Ditulis oleh: Jeremy Salt*
Gaza, SPNA – Genosida yang ditujukan untuk seluruh wilayah Palestina sebenarnya tidak dimulai pada tahun 1948 atau 1917, melainkan sejak tahun 1890-an. Saat itu, Theodor Herzl telah menyampaikan bahwa rakyat Palestina, yang mayoritasnya adalah penduduk miskin, harus “dihilangkan” dari tanah Palestina.
Bagi para perencana, masalahnya bukanlah apakah pengusiran itu akan dilakukan, tetapi bagaimana caranya. Proses pengusiran terus berlangsung seiring kesempatan yang muncul: 800.000 orang pada tahun 1947-1949, lalu 350.000 orang lagi pada tahun 1967. Semua itu didukung oleh berbagai kebijakan hukum dan militer yang bertujuan untuk terus mengurangi jumlah penduduk asli hingga kesempatan berikutnya datang untuk melakukan penghapusan besar-besaran.
Pembunuhan terhadap 19.000 anak-anak di Gaza hingga saat ini merupakan salah satu kejahatan paling mengerikan dalam sejarah dunia. Namun, genosida ini menjadi sangat mencolok karena dilakukan secara menyeluruh, dengan perhatian terhadap setiap detail—agar tak ada satu pun yang tersisa.
Musuh yang dimaksud bukan hanya rakyat Palestina, tetapi juga semua hal yang mewakili mereka: sejarah, budaya, artefak, musik, lagu, masjid kuno, pasar tradisional, universitas, sekolah, perpustakaan, pusat budaya, rumah sakit, pohon, ladang, pantai, makam, bahkan pakaian tradisional perempuan Gaza yang berwarna ungu, yang terhubung dengan sejarah pewarnaan kain oleh bangsa Fenisia.
Semua jejak harus dihapuskan, agar tidak ada benih yang bisa membuat Palestina tumbuh kembali. Meski memori akan tetap ada, waktu akan mengikisnya juga. Inilah inti dari rencana Zionis terhadap Palestina.
Gaza dan Warisan Sejarah yang Dihancurkan
Gaza dulunya adalah persimpangan penting dalam sejarah kuno. Kota ini menghubungkan Afrika Utara dengan Levant (Suriah Raya) dan perdagangan Laut Tengah dengan rempah-rempah dari Arab Selatan. Sejarahnya tercatat sejak abad ke-15 SM.
Selama ribuan tahun, banyak kerajaan memperebutkan Gaza: Mesir, Asyur, Yunani, Romawi, Mamluk, Utsmaniyah, hingga Inggris pada Perang Dunia I. Pemakaman Persemakmuran yang dibangun setelah perang itu kini juga hancur atau rusak.
Kota-kota di Gaza seperti Rafah telah berdiri sejak ribuan tahun lalu—sampai akhirnya dihancurkan total oleh Israel. Rekaman drone yang menampakkan kehancurannya menyerupai pemandangan pasca-pengeboman Hiroshima.
Museum, perpustakaan, dan situs arkeologi berubah menjadi puing-puing. Salah satunya adalah situs zaman Perunggu Tell al Sultan dekat Rafah, yang dihuni sejak 3300 SM–2200 SM, namun diratakan oleh buldoser Israel.
Situs Bersejarah yang Dihancurkan
UNESCO pada 25 Maret 2025 mencatat 94 situs bersejarah dan arkeologi yang dirusak atau dihancurkan sejak Oktober 2023, 88 di antaranya berada di Gaza. Kementerian Kebudayaan Palestina mencatat 207 dari total 320 situs di Gaza mengalami kerusakan parah atau hancur.
Termasuk di antaranya:
– Lima situs arkeologi di pesisir Gaza.
– Pelabuhan Blakhiyya (Anthodeon) dari 800 SM.
– Kompleks pemakaman bangsa Filistin di Deir al Balah.
– Gereja Bizantium abad ke-5 dan Biara St. Hilarion.
– Gereja St. Porphyrius, gereja tertua ketiga di dunia.
– Masjid Agung Omari, dulunya Katedral St. Yohanes Pembaptis.
– Pasar Qissariyya abad pertengahan dan pemandian Al Samra era Mamluk.
– Masjid ‘Uthman abad ke-14, diyakini tempat makam kakek buyut Nabi Muhammad.
– Istana Pasha dan pusat manuskrip Dar al Sa’ada.
– Arsip Kota Gaza yang menyimpan dokumen 150 tahun terakhir.
– Perpustakaan Edward Said, Perpustakaan Anak, serta Toko Buku Samir Mansour.
Museum Qarara dan Museum Rafah yang menyimpan ribuan artefak budaya juga hancur dalam serangan.
Masjid, Kuburan, dan Warisan Spiritual yang Dilenyapkan
Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Gaza mencatat hingga 19 Februari 2025, sebanyak 89% masjid di Gaza rusak atau hancur total (1109 dari 1244 masjid), termasuk yang dibom saat waktu shalat. Dari 60 pemakaman, 40 diserang dan 21 hancur total. 643 aset wakaf dihancurkan dan 315 imam serta khatib dibunuh.
Kebanyakan situs budaya dan sejarah dihancurkan di minggu-minggu pertama perang, menunjukkan bahwa penghancuran ini sudah direncanakan dan disengaja. Tujuan perang bukanlah hanya menghancurkan Hamas, tetapi Gaza itu sendiri.
Pohon Zaitun sebagai Musuh
Genosida di Gaza merupakan kelanjutan dari peristiwa 1947-1949, saat ratusan desa Palestina dihancurkan. Rumah-rumah dijarah, masjid dan kuburan dihancurkan.
Setelah tahun 1967, praktik ini berlanjut. Kawasan kuno seperti perkampungan Maghribi dekat Masjid Al-Aqsa dihancurkan hanya dalam beberapa hari setelah Yerusalem Timur diduduki. Pemakaman Mamilla, tempat ribuan tokoh Islam dan sahabat Nabi dimakamkan, dibuldozer untuk dijadikan taman, sekolah, hotel, bahkan tempat hiburan.
Zionisme juga merusak dan memanipulasi pertanian Palestina. Setelah 1948, sekitar 700.000 pohon buah dan kacang diganti dengan pohon pinus Aleppo—tanaman asing yang ditanam oleh Dana Nasional Yahudi (JNF) untuk menghapus jejak lanskap Palestina.
Lembah Huleh, wilayah subur dan kaya hasil tani, dikeringkan pada tahun 1950-an untuk pembangunan pemukiman, menyebabkan kerusakan ekosistem.
Meskipun demikian, musuh terbesar penjajah Israel tetaplah pohon zaitun, simbol kehidupan dan keberadaan rakyat Palestina. Sejak 1967, setidaknya 800.000 pohon zaitun ditebang atau dibakar oleh pemukim Yahudi dengan bantuan militer.
Petani Palestina diserang, bahkan dibunuh, oleh pemukim bersenjata yang dilindungi tentara Israel.
Gaza Dahulu: Surga yang Hilang
Sebelum Zionisme, Gaza dikenal sebagai wilayah subur. Beit Hanun, Beit Lahiya, dan Jabaliyya terkenal dengan buah-buahan dan sayurannya. Kota Gaza memiliki sumur air sedalam 150 kaki dengan kualitas air yang tinggi, udaranya sejuk dan menyehatkan.
Sejarawan Amerika, Dr. W.M. Thomson dalam bukunya The Land and the Book (1860-an), menyebut wilayah ini seperti “lembah Mississippi yang subur dan indah di Amerika.”
Kini semua itu telah lenyap. Dalam kata-kata seorang pejabat di Gedung Putih, Gaza hanyalah “sebidang properti yang luar biasa”. Gaza tidak dianggap sebagai tempat penuh kehidupan, peradaban, dan manusia, tetapi hanya sebuah “properti” oleh sebagian orang-orang keji.
___
*Jeremy Salt adalah penulis dan peneliti. Ia mengajar di University of Melbourne, Bosporus University di Istanbul, dan Bilkent University di Ankara selama bertahun-tahun, dengan spesialisasi sejarah modern Timur Tengah. Di antara karya terbarunya adalah buku terbitan tahun 2008, The Unmaking of the Middle East. A History of Western Disorder in Arab Lands (University of California Press) dan The Last Ottoman Wars. The Human Cost 1877-1923 (University of Utah Press, 2019). Ia menyumbangkan artikel ini untuk The Palestine Chronicle.
(T.FJ/S: The Palestine Chronicle)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!