Yerusalem, SPNA – Desa Palestina Mughayyir, yang terletak di timur laut Ramallah, mengalami kerusakan parah setelah tentara Israel menghancurkan sekitar 10.000 pohon zaitun milik penduduk Palestina di desa tersebut. Produksi minyak zaitun merupakan sumber pendapatan utama bagi sebagian besar keluarga di wilayah ini.
Menurut Asosiasi Petani setempat, pohon-pohon zaitun yang dihancurkan, beberapa di antaranya berusia hingga 100 tahun, berada di dataran timur desa. Penghancuran itu terjadi setelah tentara Israel memberlakukan jam malam pada hari Kamis, 21 Agustus 2025 dan melakukan penggeledahan rumah selama tiga hari berturut-turut, yang disertai penangkapan sejumlah penduduk Palestina, termasuk Wali Kota Mughayyir, Ameen Abu Alia.
Militer Israel mengklaim bahwa tindakan tersebut bertujuan untuk menangkap pelaku serangan terhadap seorang pemukim Israel di dekat desa. Namun, menurut laporan harian Haaretz, seorang pejabat tinggi militer Israel mengungkapkan bahwa penghancuran pohon-pohon itu dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan.
“Penebangan pohon dilakukan untuk memberi efek jera, bukan hanya kepada desa ini, tapi juga desa-desa lain yang mencoba melawan para pemukim Israel. Setiap desa harus tahu bahwa jika mereka melakukan serangan, mereka akan membayar harga yang mahal: akan dikenai jam malam dan dikepung,” ujar pejabat tersebut.
Serangan Berulang dan Pembatasan Akses
Desa Mughayyir telah menjadi target serangan tentara dan pemukim Israel selama setidaknya dua tahun terakhir. Sejak Oktober 2023, pemukim Israel telah beberapa kali menyerang desa ini, dengan serangan terbesar terjadi pada April 2024. Dalam serangan tersebut, para pemukim Israel merusak lumbung pertanian dan rumah-rumah penduduk serta menewaskan satu orang Palestina yang tengah mempertahankan rumahnya dari atas atap.
Sejak itu, akses penduduk desa ke lahan pertanian, khususnya ke kebun zaitun di wilayah timur, semakin dibatasi. Kini, seluruh dataran timur desa telah dinyatakan tidak dapat diakses oleh penduduk Palestina.
Desa Mughayyir terletak di lereng Lembah Yordan, dekat Jalan Allon yang dibangun Israel pada awal 1970-an dan membentang dari utara ke selatan Palestina, sejajar dengan tepi Lembah Yordan. Sejak 2019, pemerintah Israel menyatakan niatnya untuk mencaplok seluruh wilayah di sebelah timur Jalan Allon, termasuk seluruh Lembah Yordan.
Sejak Oktober 2023, pemukim Israel telah meningkatkan serangan terhadap komunitas pedesaan Palestina di wilayah ini, memaksa puluhan keluarga Badui Palestina meninggalkan tempat tinggal mereka dan mengosongkan wilayah tersebut dari kehadiran penduduk Palestina. Dalam beberapa bulan terakhir, serangan semakin terkonsentrasi di desa-desa yang berada di dekat jalan tersebut, disertai pembatasan akses penduduk ke lahan mereka.
Penghidupan yang Dilenyapkan
“Sekitar pukul 08.30 pagi, tentara penjajah (Israel) memasuki desa, memberlakukan jam malam, dan mulai menggeledah rumah-rumah. Beberapa rumah digeledah hingga tiga atau empat kali, dan banyak pemuda serta wali kota ditangkap. Sementara itu, buldoser-buldoser mulai mencabut pohon-pohon zaitun di dataran timur,” ujar Fayez Jabr, seorang petani dan penduduk desa Mughayyir kepada Mondoweiss.
“Mereka mencabut ribuan pohon di area seluas empat kilometer persegi, yang mencakup hingga separuh produksi zaitun desa. Semua keluarga di desa ini terdampak,” lanjut Jabr.
Jabr menambahkan bahwa tentara Israel juga menghancurkan pohon zaitun di bagian lain lahan pertanian desa.
“Empat bulan lalu, mereka mencabut 80 pohon zaitun milik saya dan sepupu saya di sebelah barat desa,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa tanah pertanian di selatan desa telah disita untuk pembangunan jalan baru bagi pemukim, yang menghubungkan ke pos pemukiman yang baru saja dibangun di atas taman bermain anak-anak milik desa.
