Survei: Mayoritas Warga Israel Setuju Akhiri Perang Jika Semua Tahanan Dibebaskan

Penduduk Palestina yang mengungsi kembali ke kota asal mereka, Rafah, pada hari pertama perjanjian gencatan senjata. (Foto: via QNN)

Tel Aviv, SPNA – Sebuah survei terbaru, sebagaimana dilansir RT Arabic, pada Minggu (23/02/2025), dari sumber Israel, mengungkapkan bahwa mayoritas warga Israel mendukung penghentian perang dengan imbalan pembebasan semua tawanan serta mempertahankan Hamas sebagai penguasa di Jalur Gaza. Namun, mereka juga menyetujui peningkatan operasi militer besar di Tepi Barat.

Survei ini dilakukan oleh Institut Mind Pool Israel, yang dipimpin oleh Profesor Yitzhak Katz, bekerja sama dengan kanal berita i24NEWS, menjelang berakhirnya tahap pertama kesepakatan pertukaran tahanan.

Survei tersebut mengkaji pandangan warga Israel mengenai kelanjutan perang di Gaza, pembebasan tawanan, serta situasi di Tepi Barat.

Hasilnya menunjukkan bahwa 53 persen warga Israel mendukung kesepakatan yang mencakup penghentian perang dan tetapnya Hamas di pemerintahan Gaza, sementara 30 persen menolak, dan 17 persen lainnya belum menentukan sikap.

Ketika ditanya tentang perlunya melanjutkan perang di Gaza sebelum semua tawanan dibebaskan, 60 persen responden menolak dimulainya kembali pertempuran saat ini, sedangkan 25 persen mendukung perang segera, dan 15 persen tidak memberikan pendapat yang jelas.

Terkait kondisi di Tepi Barat, 60 persen warga Israel menyetujui peluncuran operasi militer skala besar di wilayah tersebut, sementara 25 persen menentang, dan 15 persen masih ragu-ragu.

Survei ini dirilis di tengah persiapan kunjungan Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, yang dijadwalkan tiba di kawasan tersebut pada hari Rabu. Kunjungannya bertujuan untuk memperpanjang fase pertama kesepakatan pertukaran tahanan.

Omer Shem Tov mencium kepala dua pejuang Palestina di sebelahnya dan kemudian meniupkan ciuman ke arah kerumunan penduduk Palestina di Gaza, ketika pertukaran tahanan pada Sabtu (22/02/2025).

Sementara itu, pekan lalu, Netanyahu menangguhkan pembebasan 600 tahanan Palestina setelah Israel menerima tiga sandera dan empat jenazah yang dibebaskan Hamas di Gaza. Kantor Netanyahu menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil karena Hamas mengadakan “upacara pelepasan yang menghina,” sementara Hamas menuduh Netanyahu berusaha menghindari kewajiban yang telah disepakati dalam perjanjian gencatan senjata.

Pada Minggu malam (23/02), militer Israel mengumumkan peningkatan “kesiapan militer dan operasional” di sekitar perbatasan Gaza.

Pejabat senior Gerakan Perlawanan Palestina Hamas, Mahmoud Mardawi, pada Minggu (23/02), menegaskan bahwa Hamas tidak akan melakukan pembicaraan apa pun dengan Israel melalui mediator sebelum para tahanan Palestina yang dijanjikan untuk dibebaskan pada Sabtu (22/02) benar-benar dibebaskan.

Hamas menyatakan bahwa penundaan pembebasan gelombang ketujuh tahanan Palestina yang telah disepakati merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan di Telegram, Mardawi menegaskan bahwa tidak akan ada diskusi dengan Israel melalui perantara mengenai langkah-langkah lebih lanjut sebelum tahanan Palestina yang telah disepakati dibebaskan, sebagai bagian dari pertukaran dengan tahanan dan jenazah Israel yang telah diserahkan pada Sabtu. Ia menekankan bahwa mediator harus memaksa Israel untuk menjalankan kesepakatan.

(T.FJ/S: RT Arabic)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya