Warga Israel Pilih Tinggalkan Negara: Faktor Keamanan dan Ketidakpastian Pasca Perang

Warga Israel sedang mengantri di bandara untuk meninggalkan negara ketika perang. (Photo credit: Turgut Alp Boyraz/Anadolu Agency/Getty Images)

Tel Aviv, SPNA – Ribuan warga Israel telah meninggalkan negara itu dan bermigrasi ke negara-negara Barat sejak terjadinya eskalasi konflik pada 7 Oktober 2023. Mereka menyatakan ketidaknyamanan dan rasa tidak aman setelah lebih dari setahun perang dengan Hamas di Gaza dan Hezbollah di Lebanon. Menurut laporan dari The Independent pada Jumat (20/12/2024), gelombang emigrasi ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Badan Pusat Statistik Israel memperkirakan bahwa sekitar 40.600 orang Israel telah meninggalkan negara tersebut secara jangka panjang selama tujuh bulan pertama tahun 2024. Angka ini meningkat sebesar 59 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Keamanan yang Hilang Pasca Konflik Gaza dan Lebanon

Meskipun demikian, Kementerian Imigrasi dan Absorpsi Israel melaporkan bahwa tercatat lebih dari 33.000 orang pindah ke Israel sejak dimulainya perang. Hal ini terjadi karena hukum Israel yang memungkinkan orang Yahudi dari seluruh dunia untuk berimigrasi dan memperoleh kewarganegaraan otomatis. Namun, tidak seperti orang Yahudi, anak cucu dari warga Palestina yang diusir dari rumah mereka selama perang tahun 1948 dan 1967 tidak diperbolehkan kembali ke tanah air mereka.

Menurut The Independent, setelah serangan 7 Oktober, banyak warga Israel yang berasal dari kalangan menengah ke atas merasa bahwa Israel bukan lagi tempat yang aman bagi orang Yahudi, seperti yang dijanjikan oleh ideologi Zionis.

Shira Z. Carmel, seorang penyanyi Israel, mengungkapkan bahwa ia bersama suami dan anaknya memutuskan untuk pindah sementara ke Australia hanya sepuluh hari setelah serangan Hamas. Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan bahwa mereka memberi tahu keluarga dan teman-temannya bahwa perpindahan ini hanya bersifat sementara, dengan alasan agar dapat menjauh sejenak dari daerah konflik.

“Kami memberi tahu mereka bahwa kami akan keluar dari jalur tembakan untuk sementara waktu. Keputusan ini bukanlah hal yang sulit, tetapi berbicara tentang hal itu sangat sulit, bahkan untuk mengakui pada diri kami sendiri,” ujar Carmel.

Proyeksi Lebih Banyak yang Tinggalkan Negara

Sergio Della Pergola, seorang ahli statistik dan profesor emeritus di Universitas Ibrani Jerusalem, memprediksi bahwa jumlah orang yang meninggalkan Israel pada tahun 2024 kemungkinan akan melebihi jumlah imigran yang datang ke Israel pada tahun yang sama. Ini mencerminkan perubahan sikap di kalangan banyak orang Israel yang merasa semakin tidak aman tinggal di tengah ketidakpastian yang disebabkan oleh perang yang terus berlanjut.

Migrasi Para Profesional Israel: Tren Kepergian Dokter dan Tenaga Kerja Terampil

Gil Fire, wakil direktur Rumah Sakit Tel Aviv Sourasky, juga mengungkapkan bahwa mereka mulai melihat tren di mana banyak dokter meninggalkan negara itu secara permanen.

“Sebelum perang, mereka selalu kembali dan tidak pernah menganggap tinggal di luar negeri sebagai pilihan. Namun, selama perang ini, kami mulai melihat perubahan. Mereka mengatakan kepada kami, ‘Kami akan tinggal satu tahun lagi, mungkin dua tahun, atau bahkan lebih’,” ujarnya.

Banyak orang Israel yang mampu berpindah karena mereka memiliki paspor asing, pekerjaan di perusahaan multinasional, atau dapat bekerja secara jarak jauh. Dengan opsi ini, mereka memutuskan untuk meninggalkan negara mereka meskipun harus membayar biaya sosial, emosional, dan finansial yang cukup besar.

Perpindahan Paksa dan Biaya Sosial yang Besar: Migrasi Pasca Serangan 7 Oktober

“Ribuan warga Israel memilih untuk membayar biaya sosial, emosional, dan finansial untuk meninggalkan negara mereka sejak serangan 7 Oktober,” tulis The Independent. Meskipun militer Israel telah mengambil berbagai tindakan untuk memulihkan keamanan dalam setahun terakhir, banyak warga Israel yang merasa tidak aman dan memutuskan untuk mengungsi ke negara lain.

Serangan Israel di Gaza dan Lebanon telah menyebabkan lebih dari 45.000 warga Palestina meninggal dunia, mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Serangan ini menghancurkan sebagian besar kawasan Jalur Gaza dan dinilai banyak pihak sebagai sebuah genosida. Di Lebanon, lebih dari 4.000 penduduk Lebanon meninggal dunia, sementara banyak desa di sepanjang perbatasan hancur. Kota-kota besar seperti Nabatieh dan Tyre juga mengalami kerusakan parah akibat serangan udara Israel.

Ketidakmampuan Pemukim Yahudi untuk Kembali ke Rumah

Meskipun Israel telah melancarkan serangan besar-besaran untuk memulihkan keamanan, pemukim Yahudi yang dipindahkan dari pemukiman di utara Israel karena serangan dari Hezbollah tidak berniat kembali ke rumah mereka. Pada bulan Oktober, sebuah survei mengungkapkan bahwa 70 persen pemukim Israel yang dievakuasi dari pemukiman dekat perbatasan Lebanon menyatakan tidak ingin kembali ke rumah mereka setelah mengalami penghancuran.

Emigrasi massal ini mencerminkan sebuah krisis yang semakin meluas di Israel, dengan ketidakamanan yang semakin dirasakan oleh banyak warga Israel. Sementara itu, tensi sosial dan politik yang semakin meningkat membuat banyak orang Israel memilih untuk meninggalkan negara mereka untuk selamanya. Dengan meningkatnya jumlah warga yang mengungsi, masa depan Israel dan Gaza akan sangat bergantung pada bagaimana konflik ini dapat diselesaikan dan apakah keamanan dapat dipulihkan dalam waktu dekat.

Perang dan Genosida yang Terus Berlanjut

Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Kamis (19/12), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 45.129 orang dan 107.338 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.

Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur, di mana lebih 822 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.

Israel juga melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel telah membunuh 3.962 penduduk Lebanon dan lebih dari 16.520 terluka sejak 8 Oktober 2023.

(T.FJ/S: The Cradle, Mondoweiss)

 

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya