Hebron, SPNA – Pemukim Israel, pada Senin (28/07/2025), menembak dan membunuh Awdah Hathaleen, seorang aktivis dan guru Palestina, di sebuah desa dekat Hebron, wilayah Tepi Barat yang diduduki, menurut keterangan pejabat lokal dan jurnalis.
Hathaleen dikenal luas atas perjuangannya dalam membela hak-hak warga Palestina. Ia juga membantu pembuatan film dokumenter pemenang Oscar, No Other Land, yang menyoroti serangan pemukim dan tentara Israel terhadap komunitas Palestina di Masafer Yatta.
Yuval Abraham, jurnalis Israel yang juga merupakan salah satu sutradara film, membagikan video di platform X (sebelumnya Twitter) pada Senin malam. Dalam video tersebut terlihat seorang pemukim Israel mengacungkan senjata dan menembak ke arah penduduk Palestina yang berada di balik kamera.
Peristiwa itu terjadi di Masafer Yatta, desa yang menjadi lokasi utama dalam film No Other Land. Pemukim yang tampak dalam video tersebut diidentifikasi sebagai Yinon Levi, yang sebelumnya dikenai sanksi oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa pada 2024 karena serangan brutal terhadap penduduk Palestina dan properti mereka. Namun, pemerintahan Trump mencabut sanksi era Biden terhadap Levi pada awal tahun ini.
Video tersebut menunjukkan Levi mengeluarkan pistol dengan marah, sementara orang yang merekam berteriak berulang kali, “Tembak saya! Tembak saya!” dalam bahasa Inggris. Tak lama kemudian, Levi mulai menembak ke arah yang tidak terlihat di kamera. Teriakan dalam bahasa Arab terdengar di latar belakang, hingga seorang pria berlari ke depan kamera dan meneriakkan, “Demi Tuhan, mundur!” untuk menenangkan situasi.
Belum dapat dipastikan apakah video itu berhubungan langsung dengan kematian Awdah Hathleen.
Tampak juga dalam video sebuah buldozer aktif di belakang Levi, yang diduga sedang menghancurkan rumah penduduk Palestina, praktik yang sering dilakukan oleh Israel demi memperluas pemukiman, meskipun hal ini melanggar hukum internasional.
Siapa Awdah Hathleen?
Awdah Hathleen dikenal sebagai aktivis damai, guru Bahasa Inggris, penulis, dan pemain sepak bola untuk klub lokal di desanya, Masafer Yatta. Ia meninggalkan seorang istri, Hanady, dan tiga anak yang semuanya masih berusia di bawah sepuluh tahun.
Rekan-rekannya berduka di media sosial. Basel Adra, sutradara Palestina dari No Other Land, membagikan foto dirinya bersama Awdah dan menulis:
“Sahabatku Awdah dibunuh malam ini. Dia sedang berdiri di depan pusat komunitas desanya ketika seorang pemukim menembakkan peluru yang menembus dadanya dan merenggut nyawanya. Beginilah cara Israel menghilangkan kami, satu demi satu.”
Organisasi aktivis Jewish Voice for Peace yang berbasis di Amerika Serikat menuliskan:
“Siapa pun yang mengenal Awdah Hathleen, pasti mencintainya. Ia adalah sosok penting bagi keluarganya, desanya, dan komunitas internasional para aktivis yang pernah bertemu dengannya.”
Rabbi David Mivasair dari Kanada juga menyampaikan belasungkawa sambil mengecam pernyataan PM Kanada yang menyalahkan Hamas atas kelaparan di Gaza. Ia menulis:
“Teman saya, Awdah Hathleen… tidak ada hubungannya dengan Hamas. Semua ini berawal dari ideologi Zionisme.”
Awdah Hathleen Pernah Dideportasi dari AS
Bulan lalu, meski memiliki visa AS yang sah, Awdah ditahan di bandara San Francisco dan dideportasi kembali ke Tepi Barat.
Perjalanannya disponsori oleh Kehilla Community Synagogue di Piedmont, California. Ia dan sepupunya, Eid Hathleen, dijadwalkan berbicara dalam kunjungan lintas agama ke gereja, sinagoga, dan komunitas di AS, mulai dari California, Washington DC, hingga Boston.
Erin Axelman, sutradara dokumenter Israelism, menyatakan bahwa kedua sepupu itu adalah aktivis perdamaian Palestina yang sangat berpengaruh, datang secara legal ke AS atas undangan komunitas Yahudi progresif untuk berbicara tentang perdamaian dan keadilan di Palestina.
“Pemerintahan Trump menahan dan kemudian mendeportasi mereka hanya karena mereka orang Palestina,” kata Axelman.
Terjadi di Tengah Laporan Pelanggaran HAM
Kematian Awdah Hathaleen terjadi bersamaan dengan penerbitan laporan investigasi yang dilakukan organisasi HAM Israel, B’Tselem, pada hari Senin (28/07). Dalam laporan tersebut, Israel dituduh melakukan genosida terhadap penduduk sipil Palestina di Gaza.
B’Tselem juga mengungkapkan bahwa telah terjadi lonjakan serangan harian yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dilakukan oleh para pemukim Israel, yang sering kali bersenjata dan memakai perlengkapan militer lengkap, terhadap penduduk Palestina di Tepi Barat.
“Serangan ini mencakup pembakaran, pencurian, penyerbuan rumah dan pengambilalihan, ancaman bersenjata, pemukulan, dan banyak lagi,” ungkap B’Tselem.
B’Tselem menambahkan bahwa serangan tersebut dilakukan dengan dukungan dari pemerintah dan aparat penegak hukum Israel.
Saat ini, sekitar 3 juta penduduk Palestina tinggal di wilayah Tepi Barat yang diduduki, berdampingan dengan hampir setengah juta pemukim Israel di wilayah permukiman Israel yang ilegal berdasarkan hukum internasional.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa Mohammad Samer Suleiman al-Jamal (27 tahun), meninggal dunia akibat luka tembak yang dilakukan pasukan Israel di pos pemeriksaan di pintu utara Kota Hebron, Senin malam (28/07).
Menurut kantor berita Wafa, pasukan Israel membiarkan al-Jamal berdarah hingga meninggal, dan mencegah tim ambulans mendekat untuk memberinya pertolongan.
Sejak dimulainya perang genosida Israel di Gaza pada Oktober 2023, lebih dari 1.000 penduduk sipil Palestina telah dibunuh oleh tentara dan pemukim Israel di wilayah Tepi Barat Palestina yang diduduki.
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!