“Tanah pertanian kami di selatan telah disita, dan akses ke lahan di barat pun dibatasi. Kini, lahan pertanian paling penting di dataran timur telah diratakan,” jelasnya.
Menurut Jabr, satu-satunya pohon zaitun yang tersisa berada di sekitar permukiman penduduk, di antara dan sekitar rumah-rumah.
“Sebelum Oktober 2023, keluarga saya biasa memproduksi hingga 80 tangki minyak zaitun, masing-masing berisi 16 liter. Namun dalam dua musim terakhir, kami hanya bisa menghasilkan sekitar 10 tangki,” kenangnya.
Dengan musim panen zaitun tahunan yang tinggal kurang dari dua bulan lagi, penghancuran ribuan pohon ini akan semakin menghantam industri lokal yang sudah terpukul.
“Tahun ini, kami akan beruntung jika bisa menghasilkan dua tangki saja,” ujar Jabr.
Perluasan Permukiman dan Kekerasan yang Meningkat
Peningkatan serangan terhadap lahan pertanian Palestina di Tepi Barat terjadi seiring dengan percepatan rencana ekspansi permukiman ilegal Israel. Pekan lalu, pemerintah Israel menyetujui pembangunan permukiman baru di wilayah strategis di Tepi Barat, sebelah timur Yerusalem, yang dikenal dalam peta Israel sebagai E-1.
Rencana ini merupakan bagian dari strategi lebih luas untuk memisahkan wilayah utara dan tengah Tepi Barat dari wilayah selatan, yang bertujuan menghilangkan kemungkinan terbentuknya negara Palestina yang berdaulat dan terhubung secara geografis. Proyek infrastruktur yang baru disetujui bahkan akan mengalihkan pergerakan penduduk Palestina di wilayah E-1 melalui jaringan terowongan.
Rencana permukiman E-1 akan menghubungkan permukiman ilegal Maale Adumim dengan Yerusalem, memperluas kehadiran pemukim Israel dari Yerusalem hingga Lembah Yordan, dan secara efektif membelah Tepi Barat menjadi dua bagian.
Menurut Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich, rencana ini bertujuan untuk “menghapus negara Palestina dengan tindakan, bukan hanya kata-kata.”
Sementara itu, serangan oleh pemukim Israel terhadap penduduk Palestina di Tepi Barat terus meningkat. Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), “jumlah bulanan penduduk Palestina yang terluka akibat serangan pemukim Israel meningkat lebih dari dua kali lipat pada Juni dan Juli 2025 (sekitar 100 orang), dibandingkan rata-rata 49 orang per bulan dari Januari hingga Mei 2025, dan 30 orang per bulan sepanjang 2024.”
Sejak Oktober 2023, tentara dan pemukim Israel telah menewaskan sedikitnya 1.000 penduduk Palestina di Tepi Barat, dan lebih dari 10.000 orang telah ditangkap.
Pohon Zaitun di Bawah Penjajahan Israel
Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2012 oleh Institut Penelitian Terapan Yerusalem (ARIJ) memperkirakan bahwa sejak tahun 1967, otoritas Israel telah mencabut 800.000 pohon zaitun Palestina di Tepi Barat.
Sumber lain (Environmental Fact Sheet, IMEU) menyebutkan bahwa sejak tahun 1967, total pohon yang dicabut di wilayah pendudukan (termasuk berbagai jenis) mencapai 2,5 juta pohon, dengan hampir 1 juta di antaranya adalah pohon zaitun. Organisasi Welfare Association memperkuat angka ini dengan estimasi 2,5 juta pohon, tanpa menyebut secara spesifik jenisnya.
Israel membangun permukiman ilegal di atas tanah Palestina dengan tujuan untuk mencaplok tanah Palestina yang tersisa di Tepi Barat dan menggagalkan berdirinya negara Palestina. Saat ini, lebih 750.000 pemukim Israel tinggal di setidaknya 250 permukiman Yahudi yang dibangun secara ilegal di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, Palestina yang diduduki.
Para petani Palestina dilarang mengakses sebagian besar tanah mereka di area yang dekat dengan permukiman yahudi tersebut, kecuali beberapa hari dalam setahun. Menurut kelompok hak asasi manusia HaMoked, tingkat persetujuan izin telah menurun selama bertahun-tahun. Pada tahun 2020, hanya 24 persen izin akses lahan yang disetujui.
(T.FJ/S: Mondoweiss, Aljazeera, IMEU)