Jalur Gaza, SPNA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melayangkan peringatan keras kepada Israel. Dalam wawancara dengan Time Magazine, ia menegaskan bahwa Washington akan menghentikan seluruh bentuk dukungan jika Tel Aviv tetap melangkah untuk mencaplok wilayah Tepi Barat.
“Hal itu tidak akan terjadi. Saya sudah berjanji kepada negara-negara Arab, dan kami mendapat dukungan besar dari mereka. Jika Israel tetap melakukannya, mereka akan kehilangan semua dukungan dari Amerika Serikat,” ujar Trump dalam wawancara yang dilakukan pada 15 Oktober lalu dan dipublikasikan hari ini.
Peringatan itu datang di tengah ketegangan politik di Israel, setelah Knesset mengesahkan pada pembacaan awal rancangan undang-undang penerapan “kedaulatan Israel” atas sebagian wilayah Tepi Barat.
RUU itu diajukan anggota parlemen sayap kanan Avi Maoz dan disetujui tipis, 25 suara setuju, 24 menolak. Padahal, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebelumnya sudah memerintahkan anggota koalisi untuk menolak rancangan tersebut. Namun, sejumlah politisi Likud seperti Yuli Edelstein tetap mendukungnya.
Langkah Knesset itu memicu kegelisahan di Washington. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan bahwa pemungutan suara tersebut bisa mengguncang kesepakatan gencatan senjata di Gaza yang ditengahi Amerika beberapa pekan lalu.
“Tindakan semacam ini justru menghambat upaya menuju perdamaian permanen. Melangkah ke arah itu sekarang hanya akan menjadi bumerang,” kata Rubio sebelum bertolak ke Israel.
Nada serupa disampaikan Wakil Presiden AS JD Vance. Ia mengaku “merasa dibohongi” karena sebelumnya diberi tahu bahwa pemungutan suara itu hanya simbolis. “Saya diberi tahu bahwa ini hanya untuk kepentingan politik dalam negeri. Jika begitu, itu keputusan yang sangat bodoh,” ujarnya.
Dari pihak Israel, suara dukungan justru datang dari kubu ultranasionalis. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir menyebut langkah parlemen itu “sebuah kebanggaan”. “Pemerintah kanan sedang melakukan hal yang benar untuk rakyat Israel. Dan hal yang benar saat ini adalah menerapkan kedaulatan penuh di Tepi Barat,” katanya.
Namun, di balik euforia kelompok sayap kanan, tekanan dari Washington membuat Netanyahu kalang kabut. Menurut sumber diplomatik, ia sudah memerintahkan penundaan sementara seluruh proyek “kedaulatan” di Tepi Barat, menyusul kemarahan Gedung Putih yang menilai langkah tersebut bisa menggagalkan stabilisasi politik pasca gencatan senjata di Gaza.
Rencana aneksasi ini kembali menyingkap jurang perbedaan antara ambisi blok kanan Israel dan kebijakan Amerika yang tengah berusaha menjaga peta kekuatan regional tetap tenang. Di balik layar, hubungan kedua sekutu lama itu kini diuji oleh satu pertanyaan yang menggantung: seberapa jauh Washington rela menoleransi langkah sepihak Tel Aviv atas tanah yang bukan miliknya.