Tentara Israel Jadi Algojo Jalanan Tepi Barat, Lansia Palestina Dihajar Sampai Meregang Nyawa

Excavator merobohkan bangunan milik warga Palestina di desa al-Samua, sebelah selatan Khalil, Tepi Barat yang diduduki, pada 8 April 2025 (AFP/Hazem Bader).

Tepi Barat, SPNA –  Tanpa kehadiran Hamas di Tepi Barat, namun Kebiadaban militer Israel tidak berhenti. Ghazi Bader Manasra, seorang pria Palestina berusia 71 tahun, meninggal dunia akibat serangan jantung setelah dipukuli secara brutal oleh tentara pendudukan Israel. 

Menurut laporan Middle East Eye, Selasa (08/04/2025),  enam warga Palestina di Betlehem diserang oleh tentara Israel menggunakan tongkat dan popor senapan. Ghazi Manasra termasuk di antara korban luka, sebelum akhirnya mengalami stroke dan wafat di rumah sakit beberapa saat kemudian.

Foto Ghazi Bader Manasra (70) yang gugur setelah dianiaya prajurit Israel (sumber: X)
Foto Ghazi Bader Manasra (70) yang gugur setelah dianiaya prajurit Israel (Sumber: X)

 

Sebuah video yang beredar luas memperlihatkan tentara Israel tanpa ampun memukuli warga yang mencoba menghalangi penghancuran rumah. Anak korban, Hamam Manasra, mengatakan bahwa ayahnya sempat dipukul di bagian dada, kepala, dan kaki. 

Usai mundur dari kerumunan dan duduk di sebuah kursi untuk menyaksikan rumah yang dibangun dengan jerih payah keluarganya diratakan, Ghazi mengalami serangan jantung fatal.

“Ayah saya tidak memiliki riwayat penyakit. Dia meninggal karena guncangan luar biasa dan perlakuan biadab tentara Israel,” ujar Hamam.

Tiga dari enam korban luka lainnya harus dirawat inap akibat luka serius. Serangan terhadap warga sipil seperti ini kembali menegaskan bahwa tindakan Israel bukan semata-mata operasi penegakan hukum, melainkan kebijakan sistematis yang bertujuan menggusur warga Palestina dari tanah mereka sendiri.

Kekejaman Terstruktur: Penggusuran Paksa Bermotif Politik

Militer Israel beralasan rumah yang dihancurkan berada di Area C dan dibangun tanpa izin. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas permohonan izin bangunan dari warga Palestina ditolak mentah-mentah oleh otoritas pendudukan Israel, sementara permukiman ilegal Israel justru terus diperluas tanpa hambatan.

Rekam video detik-detik penganiyaan terhadap keluarga Manasra di Tepi Barat, (sumber: X)
Rekam video detik-detik penganiyaan brutal terhadap keluarga Manasra di Tepi Barat, (Sumber: X)

Muhammad Manasra, pemilik rumah yang dihancurkan, mengungkapkan bahwa ia telah mengajukan banding ke Mahkamah Agung Israel sejak Oktober 2023, namun tetap gagal menghentikan rencana penghancuran. 

Ia mengatakan bahwa rumah tersebut dibangun untuk keluarganya yang berjumlah lima orang, karena rumah keluarga besar yang mereka tinggali sudah tidak mencukupi. “Ini bukan tentang hukum atau keamanan, ini agenda politik kolonial. Tujuannya jelas: mengosongkan Palestina dari rakyatnya,” tegas Muhammad. 

“Mereka tidak hanya menghancurkan rumah, mereka menghancurkan kehidupan.”

Muhammad juga menyoroti manipulasi administratif Israel yang membagi wilayah desa menjadi Area B dan C sebagai siasat untuk merebut lahan rakyat Palestina. 

Rumah miliknya dan pamannya hanya terpaut beberapa meter, namun diberi klasifikasi administratif yang berbeda agar rumahnya dapat dihancurkan secara ‘legal’.

Selama penghancuran, tentara Israel juga menembakkan gas air mata ke warga yang hanya berdiri menyaksikan. Beberapa warga dipukul dan didorong secara paksa.

“Saya pikir salah satu sepupu saya mati karena pukulan yang diterimanya,” ujar Muhammad. “Paman saya, Ghazi, terpukul secara fisik dan emosional saat menyaksikan rumah kami dihancurkan. Detik berikutnya, dia tumbang dan tidak pernah bangkit lagi.”

Tepi Barat Tanpa Hamas, Namun IDF Terus Melakukan Kekerasan

Sejak awal tahun 2024 hingga April 2025, setidaknya 490 warga Palestina tewas di Tepi Barat, sebagian besar akibat serangan dan penggerebekan militer Israel. Ini merupakan angka kematian tertinggi dalam dua dekade terakhir di wilayah tersebut.

Sementara itu, dalam kesaksian menggemparkan di hadapan Komisi Penyelidikan PBB pada 11 Maret 2025, Kifeya Khraim dari organisasi Women’s Centre for Legal Aid and Counselling (WCLAC) mengungkap pola kekerasan seksual sistematis yang dilakukan tentara Israel terhadap perempuan Palestina di Tepi Barat. Kasus-kasus mencakup pemaksaan untuk telanjang saat penggerebekan rumah, pelecehan di pos pemeriksaan, tindakan merendahkan yang direkam secara paksa, hingga ancaman pemerkosaan di depan anggota keluarga.

Kesaksian juga menyoroti bagaimana kekerasan seksual ini digunakan bukan hanya untuk mengintimidasi perempuan, tetapi juga sebagai alat perang psikologis untuk menghancurkan moral dan struktur sosial masyarakat Palestina. Di sebuah insiden pada Juli 2023, tentara wanita Israel bersama anjing-anjing besar memaksa sejumlah perempuan Palestina di Tepi Barat berjalan telanjang di dalam rumah mereka sendiri. Praktik-praktik ini, menurut para saksi, merupakan bagian dari strategi militer yang disengaja dan bukan sekadar pelanggaran individual.

Menurut data dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), lebih dari 1.200 rumah dan struktur Palestina telah dihancurkan oleh Israel sepanjang tahun 2023, menyebabkan ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Penghancuran rumah terus meningkat seiring eskalasi perang di Gaza, yang dijadikan dalih oleh Israel untuk mempercepat pembersihan etnis di wilayah pendudukan Tepi Barat.

(T.RS/S:Wafanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya