Kontroversi BBC dan Trump: Bias Pro-Israel atas Gaza Adalah Skandal yang Sesungguhnya

Orang-orang berjalan di luar Gedung Penyiaran BBC setelah Direktur Jenderal BBC Tim Davie dan Kepala Eksekutif BBC News Deborah Turness mengundurkan diri pada 10 November 2025. (Foto: Reuters)

Ditulis oleh: Faisal Hanif*

Washington, SPNA – Saat direktur jenderal dan kepala berita BBC mengundurkan diri, pada Minggu (09/11/2025), di tengah polemik terkait penyuntingan yang menyesatkan dalam pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump, narasinya tampak sederhana: sebuah kesalahan, konsekuensinya, dan pertanggungjawaban. Namun, skandal terbaru ini sebenarnya dipicu oleh kontroversi yang keliru.

Program unggulan BBC, Panorama, menayangkan sebuah episode yang mengedit secara selektif pidato Donald Trump dari 6 Januari 2021 agar terkesan bahwa beliau mengajak pendukungnya untuk “berjalan ke Capitol dan kita berlawan seperti neraka” (fight like hell). Padahal bagian lain dari pidato yang menunjukkan ajakan untuk demonstrasi secara damai (peacefully and patriotically make your voices heard), telah dihilangkan.

Pihak BBC pun mengakui bahwa pengeditan pidato Trump tersebut memberikan “kesan … ajakan aksi kekerasan” yang tidak dimaksudkan.

Ketika pemberitaan masih berfokus pada satu kesalahan penyuntingan, krisis sesungguhnya berada di pusat lembaga penyiaran publik Inggris itu jauh lebih dalam, terutama pada kegagalannya meliput perang Israel di Gaza dengan kejujuran dan keberanian. Ironinya pun pahit: BBC terguncang oleh salah satu kesalahannya yang paling kecil, sementara kesalahan yang jauh lebih besar: distorsi atas realitas rakyat Palestina, dibiarkan tanpa sanksi.

Skala kegagalan itu dapat diukur. Sebuah laporan mengejutkan dari Centre for Media Monitoring yang menganalisis lebih dari 35.000 konten BBC yang diterbitkan antara Oktober 2023 hingga Mei 2025, menunjukkan bahwa pemberitaan BBC tentang Gaza secara konsisten mengutamakan perspektif Israel dan meminggirkan suara-suara Palestina.

Data yang diungkap sangat mencolok. Kematian penduduk Palestina selama periode penelitian mendapat perhatian 33 kali lebih sedikit per insiden dibanding kematian warga Israel. BBC menggunakan kata “pembunuhan” (murder) sebanyak 220 kali untuk korban Israel, akan tetapi hanya sekali digunakan untuk korban Palestina, dan kata “pembantaian” (massacre) 18 kali lebih sering digunakan bagi korban Israel. Pejabat dan komentator Israel diwawancarai lebih dari dua kali lipat dibandingkan narasumber Palestina.

Bahkan ketika melaporkan penderitaan kemanusiaan, penduduk Palestina kerap digambarkan hanya sebagai korban pasif dengan menggunakan kata “terusir, kelaparan, sekarat, tanpa hak, sejarah, atau daya” untuk menentukan nasibnya sendiri. Hanya 0,5 persen laporan yang menyinggung soal pendudukan Israel yang telah berlangsung selama beberapa dekade, dan hanya dua persen yang menyebut istilah “apartheid”, meski istilah ini telah secara resmi digunakan oleh sejumlah lembaga hak asasi manusia internasional terkemuka.

Bias Institusional

Menurut Centre for Media Monitoring, BBC secara berulang mengadopsi bahasa dan sudut pandang yang digunakan oleh negara Israel, seraya mengabaikan suara mereka yang hidup di bawah pendudukan. Itu bukanlah jurnalisme yang imparsial, melainkan bias institusional terhadap Israel yang dikemas sebagai “keseimbangan”.

Manipulasi narasi dan upaya untuk membelokkan kenyataan belum juga berhenti. Dua tahun lalu, saya menulis bahwa keluhan Israel terhadap pemberitaan BBC “dimanfaatkan secara sinis dalam perang budaya domestik Inggris”. Setiap tuduhan bias dijadikan senjata oleh politisi dan komentator sayap kanan yang ingin menundukkan lembaga penyiaran ini agar selalu berhati-hati secara berlebihan.

Selama setahun terakhir, BBC tampak melakukan hal itu: menenangkan pihak-pihak paling berisik alih-alih membela jurnalisnya sendiri atau kewajibannya untuk memberitakan kebenaran.

