Badai Musim Dingin Hantam Gaza: Ribuan Tenda Ambruk, Israel Tetap Tutup Jalur Bantuan

Hujan badai memporak-poranda tenda pengungsi Palestina. (Foto: VCG)

Gaza, SPNA – Sedikitnya 14 penduduk sipil Palestina meninggal dunia di seluruh Gaza dalam pekan ini setelah bangunan yang rusak akibat serangan Israel serta tempat penampungan darurat ambruk diterjang badai kuat yang melanda wilayah tersebut. Pemerintah Palestina di Gaza mengonfirmasi hal ini pada Jumat (12/12/2025).

Sumber medis mengatakan kepada Anadolu Agency pada Jumat bahwa dua bersaudara, Khader dan Khalil Ihab Hanouna, meninggal di Kota Gaza bagian tengah setelah sebuah dinding, yang retak-retak akibat pemboman Israel, roboh menimpa tenda mereka saat hujan deras.

Di utata Gaza, tim Pertahanan Sipil menemukan jenazah seorang penduduk sipil Palestina dan melaporkan dua anak terluka setelah sebuah rumah rusak milik keluarga Badran ambruk di kawasan Bir al-Najjah, Jabalia.

Operasi penyelamatan masih berlangsung, dengan pejabat memperingatkan kemungkinan masih ada korban yang terperangkap di bawah reruntuhan.

Pertahanan Sipil Palestina di Gaza kemudian melaporkan tambahan korban luka setelah sebuah tenda yang menampung keluarga-keluarga pengungsi roboh di area pelabuhan di sebelah barat Kota Gaza akibat hujan lebat dan angin kencang.

Di Khan Yunis, beberapa keluarga Palestina dievakuasi menyusul robohnya sebagian dua rumah. Tidak ada korban luka dilaporkan.

Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa Badai Byron, yang melanda wilayah tersebut dari Rabu hingga Jumat, merobohkan 13 rumah penduduk Palestina serta merusak atau membanjiri lebih dari 27.000 tenda pengungsian, dan memperingatkan bahwa 1,5 juta penduduk sipil Palestina yang mengungsi masih berisiko terdampak.

Sejak badai mulai, 250.000 orang telah terdampak langsung oleh banjir, robohnya tempat penampungan, serta suhu dingin ekstrem, dengan anak-anak menanggung dampak terberat dari krisis ini.

Di antara mereka yang meninggal akibat paparan cuaca dingin pekan ini adalah Hadeel Hamdan yang berusia sembilan tahun di Kota Gaza, serta bayi Taim Khawaja yang juga di Kota Gaza, dan Rahaf Abu Jazar yang berusia delapan bulan di Khan Yunis, setelah tenda keluarga mereka terendam air hujan semalaman.

Ribuan panggilan darurat membanjiri layanan penanganan krisis yang beroperasi dengan sumber daya sangat terbatas, sementara penduduk sipil Palestina terpaksa berlindung di rumah-rumah yang telah hancur atau tenda sobek akibat penolakan Israel untuk mengizinkan masuknya bahan bangunan tempat penampungan dalam jumlah memadai ke Gaza.

Pemerintah Palestina di Gaza menyebutkan bahwa perjanjian gencatan senjata mewajibkan Israel mengizinkan masuk 300.000 tenda dan rumah tinggal portabel, akan tetapi baru sebagian sangat kecil yang masuk ke Jalur Gaza.

Pejabat pemerintah Palestina di Gaza memperingatkan bahwa bencana yang terjadi tidak dapat dipisahkan dari blokade Israel, yang terus menghalangi masuknya pakaian musim dingin, selimut, dan perlengkapan tempat penampungan yang menyelamatkan nyawa.

Sejak gencatan senjata di Gaza diumumkan pada Oktober, Israel telah melakukan lebih dari 740 pelanggaran gencatan bersenjata, mulai dari pemboman udara, serangan artileri, hingga membatasi masuknya bantuan kemanusiaan, yang mengakibatkan lebih dari 400 penduduk sipil Palestina meninggal dunia.

(T.FJ/S: The Cradle)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!