Krisis Kelaparan Semakin Parah: Israel Menggorogoti Tubuh Anak-anak Palestina di Gaza Sampai Tak Bernyawa

Penduduk Palestina berduka dalam kelaparan setelah anak-anak mereka syahid di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, termasuk seorang anak yang menderita malnutrisi parah, pada 20 Juli 2025. (Foto: Moaz Abu Taha/APA Images)

Gaza, SPNA – Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza pada hari Rabu (23/07/2025), sebanyak 10 penduduk sipil Palestina kembali dilaporkan meninggal karena krisis kelaparan di Jalur Gaza akibat blokade total Israel, dengan gelombang kelaparan semakin parah yang melanda wilayah tersebut.

Dengan penambahan kasus ini, jumlah korban jiwa akibat krisis kelaparan sejak perang genosida Israel pada Oktober 2023 telah mencapai 111 orang, di mana sebagian besar di antaranya terjadi dalam beberapa minggu terakhir. Menurut laporan Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza dan WHO, lebih dari 80 di antaranya adalah anak-anak. Kementerian Kesehatan Palestina menyebut kejadian ini sebagai “pembantaian diam-diam”.

Sekitar 100 penduduk sipil Palestina lainnya, termasuk 34 orang yang sedang mencari bantuan, dibunuh Israel selama 24 jam terakhir.

Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), yang didukung Israel dan dijalankan Amerika Serikat, mengklaim telah membagikan lebih dari 80 juta makanan dalam dua bulan terakhir. Namun, tanda-tanda kelaparan di Gaza terlalu jelas untuk diabaikan. Sementara itu, puluhan penduduk Palestina dibunuh Israel setiap hari di sekitar lokasi distribusi bantuan GHF. Fakta ini terus dibantah keras oleh organisasi tersebut, meski banyak bukti dan kesaksian menyebar luas.

Pada hari Sabtu (19/07), Kompleks Rumah Sakit Nasser di Khan Younis mencatat 32 orang meninggal dunia dan lebih dari 70 terluka di daerah Tineh, sebelah barat kota Rafah, di lokasi distribusi bantuan oleh GHF. Sebagian besar korban menderita luka tembak di kepala dan dada akibat tembakan sniper Israel.

Hari Minggu (20/07), Program Pangan Dunia (WFP) PBB melaporkan bahwa pasukan Israel menembaki penduduk sipil Palestina yang kelaparan saat mereka berusaha mendekati konvoi bantuan dari arah utara Gaza.

“Sesaat setelah melewati pos pemeriksaan terakhir di perbatasan Zikim, konvoi bantuan kami dihadang kerumunan besar penduduk sipil (kelaparan) yang sangat membutuhkan makanan. Saat truk bantuan mendekat, mereka diserang dengan tembakan dari tank, sniper, dan senjata lainnya oleh pasukan Israel,” kata ungkap WFP.

Petugas kesehatan UNRWA memeriksa dan merawat anak-anak Palestina yang menderita Malnutrisi Akut Berat (SAM) di Pusat Medis UNRWA yang terletak di sekolah UNRWA yang diubah menjadi tempat penampungan di Kota Gaza, 17 Juli 2025. (Foto: UNRWA/APA Images).

Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa 90 orang meninggal dunia dalam serangan tersebut. Angka ini belum termasuk ratusan orang yang terluka parah dan kemungkinan meninggal karena tidak mendapatkan perawatan medis.

WFP juga menambahkan bahwa tingkat kelaparan di Gaza sudah sangat parah:

“Orang-orang meninggal karena kurangnya bantuan kemanusiaan. Kasus malnutrisi meningkat drastic, 90.000 wanita dan anak-anak membutuhkan pengobatan darurat. Hampir satu dari tiga orang tidak makan selama berhari-hari. Bantuan pangan menjadi satu-satunya harapan mereka, sementara harga satu kilogram tepung melonjak hingga lebih dari 100 dolar AS di pasar local,” kata WFP.

Dr. Atef al-Ghoul, Direktur Kompleks Rumah Sakit Nasser, menyebut bahwa setiap hari ada yang meninggal karena kelaparan.

“Kalau bicara dengan angka, angka-angka sudah berbicara sendiri, ratusan orang meninggal dalam dua bulan terakhir saat mencoba mencari makanan, lalu pulang ke keluarga mereka dalam kantong jenazah,” kata Atef al-Ghoul.

Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, hampir 1.000 orang tewas di pusat distribusi GHF, lebih dari 6.000 luka-luka, dan 45 orang masih hilang.

Dr. al-Ghoul juga menyebut bahwa jumlah penderita malnutrisi meningkat setiap hari. Kondisi ini melemahkan kekebalan tubuh dan menyebabkan tubuh makin melemah. Rumah Sakit Nasser sangat kewalahan karena keterbatasan obat dan peralatan.

“Selamatkan Gaza sebelum semuanya terlambat. Delapan miliar orang di dunia ini bahkan tidak bisa mengirimkan sepotong roti ke Gaza,” seru al-Ghoul.

