Jalur Gaza, SPNA – Sebuah video yang diposting oleh akun Ro’ya, Minggu (26/01/2025) memperlihatkan wawancara seorang prajurit wanita Israel yang masuk Islam saat menjadi salah satu tawanan Hamas di Gaza.
Melalui wawancara berdurasi 8 menit tersebut, mantan prajurit Israel yang tidak disebutkan namanya tersebut menceritakan perjalanan spiritual luar biasa selama masa penahanannya di Gaza. Berbeda dengan ekspektasinya bahwa dirinya akan mengalami penyiksaan dan kekerasan, ia justru disambut dengan sikap penuh belas kasih dan penghormatan oleh para pejuang Hamas.
Saya tidak pernah menyangka hidup saya akan berubah drastis setelah menjadi tawanan perang. Sebagai seorang prajurit Israel, saya tumbuh dengan keyakinan kuat akan negara dan misi yang saya emban. Namun, semua berubah ketika saya ditangkap dan dibawa ke tempat yang tidak saya kenal. Dalam benak saya, saya membayangkan skenario terburuk; penyiksaan, penghinaan, bahkan kematian. Tapi kenyataan yang saya hadapi sangat jauh dari dugaan.
Ketika kami tiba di Gaza, saya dan tawanan lainnya disambut oleh sekelompok pria dan wanita yang berusaha menenangkan kami, bahkan ada yang bisa berbahasa Ibrani. Mereka meminta kami untuk tidak takut. Tentu saja, saya tidak percaya sepatah kata pun dari mereka. Namun, perlahan, saya mulai melihat perbedaan. Tidak ada penyiksaan, tidak ada ancaman, bahkan mereka menawarkan kami kesempatan untuk mandi dan beristirahat. Mereka memperlakukan kami dengan sangat baik!
Salah satu hal yang paling mengguncang saya adalah ketika mereka mengatakan:
“Kami takut kepada Allah, itulah mengapa kami tidak akan menyakiti kalian!”
Saya terkejut, bagaimana mungkin musuh yang berperang melawan kami bisa mengatakan hal seperti itu? Saya mulai bertanya, dan mereka menjelaskan bahwa dalam Islam, mereka percaya bahwa Allah mengawasi semua perbuatan manusia dan akan meminta pertanggungjawaban atas setiap tindakan yang dilakukan, bahkan terhadap musuh sekalipun.
Seiring waktu, rasa takut saya berubah menjadi keingintahuan. Saya mulai bertanya lebih banyak tentang Islam. Mereka menjawab semua pertanyaan saya dengan sabar, dan akhirnya mereka memberi saya sebuah Al-Qur’an. Saat saya mulai membacanya, sesuatu yang aneh terjadi. Hati saya bergetar, dan tanpa saya sadari, saya menangis. Ayat-ayatnya menyentuh saya lebih dalam daripada yang pernah saya rasakan sebelumnya. Saya melihat kedamaian dan keadilan dalam kata-kata itu, sesuatu yang selama ini tidak saya temukan dalam hidup saya.
Akhirnya, saya mengambil keputusan yang paling besar dalam hidup saya. Saya meminta seseorang di sana untuk mengajari saya mengucapkan Syahadat, dan sejak saat itu, saya merasa hidup saya berubah sepenuhnya. Saya menemukan kedamaian yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya belajar tentang Islam, tentang doa, tentang kasih sayang dan keadilan yang diajarkan dalam agama ini. Namun, perjalanan saya tidak berakhir di sana.
Ketika akhirnya saya dibebaskan dan kembali ke rumah, saya menghadapi tantangan yang lebih besar. Keluarga saya tidak dapat menerima perubahan saya. Ayah saya marah besar, ibu saya menangis berhari-hari, dan saudara saya mengatakan bahwa saya telah mempermalukan keluarga. Teman-teman saya menjauhi saya, dan bahkan di tempat kerja, saya merasakan perubahan sikap dari rekan-rekan saya. Saya menyadari bahwa keputusan saya untuk masuk Islam telah menjadikan saya seorang asing di antara orang-orang yang dulu saya anggap sebagai keluarga.
Namun, saya tidak bisa mengingkari keyakinan saya. Saya tahu ini adalah jalan yang benar. Saya mencoba menjembatani perbedaan antara saya dan keluarga saya, tetapi saya juga menyadari bahwa mungkin saya harus mencari tempat di mana saya bisa hidup dengan damai dan bebas menjalankan keyakinan saya. Saya mulai mencari negara lain yang bisa menerima saya apa adanya, tanpa tekanan atau penolakan.
Saya berdoa agar suatu hari nanti keluarga saya bisa memahami keputusan saya. Saya tidak pernah bermaksud mengkhianati mereka, tetapi saya juga tidak bisa mengkhianati hati dan keyakinan saya sendiri. Perjalanan saya belum berakhir, tetapi satu hal yang saya tahu pasti, saya telah menemukan kedamaian yang sesungguhnya dalam Islam, dan itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah saya lepaskan.
Dalam berbagai testimoni yang muncul, banyak tawanan Israel yang mengaku diperlakukan dengan baik oleh Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas. Meskipun mereka awalnya diliputi ketakutan akan kemungkinan penyiksaan atau perlakuan kasar, kenyataan yang mereka hadapi justru berbeda. Tawanan diberikan makanan yang layak, air bersih, serta tempat untuk beristirahat. Bahkan, beberapa di antara mereka mendapatkan perawatan medis jika mengalami cedera atau sakit selama dalam tahanan.
Para pejuang Hamas menyatakan bahwa perlakuan mereka terhadap tawanan didasarkan pada nilai-nilai Islam, yang mengajarkan untuk memperlakukan tawanan dengan baik. Mereka percaya bahwa setiap manusia, bahkan di tengah peperangan, tetap memiliki hak atas rasa kemanusiaan. Inilah yang menjadi alasan mengapa banyak tawanan Israel yang mengungkapkan rasa takjub mereka, karena mereka tidak menyangka akan diperlakukan dengan baik oleh pihak yang selama ini mereka anggap sebagai musuh.
(T.RS/S:Ro’ya)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!