Jalur Gaza, SPNA – Sedikitnya 466 warga Palestina, termasuk 157 anak-anak, gugur akibat gizi buruk dan kelaparan di Jalur Gaza sejak 2024. Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan, krisis pangan akibat blokade Israel telah mencapai level bencana dan mengancam jutaan warga, terutama anak-anak, perempuan hamil, dan kelompok rentan lainnya.
Berdasarkan laporan Anadolu Agency pada Jumat (16/10/2026), dari total korban tersebut, sebanyak 189 orang merupakan lansia. Data itu dirilis bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap 16 Oktober.
Kementerian Kesehatan Gaza memperkirakan lebih dari 1,4 juta warga Palestina, atau sekitar 67% akan menghadapi kerawanan pangan parah hingga akhir 2026. Pada Agustus 2025, PBB telah menyatakan terjadinya kelaparan di Gaza.
Krisis tersebut semakin memburuk setelah Israel memperketat blokade dan menutup pintu masuk Gaza pada Maret 2025, akibatnya ribuan truk bantuan yang menunggu di perbatasan tidak dapat masuk ke Gaza. Blokade menyebabkan kelaparan massal Gaza meningkat, terutama di Gaza utara dan menyebabkan sebagian warga terpaksa mengkonsumsi pakan ternak dan tumbuhan liar untuk bertahan hidup.
Pada akhir Mei 2025, Israel mengizinkan 87 truk bantuan memasuki Gaza untuk pertama kalinya setelah 81 hari. Setelah itu, bantuan masuk secara terbatas dan tidak menentu di bawah pengawasan ketat. Pada Februari 2026, jumlah truk yang diizinkan masuk sedikit meningkat berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, tetapi pejabat Palestina menilai pasokan tersebut masih jauh dari kebutuhan penduduk.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut Israel hanya mengizinkan sekitar 34% dari jumlah truk bantuan kemanusiaan yang telah disepakati untuk memasuki wilayah tersebut.
Dampak terhadap Anak-anak dan Ibu Hamil
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 158.000 kasus gangguan gizi akut pada anak-anak berusia di bawah lima tahun selama periode 2024 hingga Agustus 2026. Sebanyak 18% dari anak-anak yang terdampak mengalami gangguan gizi akut berat yang mengancam nyawa, sementara 12,2% mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi.
Angka kematian anak berusia di bawah lima tahun juga meningkat dari 13,6 menjadi 33,4 kematian per 1.000 kelahiran hidup antara 2022 dan 2025. Kementerian memperkirakan sekitar 74.200 anak membutuhkan perawatan akibat gangguan gizi akut hingga April 2027.
Krisis pangan juga mengancam kesehatan ibu hamil. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, prevalensi anemia pada ibu hamil meningkat dari 41 persen sebelum perang menjadi 61 persen pada 2026.
Selain itu, sekitar 4.000 kasus keguguran tercatat selama paruh pertama 2026, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan enam bulan sebelumnya. Kini, satu dari tiga kehamilan di Gaza tergolong berisiko tinggi.
Kementerian Kesehatan Gaza menilai, krisis pangan semakin membahayakan kesehatan ibu dan janin, selain mengancam nyawa anak-anak.
Desak Bantuan Masuk Tanpa Hambatan
Kementerian Kesehatan Gaza mendesak masyarakat internasional dan PBB memastikan bantuan pangan, suplemen gizi, dan obat-obatan masuk ke Gaza secara aman dan tanpa hambatan.
Kementerian juga meminta agar anak-anak, ibu hamil dan menyusui, serta lansia diprioritaskan dalam penyaluran bantuan karena paling rentan mengalami kekurangan gizi. Selain bantuan darurat, pemulihan produksi pangan lokal dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan warga pada bantuan kemanusiaan.
Krisis ini diperparah oleh kehancuran infrastruktur, fasilitas kesehatan, lahan pertanian, sarana produksi pangan, dan jaringan air akibat genosida Israel. Kerusakan tersebut membuat warga semakin sulit memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.
Di tengah kondisi itu, pengungsian berulang, hilangnya pekerjaan, dan kenaikan harga kebutuhan pokok semakin membebani keluarga Palestina. Sementara bantuan masih masuk secara terbatas dan tidak menentu, jutaan warga Gaza terus menghadapi ancaman kelaparan dan kekurangan gizi.