Kelaparan Menggerogoti Tubuh Bayi Palestina

Anak-anak bayi Palestina menjadi korban paling rentan. Ibu-ibu tidak bisa menyusui karena tubuh mereka kekurangan gizi, dan susu formula pun tak tersedia di pasaran.

Di Rumah Sakit Nasser, seorang bayi bernama Yahya al-Najjar meninggal dunia pada usia tiga bulan pada hari Sabtu, 19 Juli, setelah lama menderita kelaparan.

Bibi Yahya al-Najjar, Mirvat Najjar, menceritakan hal ini dalam video:

“Sejak lahir, orang tuanya tak bisa memberinya makan. Ibunya tak mampu menyusui, dan ayahnya tak bisa menemukan susu formula karena situasi yang sangat sulit. Saat kondisinya memburuk, mereka membawanya ke rumah sakit. Namun, beberapa hari kemudian, ia terpakasa dipulangkan karena rumah sakit tak punya pengobatan.”

“Kelaparan telah menggerogoti tubuhnya. Bukannya tumbuh, ia malah menyusut sampai akhirnya tidak bisa diselamatkan. Ia bukan satu-satunya yang menderita kelaparan,” kata Mirvat Najjar menunjuk ke saudara-saudaranya yang masih hidup. “Kalau mereka tidak meninggal hari ini, mungkin besok, atau lusa (mereka akan meninggal).”

Dr. Ahed Khalaf, dokter spesialis anak di Rumah Sakit Nasser yang menangani Yahya, mengatakan bayi tersebut sudah dalam kondisi tidak bernyawa saat tiba.

“Lembaga bantuan gizi pernah menanganinya, tapi sangat sulit mendapatkan susu. Apalagi ibunya tidak bisa menyusui.”

Kondisi Yahya sangat parah. Ia lemah, kurus, anemia, dan bahkan tidak sadar terhadap kehadiran ibunya. Anak-anak yang datang akibat kelaparan sangat kritis.

“Mereka tidak bisa berdiri, tidak bisa berjalan. Mereka datang seperti tulang berbalut kulit,” kata Dr. Ahed Khalaf.

Dr. Khalaf juga mengungkapkan bahwa sistem layanan kesehatan di Gaza sudah hancur total. “Kami sudah meminta bantuan ke organisasi internasional, tapi sampai sekarang tidak ada satu pun yang merespons.”

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza telah mengajukan permintaan ke WHO, UNICEF, dan Save the Childrenm akan tetapi semua belum membuahkan hasil.

Anak Palestina berusia 14 tahun, Abdul Jawad Al-Ghalban, meninggal dunia akibat malnutrisi parah di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, pada 22 Juli 2025. (Foto: Moaz Abu Taha/APA Images)

Anak-Anak Gaza Mati Karena Lapar

Di Deir al-Balah, seorang anak perempuan berusia empat tahun, Razan Abu Zaher, meninggal dunia karena tubuhnya menyerah setelah berbulan-bulan tidak cukup makan. Dalam video yang diperoleh Mondoweiss, tubuh Razan tampak terbujur di ranjang kamar jenazah di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsha, dikelilingi keluarganya. Matanya terbuka, perutnya membengkak, dan tulangnya menonjol.

Ibunya mengatakan Razan sering menderita infeksi dada akibat menghirup bubuk mesiu. Ia sempat dirawat selama lebih dari 20 hari. Setiap kali pulang ke rumah, kondisinya memburuk dan harus kembali dirawat.

“Kami tidak punya apa pun untuk memberinya makan. Kami sendiri juga kelaparan,” kata ibunya.

Menurut UNRWA, 1 dari 10 anak Palestina di bawah usia lima tahun di Gaza menderita malnutrisi akut. Lebih dari 240.000 anak mengalami kekurangan makanan parah. Pada bulan Juni saja, UNICEF mencatat lebih dari 5.800 kasus malnutrisi pada anak-anak, di mana lebih dari 1.000 di antaranya adalah kasus akut selama empat bulan berturut-turut.

Banyak penduduk Palestina mulai pingsan di jalan. Ahmad Jalal, seorang jurnalis di Gaza, menyaksikan kejadian seperti ini di sekitar rumah sakit.

Lembaga Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas mencatat peningkatan besar dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam kasus malnutrisi pada anak dan perempuan di klinik mereka di Gaza Utara dan Selatan. Laporan tanggal 11 Juli menyebut bahwa lebih dari 700 ibu hamil dan menyusui serta sekitar 500 anak menderita malnutrisi akut atau sedang.

“Ini pertama kalinya kami melihat tingkat kelaparan seburuk ini di Gaza. Kelaparan yang disengaja ini bisa dihentikan besok, jika otoritas Israel mengizinkan masuknya makanan secara luas,” kata Wakil Koordinator Medis MSF.

(T.FJ/S: Mondoweis, Reuters, Aljazeera)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!