Jalur Gaza, SPNA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa Jalur Gaza sedang melaju ke arah krisis kelaparan paling parah sejak perang dimulai pada Oktober 2023. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam pernyataannya pada Minggu (21/12), menyebut kondisi pangan di Gaza “kian tidak stabil dan sangat rapuh”, dengan proyeksi lebih dari 100 ribu anak serta puluhan ribu perempuan hamil dan menyusui berpotensi mengalami gizi buruk akut pada April 2026.
Peringatan ini merujuk pada laporan terbaru IPC, sistem klasifikasi internasional untuk ketahanan pangan, yang menunjukkan setidaknya 1,6 juta warga Gaza berada pada tingkat kelangkaan pangan kategori krisis hingga darurat. Angka ini mewakili hampir seluruh populasi yang tersisa, menggambarkan tekanan pangan yang tidak pernah terjadi sebelumnya di wilayah itu.
Tedros menegaskan bahwa situasi ini dapat berubah menjadi malapetaka menyeluruh jika dua faktor kembali terjadi: intensifikasi konflik dan penghentian aliran bantuan kemanusiaan. Dua kondisi itu, menurut WHO, cukup untuk mendorong seluruh Gaza jatuh ke fase kelaparan dalam hitungan bulan.
Di lapangan, kondisi layanan kesehatan tak kalah mengkhawatirkan. WHO mencatat hanya separuh fasilitas kesehatan di Gaza yang masih berfungsi, itu pun dalam kapasitas minimal. Rumah-rumah sakit kekurangan obat-obatan, peralatan medis dasar, dan bahan bakar untuk menghidupkan generator.
Banyak pasokan medis tertahan di perbatasan selama berhari-hari akibat prosedur keamanan yang panjang dan pembatasan administratif. Tedros menyebut akses cepat terhadap obat-obatan dan peralatan medis sebagai “kunci untuk mempertahankan hidup ribuan warga yang kini bergantung sepenuhnya pada bantuan”.
Krisis pangan ini merupakan dampak berantai dari kehancuran sistemik sejak agresi Israel dimulai pada 2023. Serangan udara dan darat menghancurkan lahan pertanian, pasar bahan pangan, fasilitas air dan sanitasi, serta infrastruktur distribusi. Sementara itu, pembatasan yang diberlakukan Israel terhadap pergerakan barang terus mempersempit ruang gerak lembaga internasional dalam memasok bahan pangan dasar.
Sejumlah badan PBB menggambarkan situasi ini sebagai “bencana kelaparan yang diciptakan manusia”, merujuk pada fakta bahwa kelangkaan pangan terjadi bukan karena kegagalan produksi alamiah, melainkan karena hambatan langsung terhadap akses dan distribusi.
Dalam pernyataannya, WHO kembali mendesak dibukanya jalur kemanusiaan tanpa hambatan ke seluruh Gaza. Seruan itu menekankan bahwa kegagalan bertindak sekarang berisiko menghilangkan satu generasi Palestina akibat gizi buruk akut yang dapat berkembang menjadi komplikasi fatal dalam waktu singkat. “Ini bukan hanya krisis kesehatan,” tulis WHO, “melainkan krisis kemanusiaan yang mengancam masa depan seluruh masyarakat Gaza.”
(T.RS/S:Palinfo)