Poles Citra Genosida, Israel Paksa Penduduk Palestina Jadi Gemuk, Protein Dilarang Masuk

Anak Palestina terlihat membawa kotak biskuit di sebuah pasar di Deir el-Balah, wilayah tengah Jalur Gaza, pada 18 Oktober 2025. Aktivitas ini terjadi di tengah situasi pasca gencatan senjata yang masih menyisakan keterbatasan pangan dan kebutuhan pokok di wilayah yang terkepung tersebut. (Foto: AFP)

Gaza City, Palestina (MEE/Antara) – Di beberapa supermarket yang kembali buka di Jalur Gaza setelah berakhirnya perang dua tahun dan diberlakukannya gencatan senjata, Al-Shrafi melihat rak-rak penuh dengan cokelat, minuman ringan, dan rokok, barang-barang yang sempat terasa seperti “mimpi” di tengah masa kelaparan.

Di balik kemunculan barang-barang mewah itu, bahan kebutuhan pokok justru masih sulit ditemukan, termasuk makanan dasar seperti telur serta obat-obatan penting seperti antibiotik.

“Bayangkan, ada cokelat di Gaza tapi tidak ada antibiotik. Ada buah-buahan, tapi tidak ada perban atau jahitan luka,” ujar Al-Shrafi, warga Kota Gaza, kepada Middle East Eye.

Menurutnya, tubuh manusia di Gaza kekurangan bahan-bahan penting seperti daging, ayam, ikan, dan telur, semua unsur utama sebagai protein dari pola makan sehat dilarang masuk ke Gaza.

Gencatan Senjata Tak Bawa Perbaikan pada Pangan

Setelah gencatan senjata antara Israel dan Kelompok pejuang Palestina mulai berlaku pada 10 Oktober, otoritas Israel hanya membuka sebagian penyeberangan perbatasan Kerem Shalom di tenggara Gaza.

Untuk pertama kalinya sejak perbatasan ditutup pada 2 Maret lalu, yang menyebabkan kelaparan dan membunuh ratusan penduduk Palestina, sejumlah barang dan bantuan internasional diizinkan masuk.

Barang-barang yang diizinkan meliputi buah dan sayur, karbohidrat dan pati seperti tepung gandum, semolina, beras, pasta, jagung kaleng, dan kentang; produk gula seperti cokelat, permen, dan selai; lemak seperti mentega, keju olahan, dan krim kaleng; serta barang sekunder seperti rokok dan minuman ringan.

Protein hewani masih sangat dibatasi. Telur sama sekali tidak tersedia, produk susu hampir tidak ada, dan ayam serta daging sapi beku hanya diizinkan masuk dalam jumlah sangat terbatas, membuat harganya tidak terjangkau bagi sebagian besar warga.

Sebagai contoh, ketika tersedia, satu kilogram ayam beku kini dijual seharga sekitar 80 shekel atau sekitar 25 dolar AS (sekitar 400.000 rupiah).

“Saya tidak merasakan adanya perbaikan setelah gencatan senjata, karena barang-barang yang tersedia di Gaza tidak sehat,” kata Al-Shrafi.

Menurutnya, makanan kaleng dan kering tidak bisa menggantikan makanan alami seperti telur dan daging segar, sehingga “tidak ada pemulihan dari dampak kelaparan”.

Obat-obatan Langka dan Harga Tak Terjangkau

Al-Shrafi menceritakan bahwa ia sering berpindah dari satu apotek ke apotek lain untuk mencari obat tertentu, tetapi tidak menemukannya.

“Anak perempuan saya mengalami infeksi di jari kakinya, dan saya bahkan tidak bisa menemukan obat pereda nyeri,” ujarnya.

“Antibiotik benar-benar tidak ada, dan kalaupun ada, harganya sangat tinggi, jauh di luar jangkauan warga biasa yang telah menderita dua tahun pembasmian.”

Apotek, toko alat kesehatan, dan rumah sakit di Gaza dilaporkan kehabisan banyak obat penting dan peralatan medis dasar.

Sektor Medis Kekurangan Hingga 80 Persen Kebutuhan

Berdasarkan Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, otoritas Israel masih memberlakukan pembatasan ketat terhadap masuknya obat-obatan, alat kesehatan, dan peralatan medis meski gencatan senjata telah berlangsung.

“Pembatasan ini menyebabkan kekurangan obat hingga 56 persen, kekurangan alat medis 68 persen, dan bahan laboratorium 67 persen,” kata Zahir al-Wahidi, Direktur Unit Informasi Kesehatan Kementerian Kesehatan Gaza.

Ia menambahkan, operasi ortopedi kekurangan 83 persen alat dan obat, operasi jantung 100 persen, dan layanan ginjal serta penanganan patah tulang hingga 80 persen. Kekosongan terparah terjadi di layanan darurat, anestesi, perawatan intensif, dan obat untuk tindakan bedah.

Pedagang dan organisasi kemanusiaan yang beroperasi di Gaza juga diwajibkan memperoleh izin khusus dari Israel untuk setiap barang yang akan diimpor. Banyak permintaan impor dibiarkan tertunda atau ditolak sepenuhnya, sehingga sejumlah barang esensial tidak tersedia selama lebih dari dua tahun.

“Barang yang masuk selama setahun terakhir hanyalah sebagian kecil dari kebutuhan, enam atau tujuh pengiriman kecil yang tidak cukup untuk menutupi kekosongan dua tahun,” tambah Wahidi.

Kenaikan Berat Badan yang Tidak Normal

Dalam tiga pekan terakhir, puluhan truk mulai kembali masuk ke Gaza, menghidupkan pasar-pasar untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan. Pedagang kaki lima kini menjajakan cokelat, kopi, dan buah-buahan warna-warni, yang sekilas menandakan kemakmuran semu.

“Sebagian besar barang ini hanyalah karbohidrat, gula, dan pati,” ujar Abdallah Sharshara, pengacara dan peneliti hukum asal Gaza.

Ia menilai Israel sengaja menciptakan kesan seolah blokade telah dicabut, padahal kebutuhan dasar seperti daging segar dan telur tetap dilarang masuk.

“Fokus impor pada makanan tinggi karbohidrat membuat warga bergantung pada makanan tidak sehat dan mendorong lembaga kemanusiaan membeli barang yang sama, karena hanya itu yang tersedia,” jelasnya.

Sharshara juga menyebut Israel sengaja menciptakan kondisi yang “menghalangi pedagang” untuk mengimpor bahan mudah rusak seperti telur.

“Sekarang banyak warga justru mengalami kenaikan berat badan yang tidak normal. Ini seolah-olah upaya Israel menutupi kejahatan kelaparan dengan menciptakan citra sebaliknya: tubuh gemuk yang tampak sehat,” katanya.

Sharshara mengaku kehilangan sekitar 20 kilogram selama blokade, namun kini berat badannya naik lagi dengan cepat karena hanya bisa mengonsumsi karbohidrat, keju olahan, dan daging buatan.

“Mereka memaksa kami untuk menjadi gemuk — secara sistematis,” ujarnya.

Kesan Palsu Tentang Berakhirnya Blokade

Di media sosial, banyak penduduk Palestina di Gaza menyampaikan kesan serupa: barang sekunder tersedia, tetapi kebutuhan pokok tetap hilang.

“Israel menciptakan kesan menyesatkan bahwa blokade telah dicabut. Warga kini makan pizza dan makanan manis, seolah hidup nyaman,” kata Sharshara.

Padahal, daging segar dan telur masih dilarang masuk, dan nelayan hanya boleh melaut di area yang sangat terbatas.

“Tujuan utama Israel adalah mencegah tuduhan bahwa mereka sepenuhnya menutup Gaza. Namun jika dibandingkan dengan kebutuhan nyata penduduk, jumlah barang yang masuk sangat kecil,” ujarnya.

“Jadi, meskipun beberapa barang diperbolehkan masuk, kenyataannya barang-barang itu tidak benar-benar sampai ke rakyat.”

Pelanggaran Gencatan Senjata Terus Terjadi

Sementara itu, pasukan militer Israel masih terus menggempur berbagai wilayah di Jalur Gaza, disertai penghancuran bangunan meski penduduk Palestina tidak memiliki tempat berlindung di tengah suhu udara yang semakin menurun.

Serangan udara dan tembakan artileri Israel berlanjut sejak Minggu malam (02/11), terutama di Khan Younis, wilayah selatan Gaza yang terkepung, serta di Kota Gaza, membunuh dan melukai sejumlah penduduk sipil Palestina.

Pada Senin pagi (03/11), pesawat tempur Israel melancarkan beberapa serangan udara di bagian timur Khan Younis, bersamaan dengan tembakan artileri berat yang menghantam Sekolah al-Khansaa dan area sekitarnya di kota Abasan al-Kabira, sebelah timur kota tersebut.

Israel juga melakukan serangan di Rafah, kota paling selatan Gaza, pada dini hari Senin, yang membunuh sedikitnya dua penduduk Palestina. Sementara itu, ledakan terus terdengar di Kota Gaza akibat aktivitas penghancuran bangunan yang dilakukan oleh pasukan Israel.

(T.FJ/S: MEE)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya