Gaza, SPNA – Reem al-Akhras, seorang ibu dari tujuh anak, pergi ke pusat distribusi bantuan Amerika di Gaza pada Selasa pagi (03/06/2025) untuk mencari makanan bagi keluarganya. Ia membawa kantong plastik, berharap bisa membawa pulang bantuan makanan.
Reem berdiri menunggu bersama ribuan warga sipil di dekat pusat bantuan yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF) di daerah al-Alam, Rafah. Namun, bukannya mendapatkan makanan, Reem justru meninggal dunia tertembak di kepala. Ia kembali kepada anak-anaknya, bukan dengan makanan, melainkan dalam kain kafan putih di RS Nasser, Khan Younis.
Tahrir Zeidan, putri Reem yang berusia 13 tahun, berkata bahwa ibunya hanya ingin mencari makanan agar ia dan keenam saudaranya tidak kelaparan.
“Seandainya Ibu tidak pergi meninggalkan kami,” ucapnya pilu.
Reem adalah salah satu dari 27 warga Palestina yang meninggal dunia dalam serangan terbaru oleh pasukan Israel terhadap pusat distribusi bantuan yang dijalankan GHF, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Dalam pernyataan resmi, Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut bahwa total korban jiwa di pusat-pusat bantuan GHF telah mencapai 102 orang sejak 27 Mei, dengan lebih dari 490 orang luka-luka.
Penduduk Palestina yang Kelaparan Dijadikan Sasaran: Pola Serangan Terulang
Polanya berulang: penduduk sipil Palestina di Gaza yang kelaparan berkumpul di dekat pusat distribusi, menunggu isyarat untuk masuk. Namun sebelum bantuan diberikan, pasukan Israel menembaki kerumunan itu. Hal ini terjadi pada Selasa dan juga pada 2 Juni lalu, saat drone quadcopter militer memerintahkan penduduk Palestina untuk mendekat, lalu 75 orang ditembak mati.
Setelah kejadian, militer Israel dan GHF sering kali menyangkal kejadian itu. Seperti pada 2 Juni, mereka menyebut laporan pembantaian “tidak benar”. Pada Selasa, Israel mengatakan hanya menembakkan tembakan peringatan ke arah “tersangka” yang dianggap mencurigakan, meski mereka berada sekitar 500 meter dari lokasi distribusi.
Pusat Bantuan Dijadikan Perangkap Mematikan
Banyak penduduk Palestina di Gaza dan organisasi HAM internasional menuding bahwa pusat bantuan GHF sengaja ditempatkan di zona militer aktif sebagai perangkap bagi warga yang kelaparan.
Menurut Euro-Med Human Rights Monitor, pusat bantuan GHF diletakkan di lokasi berbahaya tanpa jalur aman, sehingga menjadi “jebakan maut bagi ribuan warga yang kelaparan”.
Ironisnya, GHF sendiri mengakui bahwa lokasi mereka berada di tengah zona perang aktif. Dalam pernyataan kepada ABC News dan Middle East Eye, GHF mengatakan tidak bertanggung jawab atas area di luar pusat distribusi karena itu “zona perang aktif yang tidak mereka kuasai.”
Pernyataan ini justru memperkuat tudingan bahwa pusat bantuan telah ditempatkan di wilayah yang rawan konflik, bertolak belakang dengan klaim Israel bahwa lokasi tersebut berada di “zona aman” di Gaza Selatan.
Pada hari yang sama, militer Israel justru menyatakan bahwa jalan menuju pusat bantuan akan ditutup untuk warga sipil, karena kini dianggap sebagai zona tempur. GHF juga mengumumkan bahwa kegiatan mereka ditangguhkan sementara untuk renovasi dan penataan ulang, dan berencana dibuka kembali pada Kamis.

“Pusat Bantuan Ini Adalah Ladang Pembantaian dan Perangkap”
Meski ratusan penduduk sipil Palestina telah menjadi korban, ribuan lainnya tetap nekat datang karena rasa lapar dan keputusasaan.
Akram Abu Zayed (36), ayah dari empat anak yang selamat dari insiden hari Selasa (03/06), kembali ke keluarganya dengan tangan kosong. Ia mengaku telah menunggu sejak malam sebelumnya, akan tetapi langsung lari ketika terdengar tembakan dari pasukan Israel.
“Kami berdiri sekitar 100 meter dari pusat bantuan. Tiba-tiba, drone dan tank mulai menembaki kami. Kami tidak mendekat ke tantara, merekalah yang menyerang kami,” kata Abu Zayed.
Meskipun sadar akan bahayanya, ia mengatakan akan terus mencoba kembali ke pusat bantuan karena tidak punya pilihan lain.
“Saya tahu kematian menanti di sana, tapi apa yang bisa saya lakukan kalau anak-anak saya sekarat karena kelaparan? Kalau ada cara lain untuk mendapatkan makanan, kami tidak akan pergi ke pusat bantuan Amerika yang siap membunuh kami,” cerita Abu Zayed.
Sebagian penduduk Palestina menolak datang sejak awal. Setelah beberapa insiden pembantaian, makin banyak yang takut datang tanpa jaminan keselamatan.
Essam Jalal (41), seorang ayah yang mengungsi di Khan Younis, mengatakan bahwa AS “ingin memusnahkan semua penduduk Palestina”.
“Kalau mereka sungguh ingin membantu, mereka pasti menyalurkan bantuan lewat PBB, bukan melalui jalur yang penuh jebakan seperti ini.”
Jalal dan keluarganya memilih tidak pernah pergi ke pusat bantuan GHF, dan ia juga mengajak orang lain untuk tidak pergi.
“Ketika mereka mulai membunuh puluhan orang sekaligus, semuanya jadi jelas. Pusat bantuan ini bukan tempat menolong, tapi ladang pembantaian yang disamarkan”.
Sejak 7 Oktober 2023, dengan dukungan Amerika Serikat dan negara Barat lainnya, secara keseluruhan, Israel telah membunuh lebih dari 54.000 penduduk Palestina di Jalur Gaza, termasuk setidaknya 16.000 anak-anak. Selain itu, lebih dari 10.000 orang dinyatakan hilang dan diduga meninggal, sementara hampir 120.000 lainnya mengalami luka-luka.
Bulan lalu, pihak berwenang di Gaza mengungkapkan bahwa 65 persen korban jiwa adalah perempuan, anak-anak, dan lansia. Selain itu, lebih dari 2.180 keluarga Palestina telah dimusnahkan oleh serangan Israel.
Hingga Mei 2025, lebih dari 100.000 ton bahan peledak telah dijatuhkan di Gaza, jumlah ini jauh melebihi total bom yang dijatuhkan di Dresden dan Hamburg dalam Operasi Gomorrah, serta London saat Blitz pada Perang Dunia II, yang seluruhnya berjumlah sekitar 32.300 ton.
(T.FJ/S: Mondoweiss)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!