Sudah Satu Tahun Israel Menculik Dokter Hussam Abu Safiya, Mengapa New York Times Menolak Meliput Kasusnya?

Dokter Hussam Abu Safiya, Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Beita Lahia di utara Jalur Gaza. (Foto via media sosial)

Gaza, SPNA – Awal Januari tahun lalu, sebuah foto ikonik dari Gaza viral di seluruh dunia. Gambar itu memperlihatkan seorang pria mengenakan jas dokter putih berjalan tanpa senjata melintasi lanskap puing-puing menuju dua tank tentara Israel.

Pria itu adalah Dr. Hussam Abu Safiya, seorang dokter anak yang menjabat Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara. Ia berjalan menuju penangkapannya atau lebih tepatnya menculiknya. Setahun kemudian, Dr. Abu Safiya masih mendekam di penjara Israel. Ia tidak pernah didakwa secara resmi atas kejahatan apa pun. Menurut pengacaranya, berat badannya menyusut sepertiga dan ia menderita gangguan jantung.

Kampanye global menuntut pembebasan Dr. Abu Safiya telah bergulir. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut mengeluarkan seruan. Amnesty International yang menolak mewakili tahanan yang menggunakan atau menganjurkan kekerasan, menggelar kampanye khusus untuknya. Rekan-rekannya di bidang medis dan kesehatan masyarakat juga menuntut kebebasannya.

Tak satu pun kata tentang sosok luar biasa ini muncul di New York Times sejak 7 Januari 2025, ketika surat kabar itu memuat artikel yang melaporkan penangkapannya, akan tetapi pada kalimat pertama langsung menyertakan tuduhan Israel yang belum terbukti bahwa “kelompok militan menggunakan Rumah Sakit Kamal Adwan sebagai pusat komando.”

The Washington Post juga sepenuhnya mengabaikan Dr. Abu Safiya sejak penangkapannya, meskipun sebelumnya beberapa kali mengutip pernyataannya mengenai anak-anak di rumah sakitnya yang menderita dan meninggal akibat malnutrisi.

Dalam lanskap media saat ini, New York Times dan Washington Post semakin menentukan agenda pemberitaan di Amerika Serikat. Jaringan televisi kabel kerap mengangkat isu dari surat kabar rujukan tersebut terutama New York Times, alih-alih melakukan peliputan sendiri. Surat kabar regional seperti Chicago Tribune dan Los Angeles Times, yang dahulu menjadi penyeimbang, terpaksa menutup sebagian besar biro luar negerinya. Akibatnya, publik Amerika bergantung pada segelintir reporter yang jumlahnya terus menyusut.

Foto Dokter Hussam Abu Safiya yang viral di media sosial, memperlihatkan beliau mengenakan jas putih berjalan di tengah reruntuhan menuju tank-tank Israel yang mengepung Rumah Sakit Kamal Adwan di Beita Lahia, utara Jalur Gaza. (Foto via X).

Dokter Hussam Abu Safiya bukanlah sosok yang tak dikenal. Ia figur penting di Gaza dan memiliki jejaring kuat dengan kolega internasional di bidang medis dan kesehatan masyarakat. Dengan sebuah ponsel, siapa pun dapat menghubungi banyak narasumber yang bisa dijadikan sumber untuk menulis profil dirinya. Artikel-artikel itu juga dapat memuat fakta bahwa ia tetap bertahan di posnya meski putranya sendiri, Ibrahim, tewas dalam serangan udara Israel, bersama puluhan staf rumah sakit lainnya.

Sebaliknya, ia seolah dihapus dari keberadaan publik. Mengapa? Kita tak bisa memastikan, tetapi dugaan yang masuk akal adalah bahwa Dokter Abu Safiya yang merupakan seorang dokter anak, dapat menghabiskan setahun terakhir memberikan kesaksian ahli yang menggugah tentang bagaimana perang Israel di Gaza membuat anak-anak mati kelaparan. Ia juga bisa membantah laporan ofensif di sejumlah media Amerika yang mengklaim anak-anak Gaza yang meninggal memiliki penyakit bawaan dan sebenarnya tidak terlalu kelaparan. Oleh karena itulah, Israel dapat dipahami ingin membungkamnya, dan menahannya tanpa komunikasi serta tanpa dakwaan selama setahun.

Lalu, mengapa pers Amerika ikut menekan dan membungkam pandangannya? Para veteran New York Times mengakui bahwa 90 persen penyensoran diri terkait Palestina berlangsung tanpa diucapkan. Para reporter dan editor di Amerika yang ambisius dan cerdas sangat mengerti bahwa reputasi sebagai “anti-Israel” atau “pro-Palestina” bisa merusak, bahkan mengakhiri karier mereka.

Penyensoran diri media Amerika tampak semakin memprihatinkan jika dibandingkan dengan bagaimana surat kabar terkemuka Israel, Haaretz, justru meliput kasus ini. Pada Juli lalu, misalnya, reporter Nir Hasson mewawancarai pengacara Dokter Abu Safiya, Gheed Kassem, yang menyatakan kliennya “menderita kelaparan parah dan perlakuan kasar” di penjara Israel.

Ia juga mengatakan Abu Safiya dipukuli, mengalami detak jantung tidak teratur, serta ditahan bersama tahanan lain di sebuah sel “bawah tanah yang membuatnya dan rekan-rekannya kehilangan akses terhadap cahaya matahari”.

(T.FJ/S: Mondoweiss)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya