Teheran, SPNA – Israel melancarkan serangan militer besar yang belum pernah terjadi sebelumnya ke wilayah Iran pada Jumat dini hari (13/06/2025), hanya dua hari sebelum putaran baru negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan berlangsung. Serangan ini menargetkan fasilitas nuklir, bandara, tokoh militer tinggi, dan ilmuwan nuklir Iran di beberapa lokasi, termasuk ibu kota Tehran.
Sekitar pukul 03.00 waktu setempat, media Iran melaporkan beberapa ledakan di Tehran. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi bahwa negaranya telah melakukan “serangan pre-emptive terhadap Iran” atau serangan yang dilakukan untuk mencegah potensi serangan yang dilakukan Iran. Sebuah dalih yang mengada-ada karena Iran tidak pernah menyerang Israel sebelumnya. Bahkan, Israel yang selalu menyerang Iran duluan dan sering membunuh ahli teknologi nuklir Iran.
Media resmi Iran, IRNA, kemudian melaporkan bahwa serangan tersebut membunuh Panglima Garda Revolusi Iran, Hussein Salami, serta Kepala Staf Angkatan Bersenjata, kepala kompleks militer Khatem al-Anbiya, dan enam ilmuwan nuklir Iran.
Fasilitas nuklir Natanz di Iran tengah, serta beberapa lokasi militer dan nuklir lain di wilayah barat, juga menjadi sasaran. Pagi harinya, serangan Israel kembali menghantam Bandara Tabriz di Iran utara.
Iran Membalas: Luncurkan Operasi “True Promise 3”
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengeluarkan pernyataan keras usai serangan, menyebut bahwa Israel “akan menerima hukuman berat.” Ia juga mengumumkan pengganti para pemimpin militer yang terbunuh.
Di kota suci Qom, Masjid Jamkaran mengibarkan bendera merah, simbol tradisional Syiah yang menandakan pembalasan akan datang. Bendera ini juga dikibarkan sebelumnya menjelang pembalasan Iran atas pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani (2020) dan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh (2024).
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi, mendesak Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk mengecam serangan Israel tersebut.
Sumber militer Israel melaporkan bahwa Iran meluncurkan sekitar 100 drone serang ke wilayah Israel. Namun, juru bicara militer Israel menyatakan bahwa sistem pertahanan udara telah berhasil mencegatnya di wilayah negara-negara tetangga. Ia juga memperingatkan bahwa serangan balasan besar dari Iran diperkirakan akan terjadi dalam beberapa hari ke depan dan meminta warga Israel untuk tetap di dalam rumah.
Pada Jumat malam (13/06), Iran meluncurkan serangan rudal terbesarnya terhadap Israel, menghantam beberapa kota termasuk Tel Aviv, melukai sedikitnya 21 orang dan menyebabkan kerusakan yang meluas. Iran telah menamai serangan itu Operasi True Promise 3, menyusul serangan serupa yang diberi label True Promise 1, pada April 2024, dan True Promise 2, pada Oktober 2024.
Delapan belas jam setelah dimulainya serangan besar-besaran Israel, Iran meluncurkan serangan rudal berskala besar terhadap Israel malam ini, menembakkan ratusan rudal balistik yang digambarkan sebagai serangan Iran paling kuat terhadap Israel hingga saat ini.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dengan cepat mengklaim bertanggung jawab, mengonfirmasi bahwa puluhan target di dalam Israel terkena serangan, termasuk “pusat militer dan pangkalan udara rezim Zionis yang merebut kekuasaan”.
Kantor berita Reuters mengutip seorang pejabat Iran yang mengatakan: “Tidak akan ada tempat yang aman di Israel… Balas dendam kami akan menyakitkan. Musuh Zionis akan membayar harga yang mahal karena membunuh para pemimpin kami, cendekiawan kami, dan rakyat kami”.
Militer Israel telah mendesak penduduk untuk tidak membagikan gambar atau informasi tentang lokasi dampak, dengan peringatan bahwa “musuh memantau materi-materi ini untuk meningkatkan kemampuan ofensifnya”.
Komandan Polisi Distrik Tel Aviv menggambarkan serangan itu sebagai insiden besar yang menghancurkan banyak lokasi.
Channel 13 melaporkan “kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya” di wilayah Tel Aviv yang lebih luas, dengan puluhan bangunan dan kendaraan terkena rudal Iran atau rusak oleh pecahan dari sistem pencegat Israel. Menurut laporan media Israel, sembilan wilayah terpisah di Israel terkena rudal balistik Iran.
Rekaman video dari sumber-sumber Israel dan Palestina menunjukkan gumpalan asap tebal mengepul di atas pusat kota Tel Aviv, sementara sirene meraung di beberapa kota, termasuk Yerusalem, Haifa, dan Beersheba, yang memicu kepanikan yang meluas.

Israel Serang Iran Sebelum Negosiasi Nuklir Iran–AS
Serangan Israel ke Iran terjadi setelah lima putaran negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat di Oman mengenai program nuklir Iran, dan hanya dua hari sebelum putaran keenam. Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa harapannya terhadap kesepakatan semakin menipis.
Perbedaan utama dalam negosiasi ini adalah desakan AS agar Iran tidak memperkaya uranium di dalam negeri, sesuatu yang ditolak keras oleh Iran, yang menganggap hak itu sebagai bagian dari kedaulatan nasional.
Pada awal Mei, CNN melaporkan bahwa AS memperoleh intelijen mengenai rencana Israel menyerang Iran, di tengah negosiasi yang sedang berlangsung. Beberapa hari sebelumnya, utusan Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, menyatakan bahwa “AS tidak akan membiarkan Iran memperkaya uranium”.
Senin lalu (09/06), Iran mengklaim telah memperoleh ribuan dokumen rahasia terkait program nuklir Israel dan mengancam akan mengungkap isinya. Pada saat yang sama, AS memulangkan sejumlah diplomatnya dari Timur Tengah, termasuk dari Kedutaan Besar di Irak. Keesokan harinya, IAEA menyatakan bahwa Iran telah melanggar kewajiban perjanjian non-proliferasi nuklir.
Motif Politik di Balik Serangan Israel
Serangan Israel ke Iran juga terjadi di tengah gejolak politik internal. Parlemen Israel (Knesset) sedang membahas undang-undang pembubaran diri, yang dapat memicu pemilu awal dan menjatuhkan koalisi pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. RUU tersebut telah lolos pembacaan pertama.
Meskipun begitu, karena Knesset akan segera memasuki masa reses musim panas, keadaan darurat nasional akibat serangan ke Iran kemungkinan akan menunda proses hukum pembubaran parlemen, dan dapat menyelamatkan posisi Netanyahu.
Beberapa anggota Knesset yang sebelumnya mendukung pembubaran parlemen bahkan telah menyatakan dukungan terhadap keputusan Netanyahu untuk menyerang Iran.
Serangan ini juga terjadi setelah meningkatnya tekanan dalam negeri dan internasional agar Israel menghentikan serangannya ke Gaza. Beberapa menteri dalam kabinet Netanyahu juga mulai menyuarakan hal serupa.
Kondisi di Gaza Makin Memburuk
Di Gaza, kondisi kemanusiaan semakin mengerikan. Sudah dua minggu, bantuan makanan disalurkan melalui Gaza Humanitarian Foundation (GHF), organisasi bantuan kontroversial yang didukung Israel dan dikendalikan AS, menggantikan peran PBB.
Militer Israel dilaporkan melakukan pembantaian di titik distribusi GHF, dengan menembaki warga sipil yang kelaparan. Puluhan warga tewas hampir setiap hari dalam insiden tersebut, khususnya di Gaza tengah dan selatan.
Kamis lalu, Majelis Umum PBB mengesahkan resolusi untuk mengakhiri perang di Gaza dengan dukungan suara mayoritas. Hal ini terjadi setelah sebelumnya AS memveto resolusi serupa di Dewan Keamanan PBB.
Serangan Israel ke Iran telah menimbulkan kekhawatiran global akan pecahnya perang besar di Timur Tengah. Tokoh dunia seperti Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak semua pihak untuk menahan diri dan mencegah eskalasi lebih lanjut.
Dampaknya ke Tepi Barat Palestina
Sementara itu, perhatian dunia terhadap serangan Israel di Tepi Barat mulai meredup. Setelah menyerang Iran, Israel langsung menutup total wilayah Tepi Barat, menutup pos pemeriksaan dan jembatan Allenby yang menghubungkan Palestina ke Yordania, satu-satunya jalur keluar dari wilayah itu.
Israel juga meningkatkan ekspansi permukiman ilegal dengan mengumumkan pembangunan 22 permukiman baru. Militer Israel terus menyerbu kota-kota Palestina, termasuk serangan 28 jam di Nablus yang menewaskan dua bersaudara Palestina dan melukai 30 orang.
Di kamp pengungsi Jenin dan Tulkarem, militer Israel menghancurkan rumah-rumah dan mengusir lebih dari 40.000 warga, yang hingga kini belum diizinkan kembali.
Serangan Israel ke Iran adalah titik balik dalam ketegangan Timur Tengah yang sudah membara. Di saat dunia belum mampu menyelesaikan krisis Gaza, ancaman perang regional kini membayangi, memaksa dunia untuk memilih: berdiam diri atau bertindak demi keadilan dan perdamaian.
(T.FJ/S: Mondoweiss, Palestine Chronicle)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!