Catherine Hodes; Jadi Sandera Palestina 55 Tahun Lalu, Kini Jadi Aktivis Anti-Zionis

Perempuan dan anak-anak dari tiga pesawat yang dibajak meninggalkan Lapangan Udara Revolusi Yordania setelah dibebaskan, pada 8 September 1970. Catherine Hodes terlihat di tengah foto. (Foto: Keystone Pictures USA/ZUMAPRESS)

Ditulis oleh: Sarah Prager*

Washington, SPNA – Catherine “Ryn” Hodes tidak pernah melihat dunia dengan cara yang sama setelah ia disandera oleh kelompok Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) dalam perjalanan pulang ke Amerika Serikat dari Israel saat berusia 13 tahun. Peristiwa itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya menuju aktivisme, menjadikannya pendukung vokal pembebasan Palestina.

Peristiwa itu terjadi pada 6 September 1970. Hodes kala itu bepergian sebagai anak tanpa pendamping bersama adiknya yang berusia 12 tahun, Martha, dalam penerbangan menuju New York, ketika sekelompok komando bersenjata mengambil alih pesawat. Para penumpang yang kini menjadi sandera menjerit, berdoa, dan menangis. Martha dan Ryn membeku ketakutan.

“Ada kekacauan dan kebingungan,” kenang Hodes. “Saya ingat kru pesawat keluar dari kokpit dengan tangan terangkat, dan teman duduk saya berkata, ‘Itu orang Arab, itu orang Arab, ya Tuhan, ya Tuhan!’”

Tak lama kemudian, terdengar pengumuman melalui pengeras suara—seorang perempuan berbicara dalam bahasa Inggris: “Kami adalah kapten baru penerbangan TWA Anda. Kami telah mengambil alih pesawat ini. Kami akan membawa Anda ke negara yang bersahabat dengan rakyat yang ramah. Kami minta Anda meletakkan tangan di atas kepala agar tidak membahayakan diri sendiri maupun penumpang lain. Kami harap Anda mengerti.”

Lebih dari 300 sandera dari tiga penerbangan yang dibajak menghabiskan enam hari penuh ketegangan di gurun Yordania, tetap berada di dalam pesawat. Mereka mendapat makanan dan air yang terbatas namun cukup, tanpa pendingin udara, dan hanya bisa menggunakan toilet di dalam pesawat yang tidak memiliki air mengalir.

Meski diliputi ketakutan, Hodes justru merasa penasaran dan mulai merasakan empati terhadap kehidupan para pembajak. Dalam wawancara dengan Boston Phoenix sebulan setelah insiden, ia mengatakan tidak yakin apakah yang ia dengar saat itu adalah propaganda, tetapi banyak hal yang ia rasa masuk akal.

“Mereka membagikan amplop cokelat berisi kertas ketikan yang menjelaskan bagaimana selama 22 tahun mereka terusir dari rumah mereka dan menjadi pengungsi,” katanya. “Sebelum pembajakan itu, saya hanya mendengar satu sisi cerita. Ketika itu terjadi, saya mulai mendengar sisi lainnya. Saya tidak bilang saya tahu siapa yang benar atau salah, tapi itu membuat saya banyak berpikir.”

“Perasaan saya terhadap rakyat Palestina adalah simpati.”

Kini di usia 68 tahun, ia masih menitikkan air mata saat mengenangnya, namun ia tetap memiliki rasa iba terhadap para pelaku pembajakan.

“Mereka membuat keputusan bahwa ini satu-satunya cara agar mereka didengar,” ujar Hodes.

Para pembajak memotong seutas tali agar anak-anak bisa bermain lompat tali dan memberikan sekotak minuman soda Fanta. Seorang perempuan, yang diduga pemimpin kelompok komando, bermain dengan anak-anak. Ryn dan Martha memberi tahu mereka soal obat asma yang mereka konsumsi, dan satu jam kemudian mereka dibawakan obat yang persis sama.

Kala itu, Ryn kepada media mengatakan, “Mereka bisa saja melakukan apa saja terhadap kami. Tapi mereka melakukan segala yang mereka bisa untuk membantu kami, dan itu membuat saya menghormati mereka.”

Para pembajak juga mengatakan bahwa keluarga mereka tinggal di tenda dan kekurangan makanan, dan mereka rela tidak makan demi memberikan jatah makanan kepada para sandera.

Catherine Hodes

Bertahun-tahun kemudian, Hodes mengetahui bahwa ancaman terbesar justru datang dari pihak lain, dari Nixon dan Kissinger, dua tokoh politik Amerika Serikat yang sangat berpengaruh pada era Perang Dingin, khususnya di bidang kebijakan luar negeri.

“Nixon dan Kissinger sempat berbicara tentang intervensi militer agresif, dan itu bisa saja membuat kami semua terbunuh,” katanya. “Saya sebenarnya tidak dalam bahaya dari para komando saat itu. Tentu saja, saya pikir saya bisa saja terbunuh. Saya melihat dinamit terpasang di pesawat. Mereka bersenjata lengkap. Jadi wajar jika saya ketakutan. Namun, risiko terbesar datang dari Nixon dan Kissinger. Saya rasa Menteri Pertahanan Melvin Laird yang akhirnya mengatakan itu ide buruk. Tapi kalau mereka nekat, saya mungkin tidak akan ada di sini sekarang.”

