Gaza, SPNA – Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza pada hari Selasa (21/04/2026) pagi melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat genosida Israel di wilayah tersebut telah melonjak menjadi 72.560 jiwa sejak dimulai pada 7 Oktober 2023. Jumlah korban luka juga telah bertambah menjadi 172.317 jiwa.
Dalam 24 jam terakhir tercatat bahwa rumah sakit telah menerima tujuh jenazah warga sipil dan 21 orang yang terluka akibat serangan militer Israel yang terus berlanjut.
Jumlah korban yang terus bertambah menggambarkan tragedi kemanusiaan yang sangat mengerikan. Tim medis dan penyelamat menghadapi kesulitan besar untuk menjangkau korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan atau tergeletak di jalanan tanpa pertolongan.
“Banyak korban masih belum dapat dijangkau,” demikian pernyataan resmi kementerian, menandakan bahwa jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.
Sejak perjanjian gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober 2025, setidaknya 784 warga Palestina telah tewas, dan 2.214 lainnya terluka.
Sistem kesehatan Gaza kini berada di ambang kehancuran total. Rumah sakit kekurangan obat-obatan, peralatan medis, dan tenaga kesehatan. Banyak fasilitas medis rusak atau tidak lagi berfungsi akibat serangan berulang.
Di ruang-ruang darurat yang penuh sesak, tenaga medis bekerja tanpa henti di bawah tekanan luar biasa. Kisah para dokter yang harus memilih pasien mana yang bisa diselamatkan menjadi gambaran nyata dari krisis ini.
Organisasi kemanusiaan internasional mengecam keras pembatasan akses bantuan medis dan menilai kondisi ini sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional, yang mewajibkan perlindungan terhadap warga sipil dan fasilitas kesehatan dalam konflik bersenjata.
Seruan global untuk membuka akses kemanusiaan tanpa hambatan terus menguat, seiring meningkatnya kekhawatiran akan runtuhnya sistem kesehatan sepenuhnya di Gaza.
(T.RA/S: PIC)