Status Darurat Perang Dicabut, Netanyahu Kembali Hadapi Sidang Kasus Korupsi 

Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu. (Foto: Yonatan Sindel/Flash90)

Tel Aviv, SPNA – Sidang kasus korupsi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang telah berlangsung selama bertahun-tahun akan kembali digelar pekan ini, setelah Israel mencabut status darurat menyusul gencatan senjata dengan Iran. Hal itu dilaporkan Reuters pada Kamis (09/04/2 April.

“Dengan dicabutnya status darurat dan kembalinya sistem peradilan beroperasi, persidangan akan dilanjutkan seperti biasa,” demikian pernyataan pengadilan Israel.

Sidang dijadwalkan berlangsung antara hari Minggu hingga Rabu setiap pekan.

Netanyahu pertama kali didakwa pada 2019 atas tuduhan suap, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan setelah melalui penyelidikan bertahun-tahun. Persidangan yang dimulai pada 2020 itu berulang kali tertunda, terutama akibat perang Israel di Gaza yang dimulai pada Oktober 2023.

Persidangan yang berpotensi menyeret Netanyahu ke penjara itu kembali tertunda setelah ia bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari.

Tel Aviv kemudian menetapkan status darurat, yang kembali menghentikan proses persidangan perdana menteri, di tengah antisipasi serangan balasan berupa rudal dan drone dari Iran.

Trump dan Netanyahu juga sama-sama mendesak Presiden Israel Isaac Herzog untuk memberikan pengampunan kepada perdana menteri, dengan alasan kehadiran rutin di pengadilan mengganggu pelaksanaan tugasnya.

Kantor Herzog menyatakan bahwa departemen pengampunan di kementerian kehakiman akan menghimpun berbagai pandangan sebelum menyerahkannya kepada penasihat hukum presiden untuk dirumuskan menjadi rekomendasi.

Tuduhan terhadap Netanyahu telah merusak posisinya di dalam negeri, menjelang pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang. Menurut Reuters, koalisi Netanyahu—yang mencakup tokoh pemukim religius Itamar Ben Gvir dan Bezalel Smotrich—diperkirakan akan kalah dalam pemilu tersebut.

Bersama Netanyahu, Smotrich dan Ben Gvir juga mendorong perpanjangan perang Israel serta secara terbuka menyerukan penghancuran Gaza dan pembersihan etnis warga Palestina dari wilayah tersebut maupun dari Tepi Barat.

Sejumlah pengkritik Netanyahu di Israel menilai ia berupaya memperpanjang perang di Gaza agar persidangannya tidak kembali digelar, sehingga ia dapat mempertahankan kekuasaannya.

(T.FJ/S: The Cradle)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya