Tubuh Separuh Nyawa: Kisah Rahil dari Gaza yang Mati Perlahan Karena Kelaparan

Rahil Rasras, perempuan 32 tahun, meninggal di RS Nasser, Khan Yunis, karena kelaparan parah. Tubuhnya kurus tak berdaya jadi bukti nyata betapa krisis kemanusiaan di Gaza semakin memburuk.

Jalur Gaza, SPNA – Rahil bukan korban serangan bom. Ia tak gugur karena roket, peluru, atau tertimpa reruntuhan. Ia gugur karena sesuatu yang lebih sunyi, lebih menyakitkan, dan lebih memalukan bagi kemanusiaan: kelaparan.

Perempuan 32 tahun itu menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit Nasser, Khan Younis. Tubuhnya tinggal separuh dari berat normalnya, dari 50 kilogram menjadi 25. Ia tidak mampu lagi berdiri, tidak bisa bicara, bahkan tidak bisa menangis. Yang tersisa hanyalah napas yang perlahan-lahan menghilang. Di wajahnya, tak ada amarah. Hanya diam. 

Gaza hari ini bukan sekadar wilayah konflik. Gaza adalah tempat di mana makanan menjadi senjata, di mana lapar dirancang, dan kematian karena kekurangan gizi dianggap bukan berita penting.

Sejak Oktober 2023, Israel telah memblokade nyaris semua akses makanan, air, dan obat-obatan ke Jalur Gaza. Akibatnya, lebih dari 86 orang tewas karena kelaparan, mayoritas adalah anak-anak. Rumah sakit mencatat, setiap hari ada pasien baru dengan tubuh mengerut, wajah pucat, dan perut kembung kosong.

Rahil adalah satu dari mereka. Ia disabilitas, tak bisa bergerak bebas. Tak punya kekuatan untuk mengais bantuan. Dalam sunyi kamar kecilnya, ia menanti. Menanti sesuatu yang tak pernah datang roti, air, dan perhatian dunia.

Gaza yang Membusuk dalam Diam

Rumah sakit kini berubah menjadi ruang tunggu kematian. Tempat di mana anak-anak kurus terbaring sambil menatap langit-langit, berharap makanan turun seperti mukjizat. Para dokter kehabisan obat, kehabisan kata, dan hampir kehabisan harapan.

Banyak keluarga tidak hanya kehilangan rumah dan saudara, tetapi juga kehilangan hak paling dasar sebagai manusia: hak untuk makan, minum, dan hidup layak. Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun dilarikan ke klinik hanya karena memakan plastik bekas pembungkus makanan. Ia tidak gila. Ia hanya lapar.

Peringatan yang Diabaikan

PBB, WHO, dan Program Pangan Dunia telah memperingatkan: Gaza sedang memasuki fase kelaparan menyeluruh. Bantuan makanan yang bisa masuk hanya 10% dari kebutuhan. Namun truk-truk bantuan dibiarkan menumpuk di perbatasan, terhalang oleh birokrasi dan kekejaman yang tidak masuk akal.

Michael Fakhri, pelapor khusus PBB untuk hak atas pangan, mengatakan, “Ini adalah kelaparan yang dirancang secara sistematis, belum pernah kita lihat sejak Perang Dunia.” Tapi dunia tetap tidak bergerak. Dunia memilih sibuk dengan isu-isu lain, membiarkan Gaza sekarat secara perlahan.

(T.RS/S:Palinfo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya