Gaza, SPNA – Israel sedang membangun koridor militer baru di Gaza, memisahkan kota-kota seperti Jabalia, Beit Hanoun, dan Beit Lahia di bagian utara Gaza dari Gaza City di tengah. Gambar satelit yang dianalisis oleh BBC Verify mengungkapkan informasi tersebut.
Dalam laporan yang dipublikasikan pada 29 November 2023, BBC melaporkan bahwa “Gambar satelit dan video menunjukkan bahwa ratusan bangunan dihancurkan antara Laut Mediterania dan perbatasan Israel, sebagian besar melalui ledakan terkendali”.
Tentara Israel Menguasai Koridor Baru untuk Memecah Gaza Menjadi Beberapa Zona
Pasukan dan kendaraan penjajah Israel kini menduduki koridor baru tersebut. Para analis menduga bahwa militer Israel menggunakan koridor ini untuk membagi Gaza menjadi zona-zona yang memudahkan kontrol serta mencegah para pengungsi Palestina yang terpaksa meninggalkan rumah untuk kembali.
Israel sebelumnya sudah membangun dua koridor militer lainnya untuk membagi Gaza menjadi zona-zona terpisah. Koridor Netzarim memisahkan Kota Gaza di bagian tengah Jalur Gaza dengan Khan Yunis di selatan Jalur Gaza. Koridor Philadelphi memisahkan Rafah di selatan Jalur Gaza dari Mesir, memberi kontrol kepada pasukan Israel atas perbatasan Mesir dan Pos Perlintasan Rafah yang penting. Sebagian besar bantuan kemanusiaan sebelumnya masuk melalui Pos Perlintasan Rafah. Sebelum ditutup Israel, penduduk Palestina yang terluka dapat meninggalkan zona perang melalui pos ini untuk mendapatkan perawatan medis di luar negeri melalui Mesir.
Rencana Jangka Panjang Israel: Menghalangi Kembalinya Lebih dari 100.000 Pengungsi Palestina ke Gaza Utara
Dr. H.A. Hellyer, seorang ahli keamanan Asia Barat dari think tank RUSI (The Royal United Services Institute), mengatakan kepada BBC bahwa gambar satelit menunjukkan Israel sedang membangun koridor tersebut untuk menghalangi lebih dari 100.000 warga Palestina yang telah diusir dari rumah mereka di Gaza Utara untuk kembali.
Hellyer menambahkan bahwa tentara Israel “bersiap untuk jangka panjang. Saya benar-benar membayangkan bahwa bagian utara akan berkembang persis seperti Koridor Netzarim.”
Implementasi Rencana Jenderal Israel: Langkah untuk Mencaplok Gaza Secara Permanen?
Pembangunan koridor baru di Gaza Utara yang dimulai pada Oktober bertepatan dengan pelaksanaan Rencana Jenderal. Berdasarkan strategi yang dirancang oleh mantan jenderal Giora Eiland, tentara Israel mengeluarkan perintah agar semua warga Palestina meninggalkan Gaza Utara. Sementara itu, mereka yang tidak mampu atau menolak untuk pergi akan dikepung, dibom, dan dibiarkan kelaparan.
Dr. Hellyer menyarankan bahwa implementasi Rencana Jenderal membuka kemungkinan untuk aneksasi permanen Gaza dan dimulainya pemukiman Yahudi di sana dalam waktu dekat.
“Secara pribadi, saya rasa mereka akan mendatangkan pemukim Yahudi ke utara (Gaza), mungkin dalam 18 bulan ke depan. Mereka tidak akan menyebutnya pemukiman. Awalnya, mereka akan menyebutnya pos atau apa pun, tapi itu yang akan terjadi, dan mereka akan berkembang dari sana,” kata Dr. Hellyer.
Menteri Keuangan Israel: Menekan Populasi Palestina di Gaza dengan Strategi Migrasi Sukarela
Pada awal pekan ini, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menyerukan “pemangkasan” populasi Palestina di Gaza dengan menduduki wilayah tersebut secara langsung dan mendorong migrasi yang disebut sebagai “migrasi sukarela”.
Smotrich, yang juga pemimpin pemukim dan gubernur de facto pendudukan Tepi Barat, mengungkapkan pernyataan tersebut pada 26 November dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Dewan Yesha, kelompok payung yang mewakili pemerintah kota-kota pemukiman ilegal Yahudi di Tepi Barat yang diduduki.
“Kemungkinan untuk menciptakan situasi di mana populasi Gaza akan berkurang setengahnya dalam dua tahun sangat terbuka. Menundukkan Gaza bukanlah kata kotor. Kita bisa menduduki Gaza dan mengurangi jumlah populasi hingga setengah dalam dua tahun melalui strategi yang memungkinkan ‘migrasi sukarela’,” kata Smotrich.
Menteri Keuangan Israel itu berpendapat bahwa jika “migrasi yang didorong” ini berhasil di Gaza, maka strategi tersebut dapat diterapkan di Tepi Barat, yang menjadi rumah bagi tiga juta warga Palestina.
Genosida Berlanjut dan Korban Jiwa Meningkat
Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Kamis (28/11), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 44.330 orang dan 104.933 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.
Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur, di mana lebih 796 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.
Israel juga melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel telah membunuh 3.767 penduduk Lebanon dan lebih dari 15.669 terluka sejak 8 Oktober 2023.
(T.FJ/S: The Cradle, Mondoweiss)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!