Sesampainya di New York, orang tuanya menyarankan agar ia tidak membicarakan insiden tersebut, dan ia menuruti. Selama bertahun-tahun ia menyimpan cerita itu rapat-rapat, namun benih simpati terhadap perjuangan Palestina terus tumbuh.

Ketika ia menyuarakan empatinya terhadap rakyat Palestina, banyak yang menuduhnya telah dicuci otak, mengalami Stockholm Syndrome, atau terpengaruh propaganda. Namun seiring waktu, setelah membaca karya para akademisi anti-Zionis dan berdialog dengan komunitas yang berpandangan serupa, ia menyadari bahwa meski aksi para pembajak ekstrem, pandangan mereka tidak demikian. Jutaan orang di seluruh dunia juga mendukung Palestina merdeka dan ia memutuskan bahwa ia setuju.

Sebelum tahun 1970, ia bahkan tidak pernah mendengar tentang Palestina.

“Zionisme adalah udara yang saya hirup,” kata Hodes. “Saya diajarkan bahwa orang Yahudi datang ke gurun yang tak berpenghuni dan membangun negara yang kini menjadi tanah air orang Yahudi. Saya tidak pernah dengar soal desa-desa Palestina, pertanian, atau komunitas yang pernah hidup di sana. Tidak pernah diajarkan bahwa di wilayah itu dulu hidup berdampingan orang Palestina, Yahudi, Muslim, dan Druze, yang semuanya memiliki ikatan dengan tanah tersebut.”

“Mengenang cara berpikir saya saat itu membuat saya sedih sekaligus marah. Menyedihkan, karena itu bukan kenyataan. Ternyata tanah yang saya bayangkan kosong itu tidaklah kosong. Di sana ada rakyat yang tidak punya hubungan dengan penderitaan orang Yahudi Eropa, tapi desa mereka dihancurkan, mereka diusir dan tak punya tempat tujuan… Banyak dari hal-hal ini, pertama kali saya dengar justru dari para pembajak pesawat itu.”

Hodes tumbuh dalam lingkungan budaya Yahudi di New York, meskipun tidak religius. Ia tidak menjalani Bat Mitzvah, tidak rutin menghadiri sinagoga, Sabat, atau seder, namun tetap merasa identitas Yahudinya penting.

Saat berusia delapan atau sembilan tahun, orang tuanya bercerai. Ibunya kemudian menikah dengan pria asal Israel dan pindah ke Tel Aviv. Ryn dan Martha tetap tinggal di New York bersama ayah mereka, tetapi menghabiskan setiap musim panas di Israel bersama ibu dan ayah tiri, terbang bolak-balik sebagai anak tanpa pendamping.

Ia mengenal Israel sebagai tempat dengan pantai indah, seni, bioskop, dan tarian rakyat di alun-alun kota. Ia memang menyadari keberadaan bunker dan pos pemeriksaan, tapi tidak pernah mempertanyakan alasan di balik itu semua. Ia tahu Perang Enam Hari tahun 1967 pernah terjadi dan melihat tank-tank hancur di pinggir jalan. Baginya saat itu, “orang Arab” adalah musuh.

Semunya berubah setelah pengalaman penyanderaan, ia mulai mempertanyakan Zionisme. Baginya, tidak masuk akal jika respons terhadap Holocaust adalah mengusir rakyat Palestina dari tanah mereka, padahal mereka tidak ada kaitan dengan peristiwa itu. Ia juga mempertanyakan mengapa orang Yahudi perlu satu wilayah kecil di dunia untuk merasa aman, sementara seharusnya keamanan bisa didapatkan di mana saja. Hal-hal yang dulu diyakini sebagai kebenaran, kini tak lagi ia terima begitu saja.

Sebagai orang dewasa, Hodes kini secara terbuka mengidentifikasi diri sebagai anti-Zionis dan pendukung perjuangan kemerdekaan Palestina, sebuah isu yang sangat ia pedulikan. Ia membuat karya seni media campuran dan menjualnya untuk mendukung lembaga seperti UNRWA dan Middle East Children’s Alliance yang memberikan bantuan kemanusiaan di Gaza.

Meski masih mendapat kecaman dari pendukung Zionisme yang menganggap pandangannya sebagai hasil indoktrinasi, Hodes memilih melihat pengalamannya dari sudut pandang yang lebih luas.

Ia memiliki empati terhadap para sandera Hamas dan terhadap keluarga mereka, karena ia tahu apa yang dialami orang tuanya 55 tahun lalu. Namun, keprihatinan utamanya adalah terhadap rakyat Palestina.

“Saya melihat Gaza sebagai situasi penyanderaan,” ujarnya. “Saya melihat ribuan penduduk Palestina yang selama ini disandera oleh kebijakan Israel sejak Nakba.”

“Kalau Anda bandingkan apa yang saya alami dulu dengan apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina (dari dulu hingga) sekarang, coba katakana, siapa sebenarnya pelaku kekerasan, siapa sebenarnya penyandera?”

___

*Sarah Prager merupakan aktivis kemanusiaan dan penulis asal Amerika Serikat. Ia menulis untuk berbagai media nasional di AS seperti The New York Times, The Atlantic, dan NBC News.

(T.FJ/S: Mondoweiss)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!