Oleh: Mariamne Everett, jurnalis Inggris/Prancis/Amerika yang dibesarkan di Irlandia dan saat ini tinggal di Prancis. Karyanya telah dimuat di Counterpunch, RFI (Radio France Internationale), Hyphen, dan France 24.
Bagi anak-anak Gaza, korban garis depan dan saksi kekerasan yang tak terlukiskan, perang genosida Israel yang berlangsung lebih dari dua tahun telah meninggalkan luka yang mendalam, baik fisik maupun psikologis, yang akan terus membekas lama setelah perang berakhir.
Puluhan ribu orang telah kehilangan orang tua dan saudara kandung, sementara banyak lainnya menderita luka-luka yang mengubah hidup. Beberapa juga mengalami trauma karena menyaksikan kematian anak-anak lain. Mereka telah mengungsi berkali-kali, kehilangan rumah, dan pendidikan mereka terhenti.
Karena terbatasnya sumber daya yang tersedia untuk membantu mereka mengatasi rasa sakit, kaum muda menemukan jalan keluar yang kreatif untuk kesedihan mereka.
Yara Youssef Abu Kweik (16 tahun) menuangkan emosinya ke dalam karya seninya.
“Dulu saya menggambar hal-hal biasa, spontan, dan penuh warna,” ujar Yara kepada Al Jazeera.
“Ketika perang dimulai, saya mulai merasa perlu menunjukkan kepada dunia bagaimana kami [warga Palestina di Gaza] hidup.”
Youssef Abu Kweik mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ia menggunakan gambar dan lukisannya untuk menunjukkan apa yang telah ia saksikan dan alami dalam kehidupan sehari-harinya selama dua tahun terakhir.
“Saya menggambar anak-anak yang berjuang meraih segenggam air. Kelaparan yang telah kami alami selama bertahun-tahun, hidup di tenda-tenda, semua penderitaan ini telah membebani jiwa saya.”

Walaupun menggambar memberi Youssef Abu Kweik jalan keluar untuk “melampiaskan” perasaannya, adegan yang digambarnya juga menyebabkannya “mengalami kilas balik”.
Para psikolog memperingatkan bahwa lebih dari 80 persen anak-anak Gaza kini menunjukkan gejala trauma berat, termasuk sakit kepala, sakit perut, nyeri tulang, rambut rontok, vitiligo, dan kekebalan tubuh yang melemah.
“Saat saya mengungsi untuk kedua kalinya, saya mulai melukis hal-hal yang telah mengubah kita semua. Karena ini adalah kedua kalinya saya dipaksa keluar dari rumah, saya mulai menuangkannya ke dalam gambar. Rasa sakit dan penderitaan, terutama orang-orang yang tidak memiliki tempat berlindung, bahkan tenda sekalipun. Saya menggambar anak-anak bersama orang tua mereka yang tidur di jalan, terpapar api, peluru, dan, yang terpenting, cuaca,” ujarnya.

Bahkan sebelum perang Israel di Gaza dimulai, anak-anak di Gaza telah menderita masalah kesehatan mental yang serius.
Menurut laporan Save the Children tahun 2022, empat dari lima anak di Gaza hidup dengan depresi, kesedihan, dan ketakutan, sementara lebih dari separuhnya berjuang melawan pikiran untuk bunuh diri.
UNICEF memperkirakan lebih dari 64.000 anak telah tewas atau terluka di Gaza sejak perang Israel dimulai setelah serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan. Perang Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 68.858 orang dan melukai 170.664 orang.
Gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat antara Israel dan kelompok Palestina Hamas yang mulai berlaku pada 10 Oktober hanya memberikan sedikit kelegaan bagi anak-anak dan orang dewasa di Gaza karena serangan Israel yang berulang dan pembatasan ketat pada aliran makanan, pasokan medis, dan bantuan lainnya.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 200 orang tewas dan lebih dari 500 orang terluka akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan.
Terlepas dari penderitaannya dan orang-orang di sekitarnya, Youssef Abu Kweik bertekad untuk meningkatkan keterampilan melukisnya dan “mengirim pesan saya kepada dunia”.
Pesan itu jelas dan ringkas: “Saya mewakili seluruh anak Palestina di Jalur Gaza, dan atas nama mereka, saya katakan: Sudah cukup. Kami ingin hidup.”

(T.HN/S: Aljazeera)