikatakan bahwa setidaknya empat kematian lagi akibat kelaparan yang disebabkan oleh Israel tercatat selama sehari terakhir, sehingga total korban tewas menjadi 440 orang, termasuk 147 anak-anak.

Lebih banyak bangunan diledakkan oleh militer Israel pada hari Minggu saat berupaya untuk secara paksa menggusur ratusan ribu warga Palestina dan merebut Kota Gaza meskipun adanya kritik internasional dan penentangan dari keluarga tawanan yang ditawan di daerah kantong tersebut.

Banyak warga Palestina menolak keluar dari tempat berlindung mereka karena tidak ada tempat yang aman akibat serangan pesawat tak berawak dan robot peledak yang dikendalikan dari jarak jauh yang ditanam di dalam kamp pengungsian dan jalan-jalan, kata Hani Mahmoud dari Al Jazeera dari kamp pengungsi Nuseirat di Gaza tengah.

“Sampai saat ini, pergerakan orang sangat terbatas oleh penggunaan bahan peledak ini. Udara masih dipenuhi asap tebal,” ujarnya.

Militer Israel memperkirakan lebih dari 450.000 orang telah mengungsi paksa dari Kota Gaza sejak awal September. Otoritas Gaza memperkirakan jumlahnya di bawah 300.000 orang, dengan mengatakan sekitar 900.000 orang masih tersisa.

Militer Israel mengatakan pada hari Minggu bahwa tiga divisi memimpin invasi darat di Kota Gaza dan Gaza utara, dengan divisi lain beroperasi di Khan Younis di selatan. Militer Israel mengklaim bahwa tentaranya telah membunuh “banyak teroris yang sedang dalam perjalanan untuk melaksanakan rencana teror” selama 24 jam terakhir.

Paus Leo berbicara menentang pemindahan paksa warga sipil di Gaza pada hari Minggu, dengan mengatakan, “Bersama para pendeta gereja-gereja di Tanah Suci, saya tegaskan bahwa tidak ada masa depan yang didasarkan pada kekerasan, pengasingan paksa, dan balas dendam.”

Seiring situasi bencana di Gaza yang semakin memburuk, Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal secara resmi mengakui kenegaraan Palestina dua hari sebelum dimulainya sidang ke-80 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA), yang akan menjadi fokus utama kedaulatan Palestina setelah puluhan tahun pendudukan dan apartheid oleh Israel.

Menteri Luar Negeri Otoritas Palestina, Varsen Aghabekian Shahin, menyambut baik pengakuan tersebut dan menyebut tindakan Israel sebagai “serangan sistematis terhadap tatanan kemanusiaan, yang dirancang untuk menghapus keberadaan, budaya, dan masa depan rakyat Palestina”.

(T.HN/S: Aljazeera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya