Tembus 1.000 Hari Horor di Gaza: 21.500 Anak Tewas, Ribuan Alami Amputasi

Seorang bayi, yang mengalami luka serius setelah serangan Israel menghantam tenda yang menampung pengungsi Palestina di daerah Al-Mawasi, Khan Yunis, dengan dua rudal, menerima perawatan di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza, Palestina pada 5 Juni 2026. [Khalil Ramzi Alkahlut – Anadolu Agency]

Gaza, SPNA — Genosida dan konflik bersenjata di Jalur Gaza telah mencapai titik kelam baru dengan melewati hari ke-1.000 sejak pecah pada 7 Oktober 2023. Kantor Media Pemerintah di Gaza merilis data terbaru yang menggambarkan skala kehancuran dan tragedi kemanusiaan yang nyaris tak terbayangkan di wilayah kantong tersebut.

Hingga hari ini, badai kekerasan telah merenggut nyawa 73.066 warga Palestina. Korban luka-luka pun melonjak tajam menyentuh angka 173.514 orang. Di tengah angka-angka yang mengerikan ini, anak-anak menjadi kelompok yang paling rapuh dan menderita.

Tragedi Generasi yang Hilang

Laporan resmi menunjukkan bahwa lebih dari 21.500 anak-anak tewas akibat serangan yang tak berkesudahan, termasuk di antaranya 1.022 bayi yang nyawanya terenggut sebelum sempat melihat dunia luar.

Selain korban jiwa, lebih dari 44.500 anak-anak dilaporkan terluka. Badan PBB untuk Anak-anak (UNICEF) merilis catatan yang memilukan: sekitar 11.000 anak menderita luka yang “mengubah hidup mereka selamanya”.

Diperkirakan ada hingga 4.000 kasus amputasi anggota tubuh pada anak-anak. Mirisnya, sebagian besar tindakan medis darurat tersebut terpaksa dilakukan tanpa fasilitas yang memadai, bahkan tanpa obat bius, akibat blokade total.

Gaza yang Rata dengan Tanah

Seiring meningkatnya korban jiwa, organisasi internasional terus menerus membunyikan alarm peringatan terkait memburuknya krisis kemanusiaan yang kian akut. Di bawah tanah Gaza, nestapa belum usai; sekitar 9.500 warga Palestina hingga kini masih dinyatakan hilang, terkubur di bawah reruntuhan beton yang mustahil dievakuasi dengan alat seadanya.

Secara fisik, wilayah Gaza kini nyaris tidak bisa dikenali lagi. Data resmi pemerintah setempat mengungkapkan:

  • Lebih dari 90 persen bangunan dan infrastruktur di seluruh Jalur Gaza telah rusak parah atau rata dengan tanah.
  • Sekitar 80 persen wilayah administratif Jalur Gaza saat ini berada di bawah kendali dan pendudukan militer Israel.

Kombinasi antara kehilangan tempat tinggal, tiadanya fasilitas medis, dan hancurnya ruang hidup menjadikan Gaza sebagai tempat paling berbahaya di bumi bagi anak-anak untuk bertahan hidup.

(T.RA/S: MEMO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya