Tel Aviv, SPNA – Serangan rudal balistik hipersonik yang diluncurkan oleh kelompok Houthi dari Yaman, Minggu (04/05/2025), telah berhasil menembus sistem pertahanan udara canggih Israel dan menghantam Bandara Internasional Ben Gurion di Tel Aviv.
Serangan ini menandai titik balik dalam konflik yang sebelumnya terbatas di Gaza, kini merembet ke jantung Israel, mengguncang stabilitas politik dan militer Zionis. Pihak Houthi mengklaim serangan ini sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina di Gaza yang menderita akibat serangan Israel sejak Oktober 2023.
Ledakan dahsyat yang terjadi di dekat Terminal 3 Bandara Ben Gurion menyebabkan kerusakan signifikan dan memaksa penutupan sementara bandara utama Israel tersebut.
Rudal yang ditembakkan dari wilayah Yaman berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel yang biasanya sangat efektif, termasuk Iron Dome dan sistem Arrow buatan Amerika Serikat. Meskipun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, serangan ini melukai beberapa warga Israel dan menyebabkan kepanikan massal di sekitar area bandara. Beberapa penerbangan internasional dibatalkan, dan fasilitas transportasi ke Yerusalem dihentikan.
Serangan ini menjadi simbol kegagalan Israel dalam menjaga klaim tentang keunggulan pertahanan udara yang selama ini dibanggakan, dan menambah ketidakpastian di dalam negeri yang sudah dilanda ketegangan politik.
Respons Israel dan Amerika Serikat
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji akan membalas serangan ini dengan kekuatan yang lebih besar dan menargetkan kelompok Houthi serta pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab, terutama Iran, yang diduga mendukung milisi tersebut.
Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel, segera melakukan serangan udara terhadap posisi-posisi Houthi di Yaman. Serangan ini menyasar beberapa provinsi seperti Saada, Hudaidah, dan Marib, menyebabkan jatuhnya korban jiwa di kalangan sipil. Amerika Serikat juga terus menggempur Yaman dengan lebih dari 1.300 serangan udara dan laut sebagai upaya untuk menghentikan serangan rudal Houthi terhadap Israel.
Meski begitu, serangan-serangan ini tidak berhasil menghentikan Houthi dari melancarkan lebih banyak serangan terhadap Israel dan kapal-kapal yang menuju pelabuhan Israel.
Sementara itu, Houthi mengklaim bahwa serangan ini adalah bentuk solidaritas mereka terhadap warga Palestina di Gaza yang menghadapi genosida sistematis sejak serangan Israel dimulai pada 7 Oktober 2023.
Lebih dari 52.000 warga Palestina dilaporkan tewas dalam pembantaian, dengan sebagian besar korban adalah anak-anak dan perempuan. Selain itu, lebih dari 11.000 orang masih dinyatakan hilang. Dalam pernyataannya, Houthi menegaskan bahwa serangan mereka adalah upaya untuk mengirimkan pesan kepada dunia mengenai penderitaan rakyat Palestina.
Dampak Geopolitik
Serangan rudal ini mengungkap kelemahan dalam pertahanan Israel dan memperburuk ketegangan yang sudah ada di kawasan Timur Tengah.
Kehadiran kelompok Houthi yang mampu meluncurkan serangan jarak jauh ini menunjukkan bahwa milisi non-negara semakin berdaya untuk mempengaruhi dinamika geopolitik di kawasan tersebut. Perang ini tidak hanya melibatkan Israel dan Gaza, tetapi juga mencakup Iran, Hizbullah, dan negara-negara lain di kawasan tersebut, yang berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut.