Gaza, SPNA – Pasukan militer Israel terus menggempur berbagai wilayah di Jalur Gaza, disertai penghancuran bangunan meski penduduk Palestina tidak memiliki tempat berlindung di tengah suhu udara yang semakin menurun.
Serangan udara dan tembakan artileri Israel berlanjut sejak Minggu malam (02/11/2025), terutama di Khan Younis, wilayah selatan Gaza yang terkepung, serta di Kota Gaza, membunuh dan melukai sejumlah penduduk sipil Palestina.
Pada Senin pagi (03/11), pesawat tempur Israel melancarkan beberapa serangan udara di bagian timur Khan Younis, bersamaan dengan tembakan artileri berat yang menghantam Sekolah al-Khansaa dan area sekitarnya di kota Abasan al-Kabira, sebelah timur kota tersebut.
Israel juga melakukan serangan di Rafah, kota paling selatan Gaza, pada dini hari Senin, yang membunuh sedikitnya dua penduduk Palestina. Sementara itu, ledakan terus terdengar di Kota Gaza akibat aktivitas penghancuran bangunan yang dilakukan oleh pasukan Israel.
Media lokal melaporkan bahwa wilayah permukiman dan tempat penampungan yang menjadi lokasi pengungsian ribuan penduduk Palestina kembali menjadi sasaran serangan di tengah krisis kemanusiaan yang masih berlangsung.
Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah di Gaza, Ismail al-Thawabta, pada Minggu (2/11), menyebutkan bahwa Israel telah melakukan lebih dari 194 pelanggaran sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada 10 Oktober.
Sejak dimulainya perang yang disebut sebagai genosida Israel terhadap Gaza pada Oktober 2023, lebih dari 68.865 penduduk Palestina dilaporkan meninggal dunia, sementara 170.670 lainnya mengalami luka-luka.
Musim Dingin Perparah Krisis Kemanusiaan
Selain serangan dan penghancuran bangunan, situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk akibat pembatasan yang diberlakukan otoritas Israel terhadap masuknya berbagai bantuan penting, termasuk bahan untuk mendirikan tenda bagi pengungsi.
Kepala Jaringan LSM Palestina di Gaza, Amjad al-Shawa, mengatakan sebagian besar tenda yang digunakan oleh warga pengungsi sudah rusak dan tidak memenuhi standar minimal tempat berlindung.
Ia menegaskan bahwa Gaza membutuhkan sekitar 300.000 tenda baru sebelum musim dingin tiba untuk mencegah bencana kemanusiaan dan lingkungan yang semakin parah.
Menurut Thawabta, perjanjian gencatan senjata juga mencantumkan ketentuan mengenai pengiriman lebih dari 300.000 tenda dan rumah prefabrikasi guna menampung sekitar 288.000 keluarga Palestina yang terlantar.
Israel Tak Patuhi Ketentuan Bantuan dan Tempat Penampungan
Thawabta menambahkan bahwa Israel tidak mematuhi ketentuan terkait penyediaan tempat penampungan maupun kebutuhan penting lainnya yang seharusnya diizinkan masuk ke wilayah Gaza yang masih diblokade, termasuk bahan makanan pokok, obat-obatan, alat berat, dan bahan bakar.
Sejak dimulainya gencatan senjata hingga akhir Oktober, hanya 3.203 truk bantuan yang berhasil masuk ke Gaza dari total 13.200 truk yang telah disepakati.
Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat bahwa rata-rata hanya 145 truk komersial dan bantuan kemanusiaan yang masuk setiap hari, jauh di bawah ketentuan 600 truk per hari sebagaimana tertuang dalam perjanjian gencatan senjata.
Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza diperkirakan akan semakin memburuk menjelang musim dingin, ketika penduduk Palestina menghadapi kelaparan, pengungsian massal, dan penyebaran penyakit.
Kantor Media Gaza juga melaporkan bahwa dalam dua tahun terakhir Israel telah menjatuhkan lebih dari 200.000 ton bom, yang menghancurkan lebih dari 90 persen wilayah Gaza.
Sebagian besar infrastruktur Gaza, termasuk rumah warga, sekolah, universitas, masjid, gereja, ruang publik, dan pusat kesehatan, telah dengan sengaja dihancurkan oleh Israel menjadi puing-puing.
Pada akhir Oktober, Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyerukan agar “akses kemanusiaan harus segera dipulihkan,” mengingat suhu udara yang semakin dingin akan memperburuk penderitaan warga.
“Menjelang musim dingin di Gaza, masyarakat semakin membutuhkan tempat berlindung dan kehangatan,” tulis UNRWA melalui akun resminya di platform X.
(T.FJ/S: MEE)