Tak Ada Gencatan Senjata, Setiap Hari Pasukan Israel Teror Penduduk Palestina di Sepanjang “Garis Kuning”

Penduduk Palestina memandangi sekeliling dari sebuah rumah yang hancur di Kota Gaza, 7 Februari 2026. (Foto: AFP/Omar al-Qattaa)

Gaza, SPNA – Setiap malam, Hamed terlelap dengan kesadaran bahwa ledakan dan tembakan pasukan Israel kemungkinan besar akan membangunkannya berkali-kali.

Ia tinggal di sepanjang zona demarkasi yang ditetapkan Israel dan dikenal sebagai “Garis Kuning”, wilayah tempat pelanggaran gencatan senjata oleh Israel disebut telah menjadi rutinitas.

“Ledakan membangunkan orang setiap hari,” kata pemuda Palestina yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan kepada Middle East Eye.

“Kami juga mendengar peluru bersiul di atas kepala. Tembakan tidak berhenti sepanjang malam.”

Hamed, penduduk Palestina asal Khan Younis di Gaza selatan, mengatakan rentetan tembakan biasanya dimulai pada malam hari dan berlanjut hingga fajar, diselingi dentuman keras dari rumah-rumah yang dihancurkan di seberang garis tersebut.

Dalam satu kejadian, ia nyaris meninggal dunia ketika sebuah peluru menghantam rumahnya. “Syukurlah peluru itu mengenai dinding. Kalau menembus terpal plastik, salah satu dari kami pasti tertembak.”

Sejak gencatan senjata ditandatangani pada Oktober lalu, pasukan Israel disebut berulang kali melanggarnya melalui serangan udara, penembakan, penghancuran rumah, dan penahanan.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sedikitnya 591 orang meninggal dunia akibat serangan Israel sejak gencatan berlaku empat bulan lalu. Banyak dari korban jatuh di sekitar kawasan “Garis Kuning”.

Garis tersebut membentang di Gaza bagian utara, timur, dan selatan. Ia ditetapkan dalam perjanjian gencatan senjata sebagai batas penarikan sementara pasukan.

Pasukan Israel masih ditempatkan di belakang garis itu dan menguasai hingga 58 persen wilayah Gaza, sembari menunggu fase berikutnya dari gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat, yang mencakup penarikan lebih lanjut pasukan Israel.

Di lapangan, penduduk Palestina mengatakan garis itu telah bergeser semakin masuk ke wilayah Gaza, membatasi akses penduduk Palestina ke rumah dan lahan pertanian vital mereka. Pergeseran batas tersebut juga memicu pengungsian berulang, meninggalkan keluarga Palestina tanpa tempat tinggal yang stabil.

Bagi Hamed, bahaya terasa semakin dekat dalam beberapa pekan terakhir. Jika sebelumnya jaraknya hampir dua kilometer, kini kurang dari satu kilometer. Seiring pergeseran itu, intensitas tembakan meningkat.

“Sekarang kami bisa melihat tank saat mendekat, melepaskan tembakan, lalu mundur. Sangat menakutkan,” ujar pria 25 tahun itu.

Menurutnya, ancaman tersebut bersifat fisik sekaligus psikologis. Beberapa tetangganya terluka akibat tembakan saat berada di dalam rumah, memicu kepanikan dalam keluarganya.

“Keponakan-keponakan saya selalu berlari ke pangkuan ayah dan ibu saya untuk bersembunyi,” katanya.
“Kami tak berani naik ke atap untuk menyalakan api guna memasak atau menjemur pakaian. Kami berkumpul di ruangan yang menghadap barat, karena tentara berada di timur, untuk melindungi diri dari tembakan.”

Tak Ada Gencatan Senjata di Sini

Tindakan Israel di sepanjang Garis Kuning dan wilayah sekitarnya menuai kecaman kelompok hak asasi manusia. Lembaga HAM internasional Euro-Med Monitor menyebut pendekatan Israel sebagai “perampasan ilegal dan penjarahan sistematis sumber daya” wilayah pendudukan, yang melanggar hukum internasional.

Pengalaman Hamed juga dialami penduduk Palestina lainnya di berbagai penjuru Gaza, bukan hanya di Khan Younis. Di al-Bureij, Gaza tengah, pergeseran Garis Kuning baru-baru ini memicu gelombang pengungsian baru.

Khaled—juga meminta namanya dirahasiakan—telah selamat dari berbagai serangan, termasuk pengeboman rumahnya. Ia kerap mengunjungi pamannya yang tinggal dekat batas tersebut. Banyak penduduk Palestina telah meninggalkan kawasan itu akibat, menurutnya, tembakan membabi buta.

“Paman-paman saya harus meninggalkan rumah mereka. Sekarang rumah itu tepat di sebelah Garis Kuning. Tembakan tidak berhenti pada sore maupun malam hari,” ujarnya.

Ia mengenang kunjungan terbaru untuk memeriksa properti keluarga ketika tiba-tiba tembakan meletus.

“Kami bersembunyi di ruangan yang membelakangi posisi tentara, lalu berlari saat ada kesempatan.
Itu sering terjadi. Setiap kali tembakan dimulai, orang-orang menunggu momen untuk melarikan diri.”

Di kamp pengungsi al-Maghazi yang bertetangga, Houida Salim, ibu enam anak, mengatakan peluru hampir setiap hari melintas di atas rumahnya.

“Perang tidak pernah benar-benar selesai,” katanya. “Setiap kali kami mendengar deru tank, kami merasa seperti dipenjara di dalam rumah. Kami tak bisa keluar. Peluru mereka rutin menghantam rumah. Tidak ada gencatan senjata di sini.”

Di wilayahnya, Garis Kuning kini berjarak kurang dari satu kilometer.

“Kami tidak menjemur pakaian di atap karena takut menjadi sasaran tank,” ujar Salim. “Kadang mereka menggunakan tembakan dengan peredam suara, yang justru lebih mengerikan. Anak-anak tak bisa bermain di luar dengan aman.”

Bagi Salim, tak ada lagi tempat berlindung. Rumah keluarga besarnya di Deir al-Balah bagian timur, katanya, justru lebih berbahaya. “Kami sudah lima kali mengungsi selama perang. Saya tidak punya tempat lain untuk pergi.”

(T.FJ/S: MEE)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya