Yerusalem, SPNA – Kaum fundamentalis Yahudi di Yerusalem Timur yang diduduki Israel belakangan ini meningkatkan upaya penyelundupan hewan untuk dikurbankan di kompleks Masjid Al-Aqsa, memicu kembali kekhawatiran atas adanya keinginan menghancurkan salah satu situs tersuci dalam Islam.
Menurut pejabat Otoritas Palestina (PA) yang bertanggung jawab atas wilayah administratif Yerusalem, kaum fundamentalis Yahudi setidaknya tujuh kali mencoba menyelundupkan kambing dan domba ke dalam kawasan suci tersebut untuk dikurbankan pada hari Minggu (18/04/2026).
Dalam sejumlah tafsir ajaran Yahudi, Masjid Al-Aqsha harus dihancurkan dan sebuah kuil Yahudi (Bait Suci Ketiga) dibangun di atasnya guna menandai kedatangan Mesias.
Hewan, seperti sapi betina merah tanpa cacat, harus dikurbankan untuk menyucikan lokasi sebelum pembangunan kuil dilakukan.
Ritual penyucian itu melibatkan abu dari sapi merah yang dikurbankan, benang merah, kayu aras, serta tanaman hisop yang dicampur dengan air mata air segar yang dikumpulkan oleh anak-anak Yahudi yang dianggap suci secara ritual.
Israel merebut Masjid Al-Aqsa—yang oleh umat Yahudi disebut Temple Mount—dan mendudukinya dalam Perang Enam Hari pada 1967.
Secara resmi, umat Yahudi diizinkan mengunjungi kompleks masjid tersebut, namun tidak diperbolehkan melakukan ritual keagamaan di dalamnya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kepolisian Israel dinilai menyimpang dari aturan itu dengan mengizinkan doa, nyanyian, serta penggunaan perlengkapan ibadah oleh pengunjung Yahudi.
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, yang mengendalikan kepolisian, telah berulang kali mengunjungi kompleks masjid dengan pengawalan bersenjata untuk berdoa di lokasi tersebut.
Ismail Patel, penulis yang berbasis di Inggris sekaligus ketua Friends of Al-Aqsa, mengatakan kepada The New Arab bahwa upaya pengorbanan hewan tersebut bertujuan menegaskan kontrol Yahudi atas masjid, tempat Nabi Muhammad diyakini pernah beribadah dan naik ke langit dalam sebuah peristiwa spiritual.
“Ini menandakan bahwa mereka tidak lagi sekadar mengajukan permohonan akses, melainkan menegaskan kepemilikan, pengorbanan itu tidak sekadar menyertai ambisi mereka untuk merobohkan Al-Aqsha dan mendirikan Bait Suci Ketiga—melainkan mewujudkannya. Ini adalah ibadah sebagai bentuk penaklukan, dan karena itu harus disebut apa adanya—terorisme,” ujar Patel.
Pemerintah wilayah Yerusalem menambahkan bahwa organisasi fundamentalis Yahudi yang berfokus pada pembangunan Bait Suci Ketiga memanfaatkan penutupan Masjid Al-Aqsa yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mencoba melaksanakan ritual kurban tersebut.
Polisi Israel menutup Al-Aqsha pada awal perang Amerika Serikat–Israel melawan Iran pada 28 Februari, dengan alasan keamanan. Kompleks itu kembali dibuka pada 9 April setelah ditutup selama enam pekan.
“Setiap eskalasi militer besar di kawasan selalu diiringi oleh perambahan yang senyap, tetapi menentukan terhadap Al-Aqsa,” kata Patel.
Pada April tahun lalu, Otoritas Palestina menyatakan “kekhawatiran yang sangat mendalam” atas ancaman yang beredar di kalangan organisasi fundamentalis Yahudi untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa.
Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina memperingatkan adanya seruan di berbagai platform media sosial berbahasa Ibrani untuk merobohkan masjid tersebut dan membangun kuil di atasnya.
Sebuah video hasil kecerdasan buatan yang beredar menggambarkan penghancuran masjid dan pembangunan “Bait Suci Ketiga” dengan judul “Tahun Depan di Yerusalem.”
Dalam pernyataan yang dipublikasikan di platform X, kementerian tersebut menilai unggahan itu sebagai “hasutan sistematis untuk meningkatkan penargetan terhadap situs-situs suci Kristen dan Islam di Yerusalem yang diduduki.”
Pada Agustus 2024, Ben-Gvir memicu kemarahan setelah menyatakan niatnya membangun sinagoge Yahudi di kompleks Masjid Al-Aqsha.
Pada September 2000, politikus Israel Ariel Sharon mengunjungi Al-Aqsa dengan pengawalan besar pasukan bersenjata, yang kemudian memicu peristiwa yang dikenal sebagai Intifada Kedua, yakni pemberontakan rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel.
Berdasarkan laporan kelompok hak asasi manusia Israel, B’Tselem, selama periode tersebut, pasukan dan penembak jitu Israel membunuh 6.371 penduduk Palestina, termasuk 1.317 anak-anak dan remaja.
(T.FJ/S: The Cradle)