Pengunduran diri CEO BBC News Deborah Turness dan Direktur Jenderal Tim Davie memperjelas kontradiksi ini. Dalam surat perpisahannya, Turness memuji profesionalisme redaksinya dan menegaskan bahwa “tuduhan terbaru bahwa BBC News memiliki bias institusional adalah tidak benar”.

Meskipun demikian, klaim itu terasa hampa jika dibandingkan dengan kesaksian stafnya sendiri. Pada November 2024, lebih dari 100 karyawan BBC menandatangani surat internal yang menuduh lembaga tersebut menerapkan standar ganda dan gagal menuntut pertanggungjawaban Israel atas tindakannya.

Ketegangan ini sebenarnya sudah muncul sejak setahun sebelumnya. Pada November 2023, Turness dilaporkan mengatakan kepada staf dalam rapat darurat: “Kita semua harus ingat bahwa semua ini dimulai pada 7 Oktober”, dengan maksud menegaskan bahwa 7 Oktober adalah awal mula penyebab genosida di Gaza, tanpa memperdulikan penjajahan dan pendudukan puluhan tahun yang telah dialami rakyat Palestina sejak 1948.

Menurut laporan Drop Site, alih-alih meredakan suasana di tengah perdebatan panas antara jurnalis dan manajemen senior, pernyataan itu justru memperdalam kemarahan mereka yang merasa bahwa cara pandang semacam itu menghapus puluhan tahun penindasan dan pendudukan terhadap rakyat Palestina.

Jurnalis Owen Jones menulis bahwa staf menggambarkan adanya budaya ketakutan: lingkungan redaksi di mana mengkritik bias anti-Palestina bisa berarti akhir karier. Keluhan internal, kata mereka, kerap diabaikan atau ditolak oleh tingkat manajemen tertinggi.

Mesin Kemarahan

Setiap kali BBC mencoba memberitakan tindakan Israel secara akurat, mesin kemarahan pun menyala, pemerintah ikut campur, tabloid berteriak, dan lembaga penyiaran yang sudah lama diguncang intervensi politik itu kembali mundur ke posisi “netral” yang defensif.

Kisruh seputar film dokumenter Trump bukanlah soal integritas jurnalistik. Ini adalah pertarungan kekuasaan: upaya mendisiplinkan lembaga penyiaran publik yang setidaknya secara nominal, masih bertanggung jawab kepada publik, bukan kepada pemilik media miliarder. Ini adalah perang atas makna kata, di mana kosa kata jurnalisme sendiri dijadikan senjata.

BBC dihukum bukan karena kesalahan yang tepat. Ia kehilangan para pemimpinnya akibat kesalahan penyuntingan, sementara lolos dari pertanggungjawaban atas kegagalan editorialnya mengenai genosida yang dilakukan Israel di Gaza. Seperti halnya imigran yang menjadi sasaran media sayap kanan Inggris, BBC tidak diizinkan melakukan kesalahan atau bersikap bernuansa, hanya tunduk.

Pengunduran diri itu bukan bentuk penebusan, melainkan persembahan. Setiap skandal menenangkan tabloid untuk sementara, sementara persoalan sesungguhnya tetap membusuk: sikap tunduk institusional BBC terhadap kekuasaan politik.

Mantan pemimpin redaksi The Sun, David Yelland, menilai bahwa pihak-pihak yang berhasil “menggulingkan” pucuk pimpinan BBC sesungguhnya mengincar sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar beberapa kepala yang bergulir. Target akhir mereka adalah pembongkaran lembaga itu sendiri, kemenangan terbesar bagi musuh jurnalisme layanan publik di kalangan kanan Inggris, serta kelompok sayap kanan yang kian percaya diri.

Kini BBC berada di persimpangan jalan. Di satu sisi ada jalan menuju penyensoran diri, sikap tunduk, dan permintaan maaf tanpa makna. Di sisi lain ada publik yang seharusnya dilayani: khalayak yang berhak atas pemberitaan yang mengakui bahwa rakyat Palestina adalah manusia, bukan sekadar “masalah”.

Film dokumenter Trump mungkin disunting secara keliru, akan tetapi kisah Gaza telah lama disampaikan secara keliru. Jika BBC masih percaya pada mottonya, “Nation shall speak peace unto nation”, maka perdamaian harus dimulai dari kejujuran. Kejujuran itu bermula dengan pengakuan: kami telah keliru, bukan dalam penyuntingan film, tetapi dalam cara kami menceritakan, dan terus menceritakan, kisah tentang seluruh bangsa (termasuk bangsa Palestina).

___

*Faisal Hanif adalah analis media di Centre for Media Monitoring dan sebelumnya bekerja sebagai reporter berita dan peneliti di The Times dan BBC.

(T.FJ/S: MEE)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!