Tel Aviv, SPNA – Sebanyak 22 tentara aktif Israel dilaporkan bunuh diri sepanjang 2025, angka tertinggi dalam 15 tahun terakhir, menurut laporan harian Haaretz pada Jumat (02/01/2026).
“Pejabat militer memperingatkan bahwa tahun ‘pascaperang’ yang akan datang akan menjadi periode yang menantang bagi kesehatan mental personel militer,” tulis surat kabar tersebut.
Selama dua tahun terakhir, tentara Israel terlibat dalam kejahatan perang terhadap penduduk sipil Palestina di Gaza, yang didorong oleh seruan dari otoritas, tokoh rabi, dan figur media untuk memusnahkan penduduk Palestina di wilayah tersebut.
Dalam kasus terbaru, seorang prajurit wajib militer yang bertugas sebagai tentara tunggal di Korps Zeni Tempur ditemukan meninggal akibat bunuh diri di wilayah selatan Israel pada Rabu (01/01/2026).
Jumlah bunuh diri pada tahun lalu merupakan yang tertinggi sejak 2010, ketika 28 tentara mengakhiri hidupnya menyusul genosida Israel di Gaza pada tahun tersebut, yang secara resmi dikenal sebagai Operasi Cast Lead.
Berdasarkan data militer Israel, dari 22 kasus bunuh diri pada 2025, sebanyak 12 dilakukan oleh prajurit wajib militer, sembilan oleh personel cadangan, dan satu oleh prajurit karier.
Delapan tentara dilaporkan bunuh diri saat berada di pangkalan militer. Lima di antaranya tengah berada dalam pemantauan petugas kesehatan mental, termasuk seorang operator drone senior yang mengakhiri hidupnya setelah menyatakan tidak lagi mampu menanggung dampak pengalaman tempur, tulis Haaretz.
Pada September lalu, sejumlah dokter asing yang kembali ke negara asal setelah menjadi relawan di Gaza menyatakan bahwa mereka kerap menangani anak-anak Palestina yang menjadi sasaran tembakan di bagian kepala atau dada oleh pasukan Israel.
Ahli patologi forensik yang dikonsultasikan oleh surat kabar Belanda Volkskrant meninjau hasil rontgen dan mengonfirmasi bahwa luka-luka tersebut konsisten dengan tembakan penembak jitu jarak jauh atau serangan drone, bukan serpihan akibat ledakan.
“Ini bukan kerusakan tambahan (collateral damage). Ini disengaja,” ujar mantan komandan Angkatan Darat Belanda, Mart de Kruif.
Menurut sumber militer yang dikutip Haaretz, “banyak dari mereka yang meninggal akibat bunuh diri terpapar adegan dan insiden pertempuran yang sangat berat, yang kemungkinan besar berdampak pada kesehatan mental mereka”.
Data militer Israel tersebut tidak mencakup tentara yang bunuh diri setelah meninggalkan dinas aktif. Tercatat, sedikitnya 15 mantan tentara yang terlibat dalam genosida tersebut juga mengakhiri hidupnya pada 2025, akan tetapi setelah masa tugas tempur mereka berakhir.
Tentara yang bunuh diri di luar masa dinas aktif tidak dikategorikan sebagai “prajurit gugur” dan tidak berhak atas pemakaman militer, termasuk upacara penghormatan yang dipimpin komandan militer serta peletakan karangan bunga khusus di makam.
(T.FJ/S: Haaretz, The Cradle)